Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 111


__ADS_3

Sebuah cincin sederhana mencuri perhatian Arini. Bentuknya simpel dan tidak terlalu mencolok, tetapi tetap terlihat begitu cantik ketika cincin itu melingkar di jari manisnya. Selain itu ukurannya pun sangat pas di jari manisnya.


"Aku ingin yang ini, tapi ...." Arini melirik harga yang tertera di cincin tersebut dan ia pun segera melepaskannya.


"Tidak jadi," ucap Arini sambil tersenyum kecut.


Bagaimana tidak, cincin itu memang tampak biasa. Akan tetapi harga sungguh luar biasa. Wanita yang menemani Arini memilih cincin tersebut, terkekeh pelan.


"Kenapa harga cincin itu lebih mahal dari yang lain, Mbak?" tanya Arini pelan. Ia begitu penasaran padahal cincin itu sangat menarik perhatiannya.


"Karena berlian yang ada di cincin itu bukanlah berlian biasa, Nona. Berlian itu sangat sulit didapatkan. Bahkan kami bisa pastikan bahwa Anda tidak akan pernah bisa menemukan cincin seperti itu di toko manapun selain di toko ini," jelas wanita itu.


Arini mengangguk pelan. Kemudian kembali memperhatikan cincin itu dengan seksama. Ya, memang terlihat berbeda dari yang lain. Walaupun bentuknya simpel, tetapi terlihat sangat cantik.


"Ya, sudah. Yang lain saja, aku rasa itu terlalu mahal," ucap Arini sembari mengembalikan cincin itu ke tempat asalnya dengan sangat hati-hati.


"Tidak apa-apa, Nona. Silakan," ucap wanita itu.


Ternyata Tuan Malik memperhatikan mereka dan ia tahu Arini menyukai cincin yang baru saja diletakkan kembali oleh karyawan toko tersebut. Sementara Arini kembali memilih-milih, Tuan Malik menghampiri cincin berlian mahal tersebut.


"Apakah Arini menyukai cincin ini?" tanya Tuan Malik kepada karyawan yang bertugas menjaga etalase, di mana cincin itu di letakkan.


"Sepertinya begitu, Tuan. Tetapi ia membatalkannya karena harganya terlalu mahal."

__ADS_1


"Mana sini, coba aku lihat."


Wanita itu pun segera mengambil cincin tersebut kemudian menyerahkannya kepada Tuan Malik. Tuan Malik memperhatikannya dengan seksama dan ia pun tersenyum tipis.


"Aku ambil yang ini dan satu lagi untukku. Tapi punyaku yang polos saja," ucap Tuan Malik kepada wanita itu.


"Baik, Tuan."


Sementara wanita itu mempersiapkan cincin tersebut, Tuan Malik menghampiri Arini yang masih kebingungan mencari cincin yang tepat untuknya.


"Sudah menemukan cincin yang kamu sukai, Arini?" tanya Tuan Malik.


Arini menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum kecut. "Ehm, sebenarnya belum, Tuan. Tapi, jika Tuan ingin kita kembali sekarang, saya bisa memilihnya dengan cepat. Yang penting pas di jari saya," jawab Arini.


Arini membulatkan matanya dan ia tidak percaya bahwa ternyata lelaki itu sudah memilihkan cincin untuknya. "Benarkah? Ya, saya pasti akan sangat menyukainya, Tuan," jawab Arini dengan wajah semringah.


"Ya, semoga saja begitu."


Setelah melakukan pembayaran, Tuan Malik mengajak Arini kembali ke mobilnya. Walaupun ia belum tahu seperti apa bentuk dan rupa cincin yang dibelikan oleh Tuan Malik untuknya, tetapi entah kenapa Arini begitu senang saat itu.


Di dalam mobil.


"Ehm, setelah ini kita mau kemana lagi, Tuan?" tanya Arini tanpa sungkan sedikit pun.

__ADS_1


Seiring waktu, rasa sungkan yang sering Arini rasakan pun mulai berkurang. Ia mulai merasa nyaman saat berada di samping Tuan Malik. Ya, walaupun Arini tidak tahu bagaimana perasaan lelaki itu ketika bersama dirinya. Sebab ekspresi Tuan Malik sungguh sangat sulit ditebak. Hanya Tuhan dan lelaki itu sendiri yang tahu bagaimana isi hatinya.


"Fitting gaun pengantin untukmu," jawab Tuan Malik sembari membuka paper bag perhiasan yang tadi diberikan oleh karyawan toko tersebut.


Tuan Malik mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berbentuk kotak berwarna gold dari paper bag tersebut, yang berisi dua buah cincin untuknya dan juga dan Arini.


"Ini cincinmu, semoga kamu menyukainya," ucap Tuan Malik seraya menyerahkan kotak perhiasan tersebut kepada Arini.


Arini pun segera menyambutnya sambil tersenyum hangat. "Terima kasih, Tuan."


Arini membuka kotak perhiasan tersebut dan setelah kotak perhiasan itu terbuka, mata Arini pun terbelalak. Ia begitu terkejut setelah tahu bahwa cincin yang tadi begitu mencuri perhatiannya, kini ada di depan matanya.


"Tu-Tuan Malik, cincin ini--" Arini berhenti bicara karena tiba-tiba saja Tuan Malik menyela ucapannya.


"Kamu menyukainya?" Tuan Malik tersenyum tipis menatap Arini yang masih syok setelah mendapatkan cincin tersebut.


"Aku sangat menyukai, Tuan. Tapi, cincin ini harganya ...."


"Tidak usah kamu pikirkan. Yang penting kamu menyukainya," jawab Tuan Malik sembari memalingkan wajahnya lurus ke depan.


Arini benar-benar kehabisan kata-kata. Ia hanya bisa tersenyum sambil menatap wajah Tuan Malik. Walaupun selama ini lelaki itu tidak pernah terdengar mengucapkan kata-kata manis, tetapi sikapnya sudah membuktikan bahwa lelaki itu memang benar-benar sangat manis.


...***...

__ADS_1


__ADS_2