Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 56


__ADS_3

Arini pun menceritakan semua yang terjadi antara dirinya, Dodi dan Anissa tanpa ada yang ia tutup-tutupi lagi dari Nyonya Arniz.


"Selama ini saya sudah cukup bersabar menghadapi sikap tidak menyenangkan dari Ibu mertua saya. Selain itu, Ibu juga sering sekali menyebut saya sebagai wanita mandul. Padahal saya dan Mas Dodi sudah pernah cek kesehatan ke Dokter Spesialis dan hasilnya baik saya maupun Mas Dodi baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan kami. Mungkin Tuhan memang belum bersedia menitipkan seorang bayi ke dalam rahim saya," tutur Arini dengan wajah sedih.


"Dan sekarang, kesabaran saya diuji lagi dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Mas Dodi dan Anissa, wanita yang sudah saya percayai seperti adik sendiri," lanjut Arini.


Nyonya Arniz menghela napas berat. Ternyata informasi yang ia dengar dari salah satu anak buahnya itu benar. Nasib Arini memang benar-benar tragis.


"Kenapa kamu tidak pergi saja dari rumah itu, Arini? Maafkan aku, tapi aku pikir Ibu mertuamu memang sejak dulu tidak menginginkan dirimu dan sekarang suami yang menjadi tempat bersandarmu pun sudah berkhianat di belakangmu. Lalu apa yang membuatmu tetap bertahan di sana? Jujur, jika aku berada di posisimu, aku akan pergi dari rumah itu."


Arini menundukkan kepalanya untuk sejenak. Ia menarik napas dalam sambil mengangkat kepalanya kembali. "Sebenarnya saya pun sudah tidak tahan dan ingin pergi dari tempat itu, Nyonya. Namun, keadaan memaksa saya agar tetap bertahan di sana. Saya tidak tahu harus minta bantuan kepada siapa sebab saya sudah tidak memiliki sanak saudara," lirih Arini.


"Kenapa kamu berkata seperti itu, Arini? Lihat aku!" Nyonya Arniz tampak kesal, ia meraih wajah Arini dan menatapnya dengan lekat. "Mulai hari ini jangan bilang bahwa kamu sendiri! Aku ada di sini dan siap membantumu, Arini. Jika tempat itu membuatmu tertekan, lebih baik tinggalkan! Memang aku terdengar sangat jahat, tetapi aku ingin yang terbaik untukmu!"

__ADS_1


"Itulah salah satu alasan kenapa saya mencari pekerjaan, Nyonya. Saya butuh uang untuk membayar kontrakan. Setelah saya punya uang cukup, saya pun akan pergi dari rumah itu. Lagi pula Mas Dodi sudah memiliki sebuah keluarga yang utuh, seorang istri yang cantik dan seorang anak yang begitu menggemaskan. Sementara saya ... saya hanya akan menjadi pengganggu untuk mereka," tutur Arini. Walaupun ia sangat malu kepada Nyonya Arniz, tetapi ia harus tetap mengatakannya.


"Kenapa kamu tidak bilang, Arini! Aku bisa membantumu dan soal uang, kamu mau berapa? Sebutkan saja," sahut Nyonya Arniz dengan begitu antusias.


Arini menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Nyonya! Aku tidak ingin merepotkan Nyonya. Lagi pula, aku takut tidak bisa mengembalikan uang itu," lirih Arini lagi.


Nyonya Arniz memutarkan bola matanya. "Soal itu kamu tidak usah khawatir. Aku tidak akan meminta kamu untuk mengembalikannya! Yang penting bagiku saat ini, kamu terlepas dari rumah setan itu! Tinggalkan rumah itu, rumah itu tidak sehat untuk jiwa dan ragamu, Arini! Percayalah padaku! Yang ada nantinya kamu akan stress dan semakin tertekan. Apa kamu senang melihat suamimu bercumbu mesra bersama istri barunya? Sementara Ibu mertuamu semakin melunjak karena sudah memiliki seorang cucu idaman? Sementara kamu?! Hah, kalo aku ada di posisimu, aku sudah gila."


"Sudah, ikuti saja saranku. Besok, bawa barang-barangmu! Aku akan carikan rumah kontrakan untukmu dan soal uangnya, kamu bisa cicil tanpa bunga sedikitpun, bagaimana?" lanjut Nyonya Arniz dengan setengah memaksa.


Akhirnya Arini pun menganggukkan kepalanya. Walaupun ia masih merasa tidak enak karena merepotkan wanita itu. "Baiklah, Nyonya. Untuk mengganti uang Nyonya, Nyonya bisa potong gaji saya nantinya," jawab Arini yang masih tampak ragu-ragu.


Wanita itu tersenyum puas. "Begitu donk, Arini. Entah kenapa aku sangat senang bisa membantu seseorang sepertimu. Apa kamu tahu, Suci pernah ada di posisi sepertimu dan sekarang ia sudah hidup bebas tanpa tekanan. Huh, tapi itu pun aku yang memaksanya! Aku memang terdengar sangat kejam, tetapi aku ingin yang terbaik untuk kalian. Aku tidak suka ketika melihat seorang wanita diperlakukan dengan semena-mena hanya karena kekurangan yang mereka miliki," tutur Nyonya Arniz lagi.

__ADS_1


Arini menautkan kedua alisnya. "Memangnya Suci kenapa, Nyonya?"


"Mantan suami Suci itu suka main serong! Udah itu pengangguran pula dan ia mempertahankan Suci hanya untuk dijadikan tulang punggung keluarga lelaki itu. Mengenaskan, bukan! Aku kesal, hampir tiap hari aku membujuk Suci untuk meninggalkan lelaki itu. Walaupun awalnya Suci kekeh bertahan atas dasar cinta. Namun, akhirnya ia sadar bahwa apa yang ia perjuangkan selama ini hanya sia-sia saja. Sekarang, Suci sudah bebas dari lelaki itu dan bisa hidup tenang," ungkap Nyonya Arniz dengan semangat empat lima saat menceritakan hal itu kepada Arini.


"Oh, syukurlah. Aku ikut senang mendengarnya," jawab Arini.


"Ya, sekarang giliran kamu, Arini! Buktikan pada mereka bahwa kamu bisa hidup sukses tanpa bantuan dari suamimu yang pengkhianat itu," ucap Nyonya Arniz dengan setengah kesal.


"Ya, semoga saya bisa."


"Bisa! Pasti!" jawab Nyonya Arniz dengan keyakinan penuh.


...***...

__ADS_1


__ADS_2