
Di kediaman Tuan Malik
Tuan Malik terdiam sambil memangku wajahnya dengan kedua tangan. Ia menatap lekat Tia yang masih sesenggukan di hadapannya. Wanita itu sudah menceritakan semuanya kepada Tuan Malik, dari A sampai Z. Tidak dikurang atau pun dilebih-lebihkan.
Sementara Arini duduk di samping Tia sambil mengelus kedua pundaknya, mencoba menenangkan wanita itu sekaligus memberikan dukungan.
"Lalu sekarang apa rencanamu?" tanya Tuan Malik.
Tia menggeleng pelan sembari menyeka air matanya. "Aku tidak tahu lagi, Ayah. Maafkan aku."
"Sekarang aku bertanya padamu, bagaimana jika suatu saat Toni datang lagi kepadamu dan meminta rujuk?" tanya Tuan Malik dengan serius.
Tia mengangkat kepalanya yang tertunduk kemudian membalas tatapan Tuan Malik.
"Aku tidak mau, Ayah. Aku masih bisa memaafkan dirinya karena sudah memanfaatkan aku sebagai mesin pencetak uangnya. Namun, jika ia sudah berani bermain tangan serta bermain wanita di luaran sana, aku benar-benar sudah tidak bisa menoleransinya lagi. Walaupun dia menangis darah, aku tidak akan pernah sudi menerima dirinya kembali," tutur Tia dengan tegas.
Tuan Malik menghembuskan napas panjang. "Maafkan aku, Tia. Kamu memang lah bukan siapa-siapaku dan aku juga tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu. Namun, biar bagaimana pun aku masih peduli karena kamu adalah anak angkat sekaligus keponakan dari mendiang Arniz. Kali ini aku akan membantumu, tetapi aku bisa pastikan ini adalah bantuan terakhir dariku jika kamu masih bodoh dengan memberikan kesempatan dan kembali pada Toni."
"Tidak, Ayah. Aku berani berjanji padamu bahwa aku tidak akan pernah kembali pada Mas Toni lagi!" ucap Tia yakin.
Tuan Malik pun mengangguk dan memegang janji Tia. "Baiklah. Untuk malam ini kamu bisa tinggal di sini bersama kami. Besok aku akan carikan rumah baru untuk kalian, serta mengurus gaji karyawan butik yang terbengkalai. Tapi ingat lah, Tia. Setelah ini belajarlah untuk mandiri. Urus butik dengan baik dan untuk sementara ini jangan pikirkan yang lain dulu. Fokuslah pada dirimu, Putri dan masa depan kalian berdua."
"Ya, Ayah. Aku akan ingat itu."
__ADS_1
***
Satu bulan kemudian.
"Aku senang sekali, Mas. Akhirnya Tia benar-benar sudah bisa mengurus dirinya sendiri dan juga Putri," ucap Arini yang kini sedang bersandar di dada bidang Tuan Malik.
Sementara Tuan Malik sendiri bersandar di sandaran tempat tidur dengan telanjang dada. Ia mengelus lembut puncak kepala Arini dan sesekali melabuhkan ciuman hangatnya di sana.
"Ya, aku juga. Pokoknya, selama Toni masih berada di belakang Tia, Tia tidak akan pernah bisa hidup tenang. Oh ya, ngomong-ngomong soal Toni, aku punya kabar terbaru tentang dia."
Arini mendongakkan kepalanya kemudian menatap Tuan Malik. "Apa itu?"
"Baru-baru ini para petugas kepolisian menggerebek tempat perkumpulan Toni dan teman-temannya atas dasar laporan warga yang merasa terganggu dengan aktivitas mereka. Kata warga, Toni dan teman-temannya suka menggelar pesta miras serta barang haram di tempat itu. Toni ikut diamankan karena ia kedapatan memiliki serta menggunakan benda tersebut," tutur Tuan Malik.
"Benar kah? Apa Tia sudah tahu berita ini?" tanya Arini yang semakin penasaran.
"Wah, benar-benar itu Toni, ya!" gerutu Arini.
Di tengah perbincangan mereka tiba-tiba perut Arini berbunyi. Kruuukk ... kruuukkk!
Tuan Malik sontak terkekeh, sementara Arini benar-benar merasa sangat malu. Wajah Arini merona dan kini ia tertunduk sambil mengelus perutnya.
"Kamu lapar?" tanya Tuan Malik sembari melirik jam dinding yang menggantung di salah satu sudut ruangan kamar mereka.
__ADS_1
Perlahan Arini menganggukkan kepalanya. "Ya. Perutku lapar lagi, Mas."
"Ayo, kita ke dapur!" ajak Tuan Malik sembari melerai pelukannya bersama Arini.
"Ehm, tapi aku tidak ingin membangunkan para pelayan, Mas. Kasihan mereka, mereka pasti sudah tidur sekarang," ucap Arini sembari mengenakan lingerie seksinya kembali dan melapisinya dengan kimono tidur.
"Tenang, kokimu ada di depan mata."
Tuan Malik tersenyum sembari mengenakan kembali setelah tidurnya, setelah mereka puas bergulat dalam kehangatan.
Arini tersenyum lebar. "Mas bisa memasak?"
"Ehm, kita coba saja."
Tuan Malik menuntun Arini ke dapur dan mendudukkannya di kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Lihatlah bagaimana suamimu ini menjelma menjadi koki dadakan."
Tuan Malik mencuci tangannya terlebih dahulu di wastafel kemudian kembali menghampiri Arini yang terus menyunggingkan sebuah senyuman ragu-ragu. Ia ragu kalau lelaki itu bisa menjadi kokinya.
"Anda mau pesan apa, Nona Malik? Mie instan with telur ceplok, nasi goreng sederhana ala Chef Malik, atau apa saja, sebutkan!" ucap lelaki itu yang akhirnya membuat Arini terpingkal.
"Ya ampun, Chef! Aku tidak menyangka menu-menu yang Anda tawarkan kepadaku benar-benar menu yang berbeda dari yang lain," ucapnya sambil menutup mulut. "Baiklah, aku memilih nasi goreng sederhana ala Chef Malik saja. Soalnya dari semalam aku belum juga ketemu rasa nasi goreng yang pas seperti buatan mamang," ucapnya.
__ADS_1
Tuan Malik tersenyum kemudian mengelus puncak kepala Arini. Ia merasa bersalah sekaligus kasihan kepada Arini yang sampai sekarang belum kesampaian memakan nasi goreng buatan mamang. Namun, ia berjanji tidak akan pernah menyerah mencari keberadaan mamang nasi goreng tersebut sampai dapat.
...***...