Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 53


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Dodi? Kamu tidur di sini, ya?" pekik Bu Nining ketika melihat Dodi yang memilih tidur di sofa ruang televisi.


Dodi mengucek matanya kemudian mencoba tersenyum kepada wanita paruh baya tersebut. "Tidak kok, Bu. Aku bangun kepagian dan akhirnya memilih duduk di sini sambil menunggu pagi. Tapi, akhirnya aku malah ketiduran lagi," jawab Dodi berbohong.


Bu Nining memutarkan kedua bola matanya. "Ya, sudah. Sebaiknya kamu segera bersiap," lanjut Bu Nining kemudian.


Bu Nining melangkahkan kakinya menuju dapur dan wanita itu kembali menekuk wajahnya ketika melihat Bi Surti bekerja sendirian di ruangan itu. "Apa Arini tidak membantumu lagi, Surti?" tanya Bu Nining.


Bi Surti yang sedang asik menggoreng ikan, segera menoleh ke arah Bu Nining. Pelayan itu tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak apa-apa kok, Bu Nining. Lagi pula ini sudah menjadi pekerjaan dan saya masih bisa mengerjakannya sendiri," jawab Bi Surti.


"Ya, kamu memang benar, Surti. Tapi, kalau dibiarkan, bisa-bisa wanita itu benar-benar menjadi pemalas dan senang ungkang-ungkang kaki tanpa melakukan apapun," kesal Bu Nining.


Bi Surti tersenyum kecut. Ia tidak mengerti bagaimana Bu Nining masih bisa berkata seperti itu. Padahal saat ini Arini sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Sementara wanita paruh baya itu sama sekali tidak peduli.


Sementara itu, Arini tengah bersiap di dalam kamarnya. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan setelan seragam kerja yang diberikan oleh Nyonya Arniz kemarin. Kemeja ketat berwarna putih yang melekat erat di tubuhnya dengan paduan rok span berwarna hitam pendek selutut.

__ADS_1


Tak lupa, sepatu wedges pantofel yang kini membalut kaki mulus wanita itu. Sepasang sepatu yang sengaja di berikan oleh Nyonya Arniz untuknya karena sudah bersedia berkerja di butik wanita itu.


Beberapa menit kemudian.


Setelah mengambil tasnya, Arini pun bergegas keluar dari kamar. Dengan langkah mantap, Arini terus menelusuri ruangan demi ruangan yang ada di kediamannya itu. Semantap hatinya yang ingin menyongsong kehidupan baru. Hingga akhirnya ia berpapasan dengan Anissa yang baru saja keluar dari kamar.


Wanita itu menekuk wajahnya ketika bersitatap mata dengan Arini. Anissa kesal karena ia pikir tadi malam Dodi sudah menghabiskan malamnya bersama istri pertamanya itu. Sementara Arini tampak tidak peduli. Ia tidak peduli apapun reaksi Anissa saat itu.


Selain kesal, Anissa pun terlihat bingung dengan penampilan Arini yang terlihat seperti seorang wanita karir. Terlihat cantik dan menakjubkan. Arini terus melangkahkan kakinya, sementara Anissa masih berjalan di belakang Arini dengan jarak yang cukup jauh.


Ketika melewati ruang makan, penampilan Arini kembali menjadi pusat perhatian. Dodi dan Bu Nining yang ternyata sudah berkumpul di sana segera bangkit dari kursinya dan mencoba menghampiri wanita itu.


"Arini, kamu mau kemana lagi?" tanya Dodi dengan wajah heran memperhatikan penampilan Arini yang terlihat sangat cantik. Bukan hanya Dodi, Bu Nining pun terlihat bingung. Wanita itu bahkan menatap Arini tanpa berkedip sedikitpun.


"Mulai hari ini aku akan bekerja, Mas Dodi. Jadi, Mas tidak usah terlalu mengkhawatirkan aku. Jika aku terlambat pulang, itu artinya aku masih bekerja," jawab Arini mantap.


"Bekerja apa, di mana?" sela Bi Nining kemudian. Namun, Arini tidak menjawab. Wanita itu sudah pergi meninggalkan mereka di ruangan itu.

__ADS_1


"Sebenarnya kerja apa 'sih dia? Aku jadi penasaran, memangnya ada ya, yang bersedia menerima lulusan SMP," gumam Bu Nining sambil terkekeh pelan seolah-olah meremehkan pekerjaan Arini.


"Iya, Bu. Pertanyaan yang sama. Aku juga sempat berpikir seperti itu. Sekarang ini, jangankan SMP, yang tamatan SMA aja susah cari pekerjaan," sambung Anissa yang baru saja tiba di ruang makan kemudian mengambil posisi di salah satu kursi.


Dodi yang tadinya hanya diam terpaku setelah mendengar penuturan Arini, kini segera menyusul wanita itu.


"Arini! Sebenarnya kamu kerja apa dan di mana? Aku bisa mengantarkanmu jika kamu mau. Kita bisa pergi bareng," ucap Dodi yang melangkah dengan cepat, mencoba mensejajarkan langkahnya bersama Arini.


"Tidak usah, Mas," jawab Arini mantap.


"Tapi, kenapa? Jangan bilang kamu lebih memilih pergi bareng Hendra dibandingkan aku, suamimu?"


"Karena jalan kita tidak searah. Sama seperti hidup kita saat ini, jalan hidup kita sudah tidak lagi searah, Mas."


Setelah mengucapkan hal itu, Arini pun kembali melangkah dan meninggalkan Dodi yang kini kembali terpaku di tempatnya berdiri.


...***...

__ADS_1


__ADS_2