
"Permisi, Tuan, Nona." Seorang pelayan meletakkan semangkuk besar sup ke atas meja.
Arini terdiam sejenak sambil memperhatikan mangkuk sup yang diletakkan tepat di hadapannya dengan seksama. Entah mengapa Arini merasa tidak asing dengan masakan itu. Baik dari aromanya ataupun potongan-potongan sayur serta warna kuahnya.
Perlahan Arini menoleh ke arah pelayan yang tadi meletakkan mangkuk sup tersebut ke atas meja dan ternyata pelayan itu sudah melenggang pergi.
"Bi Surti?" panggil Arini sembari bangkit dari tempat duduknya.
Pelayan itu menghentikan langkahnya dan terdiam untuk beberapa detik. Pelayan itu membalikkan badan dan berdiri dengan posisi saling berhadapan dengan Arini.
"Non Arini?!"
Wanita paruh baya itu bergegas menghampiri Arini dan memeluknya dengan penuh rasa haru. Bukan hanya Bi Surti, Arini pun begitu terharu. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia bisa bertemu lagi dengan Bi Surti. Seorang wanita yang selama ini selalu memberikan semangat ketika ia jatuh dan terpuruk.
Tuan Malik yang tadinya sedang asik menikmati makan malamnya, tiba-tiba berhenti dan memperhatikan momen penuh haru tersebut sambil tersenyum tipis.
"Ya, Tuhan! Bibi tidak menyangka bahwa kita bisa bertemu lagi, Non."
"Aku juga, Bi. Bukankah dulu Bibi pernah pamit padaku dan bilang ingin kembali ke kampung halaman Bibi. Aku pikir Bibi memang sudah berada di kampung," jawab Arini sembari melerai pelukannya bersama wanita paruh baya tersebut.
Bi Surti menoleh melirik Tuan Malik untuk beberapa detik sambil tersenyum kemudian kembali menatap Arini.
"Ketika Bibi ingin kembali ke kampung halaman, tidak sengaja Bibi bertemu mendiang Nyonya Arniz. Entah karena kasihan atau apa, beliau tiba-tiba menawarkan pekerjaan kepada Bibi untuk bekerja di rumah ini sebagai ART-nya. Dengan senang hati Bibi pun menerimanya," jawab Bi Surti dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ya, Bi. Mendiang Nyonya Arniz memang sangat baik. Aku pun bisa berdiri hingga saat ini karena bantuannya," tutur Arini.
Ehem!
Tuan Malik berdehem. Ia tidak ingin kedua wanita itu meneruskan cerita mereka tentang kebaikan mendiang Nyonya Arniz. Sebab jika ia ingat tentang mendiang istrinya itu, maka kesedihannya pun akan kembali menguasai hatinya.
"Sebaiknya kita lanjutkan makan malam kita, Arini."
"Baik, Mas."
Arini mengerti apa maksud Tuan Malik saat itu. Ia pun kembali duduk di kursi dan melanjutkan makan malamnya bersama lelaki itu. Sementara Bi Surti pun kembali ke dapur dan melanjutkan tugasnya.
Makan malam pasangan itu begitu hening. Tak ada pembicaraan yang dilakukan oleh Arini maupun Tuan Malik pada saat itu. Keduanya bungkam dengan pikiran mereka masing-masing. Hanya terdengar dentingan suara garpu dan sendok yang beradu di atas mangkuk dan piring.
Karena merasa bosan dengan suasana di ruangan itu, Arini pun memberanikan diri untuk membuka percakapan dengan suaminya tersebut.
"Hmmm." Tuan Malik masih asik dengan makan malamnya.
"Berhubung ada Bi Surti di sini, bolehkah aku membantunya memasak di dapur?"
Uhuk-uhuk!
Tiba-tiba Tuan Malik tersedak setelah mendengar permintaan Arini barusan. Bukannya menolak, hanya saja kejadian dulu ketika di rumah Arini, membuat Tuan Malik mengalami sedikit trauma dan tidak mempercayai istrinya itu ikut membantu di dapur.
__ADS_1
Arini bergegas bangkit dari kursinya kemudian menghampiri Tuan Malik. Ia mengambilkan air minum lalu menyerahkannya kepada suaminya itu. Tak lupa, Arini juga memberikan pijatan lembut di punggung lelaki itu agar tersedaknya bisa berhenti.
Setelah agak mendingan, Tuan Malik pun segera menjawab pertanyaan dari Arini.
"Ehm, sebaiknya tidak usah, Arini. Di sini sudah ada beberapa orang pelayan, termasuk Bi Surti. Mereka sudah punya tugas masing-masing," jawab Tuan Malik, masih menetralkan napasnya.
Arini menarik napas dalam kemudian menghembuskannya. Dia tahu apa yang ada di balik alasan suaminya itu.
"Hmm, baiklah kalau begitu. Tapi, setelah ini apa yang harus aku lakukan di sini? Aku tidak mungkin cuma ungkang-ungkang kaki 'kan, Mas?"
Arini kembali ke posisinya karena Tuan Malik sudah mulai baikan. Ia duduk di sana dan kembali menikmati makan malamnya.
"Lakukan apa saja yang membuatmu senang."
Huft! Arini kembali menghela napas.
"Baiklah."
Selang beberapa saat, acara makan malam mereka pun usai.
"Arini, kamu duluan saja." Tuan Malik melirik jam tangannya. "Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," lanjut Tuan Malik ketika berada di dasar tangga.
Arini menautkan alisnya. Ingin proses, tetapi tidak berani. "Ya, sudah. Aku duluan ya, Mas."
__ADS_1
Pasangan itu pun berpisah dan melangkah ke tujuan mereka masing-masing.
...***...