Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 63


__ADS_3

Di dapur, Anissa memasak sambil terus menggerutu. Ia kesal karena akhirnya ia harus bergelut ke dapur juga. Padahal selama ini ia paling anti jika harus bergelut di ruangan itu.


"Kalau tahu bakal begini, mending aku menikah dengan orang lain saja! Aku bersedia menikah sama Mas Dodi karena aku berharap kehidupanku menjadi lebih baik. Tapi, kenyataannya malah jadi begini," kesal Anissa sembari meletakkan wajan penggorengan ke atas kompor dengan kasar.


Anissa membuka lemari pendingin dan mencoba mencari bahan-bahan yang akan ia masak hari ini. Namun, ia tidak menemukan apapun selain telur. Itu pun hanya tersisa tiga biji.


"Astaga! Hanya telur? Hhh," kesal Anissa sembari meraih telur tersebut kemudian membawanya ke penggorengan.


Sementara itu, Dodi masih pusing memikirkan keberadaan Arini. Ia bahkan belum bersiap sama sekali. Dodi terdiam di depan pintu utama rumahnya sambil memikirkan ke mana tujuan Arini saat itu. Tiba-tiba Dodi melihat Hendra yang tengah keluar dari rumahnya. Lelaki itu ingin memanaskan mesin mobilnya.


Entah kenapa saat itu pikiran Dodi langsung tertuju pada lelaki itu. Tiba-tiba saja ia yakin bahwa Hendra lah yang membawa lari Arini. Dodi yang sudah mulai dikuasai emosi, segera melangkahkan kakinya menuju kediaman Bu Ria dan Hendra.


"Mas Dodi!" sapa Hendra sambil tersenyum hangat kepada Dodi yang kini memasuki halaman rumahnya.


Namun, lelaki itu sama sekali tidak ingin membalas senyuman apa lagi sapaannya. Malah sebaliknya, wajah lelaki itu tampak memerah menahan amarahnya.


Tanpa disangka-sangka oleh Hendra, secara tiba-tiba Dodi menyerang dan meluncurkan sebuah bogeman mentah ke wajahnya. Hendra yang tidak sempat mengelak, akhirnya terpental ke belakang. Lelaki itu jatuh dengan hidung yang kini mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


"Di mana kamu menyembunyikan istriku, ha!" ucap Dodi dengan setengah berteriak. Lelaki itu hampir saja melakukan penyerangan untuk kedua kalinya kalau saja Bu Ria tidak keluar dari rumahnya.


Bu Ria yang menyadari adanya keributan di depan rumahnya, bergegas keluar. Dan ternyata benar, Dodi tengah membuat keributan di sana. Sementara Hendra masih dalam posisi duduk di tanah sambil memegangi wajahnya yang sakit akibat tamparan Dodi saat itu.


"Apa yang kamu lakukan, Dodi! Kenapa kamu memukul Hendra!" kesal Bu Ria sembari menghampiri anak lelakinya itu dan mencoba membantunya bangun dari posisinya.


"Tanyakan itu pada anakmu, Bu Ria! Tanyakan apa yang sudah ia lakukan!" sahut Dodi dengan emosi yang meledak-ledak.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Hendra? Kenapa Dodi memukulmu?" tanya Bu Ria dengan wajah cemas menatap Hendra yang masih meringis kesakitan.


Dodi tersenyum sinis. "Heh, masih bisa mengelak rupanya! Jangan sok menjadi anak baik di hadapan Ibumu, Hendra! Sekarang katakan yang sebenarnya. Di mana kamu menyembunyikan Arini! Aku tahu selama ini kamu memiliki perasaan lain terhadap istriku. Jangan-jangan kamu yang selama ini terus mengompori istriku agar ia semakin membenciku! Dan jangan bilang kalau kalian memang memiliki hubungan spesial di belakangku, iya?!" kesal Dodi.


Mendengar adanya keributan di halaman depan rumah Bu Ria, beberapa tetangga mulai berkumpul dan memperhatikan keributan itu dari kejauhan sambil menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa itu benar, Hendra?" pekik Bu Ria dengan wajah serius menatap anak lelakinya itu.


Hendra menggelengkan kepalanya dengan cepat sembari membalas tatapan Bu Ria. "Tidak, Bu. Itu tidak benar! Aku bahkan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mas Dodi."

__ADS_1


"Sudah! Jangan bersandiwara lagi, cepat katakan di mana kamu menyembunyikan Arini! Arini menghilang dan aku yakin kamu pasti ada sangkut pautnya," ucap Dodi yang masih bersikeras mengatakan bahwa Hendra lah yang menyembunyikan istrinya.


"Ya Tuhan, Mas Dodi! Demi Tuhan, demi Ibuku, aku tidak menyembunyikan Arini. Aku bahkan tidak tahu bahwa Arini pergi dari rumah Mas Dodi," sahut Hendra dengan jujur.


"Jangan menuduh Hendra seenaknya jika kamu tidak punya bukti, Dodi!" sambung Bu Ria yang ikut kesal karena lelaki itu terus menuduh anaknya yang tidak-tidak.


"Ya! Mungkin saat ini aku tidak punya bukti yang kuat. Tapi, jika suatu saat nanti apa yang aku katakan ini terbukti benar, maka aku tidak akan segan-segan melaporkanmu, Hendra!" tegas Dodi.


Bu Nining yang sedang asik menggendong Azkia, segera berlari kecil menuju kediaman Bu Ria setelah mendengar suara teriakan Dodi. Dengan wajah cemas Bu Nining menghampiri Dodi dan mencoba menenangkan anak lelakinya itu.


"Dodi, apa yang kamu lakukan? Kamu ini malu-maluin aja, Dod!" Bu Nining meraih tangan Dodi dan ingin mengajaknya kembali ke kediamannya. "Maafkan Dodi, Bu Ria," ucap Bi Nining kemudian.


"Ayo, Dod, sebaiknya kita pulang!" ucap Bu Nining sembari menarik tangan Dodi.


Dodi mendengus kesal dan akhirnya mengikuti Bu Nining yang kini menuntunnya kembali ke kediamannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2