Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 112


__ADS_3

Kini pasangan itu tiba di sebuah butik milik seorang Designer ternama. Butik yang khusus menjual setelan jas serta gaun pengantin. Tuan Malik sudah memesan setelan jas untuknya dan kebaya pengantin untuk Arini. Dulu ketika Tuan Malik menikah dengan Nyonya Arniz, mereka pun memesan setelan jas serta kebaya pengantin di butik tersebut.


"Aku sudah memesan setelan jas untukku serta kebaya pengantin untukmu. Aku pilih warna silver dengan sedikit kombinasi berwarna gold. Aku harap kamu menyukainya. Tapi jika kamu tidak menyukainya, kita bisa menggantinya," tutur Tuan Malik sembari melangkah memasuki butik tersebut bersama Arini.


"Saya ikut apa pun pilihan Anda, Tuan," jawab Arini sambil tersenyum.


Tuan Malik tersenyum tipis, tapi masih seperti biasa. Lelaki itu tidak menoleh sedikitpun kepada Arini. Hanya Arini saja yang suka memperhatikan ekspresi lelaki itu.


Baru beberapa langkah mereka memasuki butik tersebut, seorang karyawan di butik itu segera menghampiri dan menyambut kedatangan mereka dengan hangat.


"Tuan Malik?" tanya wanita itu dengan senyuman yang terus mengembang di wajahnya.


"Ya, saya Malik. Yang kemarin sudah memesan jas serta gaun pengantin untuk kami berdua," jawab Tuan Malik.


"Baik. Mari, ikuti saya."


Wanita itu menuntun Tuan Malik dan Arini ke sebuah ruangan, di mana sang pemilik butik sedang sibuk memasang payet-payet di sebuah gaun pengantin.


"Mas Vani, ini Tuan Malik Abraham."


Lelaki bertubuh tinggi besar, tetapi gemulai itu membalikkan badannya kemudian menatap Tuan Malik dan Arini secara bergantian sambil tersenyum hangat.

__ADS_1


"Wah, Tuan Malik! Waktunya pas sekali. Jas serta kebaya pengantin milik kalian baru saja selesai dikerjakan dan sekarang sudah bisa dicoba. Jika masih ada yang dirasa kurang pas atau kurang puas, kita bisa memperbaikinya."


Lelaki tampan nan gemulai itu menunjuk ke arah sepasang manekin yang berdiri di salah satu sudut ruangan. Ia kemudian mengajak Arini dan Tuan Malik untuk menghampiri manekin tersebut.


"Bagaimana hasilnya menurut Anda, Tuan Malik? Apakah setelan jas serta kebaya pengantin ini memuaskan?" tanya Vani, Designer sekaligus pemilik butik.


"Aku selalu puas dengan hasil karyamu, Vani. Dan tidak pernah sekalipun aku meragukannya," jawab Tuan Malik.


"Kalau begitu kita coba saja. Terutama untuk sang mempelai wanita," ucap Vani sembari melirik Arini yang sejak tadi hanya terdiam karena takjub akan keindahan kebaya pengantin buatan lelaki gemulai itu.


Tuan Malik dan Arini mencoba setelan jas serta gaun pengantin berwarna silver berkombinasi gold tersebut di ruang berbeda. Setelah mereka mengenakannya, mereka pun kembali ke ruangan tersebut.


Vani menghampiri Arini dan mulai melakukan pengecekan. "Bagaimana menurut Anda, Nona Arini? Apakah ada bagian yang harus kami perbaiki? Ya, mungkin karena tidak nyaman saat dikenakan, terlalu kecil atau terlalu besar. Jika, ya, katakan saja. Agar kami bisa memperbaikinya."


"Saya rasa sudah pas, Mas. Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi," jawab Arini.


"Kalau hasil payetnya?" tanya Vani lagi.


"Ya, aku juga suka dan sangat puas." Arini tersenyum semringah.


Tanpa Arini sadari Tuan Malik sejak tadi terus memperhatikan dirinya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. Arini yang sedang asik berbincang bersama Vani, menoleh ke arah Tuan Malik. Sontak lelaki itu memalingkan wajahnya dan seolah tidak terjadi apapun.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan pengecekan terhadap Arini, sekarang Vani menghampiri Tuan Malik.


"Calon istri baru Anda sangat cantik ya, Tuan Malik. Saya rasa dia sangat serasi dengan Anda."


"Dia adalah wanita pilihan mendiang istriku, Van. Kami tidak saling mengenal dan kini kami harus saling mengenal dan terikat dalam suatu ikatan yang begitu suci," tutur Tuan Malik.


Vani tersenyum sambil memperhatikan tampilan Tuan Malik saat mengenakan setelan jas buatannya. "Seiring waktu cinta pasti akan datang dan menghampiri kalian, jika kalian memang ingin membuka hati kalian masing-masing."


Tuan Malik mengangguk pelan sambil mencebikkan bibirnya. "Ya. Semoga saja. Lalu kamu, kapan kamu menyusul? Ini adalah pernikahan ke dua-ku. Sementara dirimu masih saja betah berstatus single, Van."


Lelaki gemulai itu menghembuskan napas kasar sambil menekuk wajahnya menatap Tuan Malik. "Aku tunggu duda-mu, Mas Malik! Ahaayyy!"


Tuan Malik menekuk wajahnya. "Jangan macam-macam kamu, Vani. Jangan sampai aku membatalkan transferan-ku."


"Eh, jangan-jangan, Tuan Malik. Saya hanya bercanda," jawabnya sambil terkekeh pelan. "Bisa rugi banyak jika Anda tidak mentransfer duit saya."


Setelah selesai melakukan fitting, mereka pun segera pamit. Rencananya Tuan Malik ingin mengajak Arini makan siang.


"Kamu mau makan apa, Arini?" tanya Tuan Malik sembari membukakan pintu mobilnya untuk Arini.


"Apa saja, Tuan Malik. Yang penting mengenyangkan karena saat ini saya sangat lapar," jawab Arini sambil menahan malu.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu." Tuan Malik pun segera masuk dan duduk di samping Arini.


...***...


__ADS_2