Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 71


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Dodi.


Dodi memperhatikan Anissa yang sedang bersiap-siap. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan pakaian serba ketat dan terbuka. Menampakkan bagaimana bentuk kedua bulatan kenyal miliknya. Bukan hanya dua bulatan kembar tersebut, bagian-bagian sensitif lainnya pun tampak begitu menonjol.


"Mau kemana kamu, Anissa?" tanya Dodi yang baru saja membuka matanya. Sementara si kecil Azkia masih tertidur lelap di samping tubuh lelaki itu.


Anissa mendelik sebentar dan kemudian kembali merapikan dress ketatnya. "Aku ingin melamar kerja di sebuah rumah makan."


Dodi menautkan kedua alisnya sambil tertawa pelan. "Melamar kerja di rumah makan? Kamu sendiri tidak bisa memasak, bagaimana bisa kamu bekerja di sana?"


Anissa memutarkan bola matanya kemudian memasang wajah malas menatap lelaki itu. "Ya ampun, Mas Dodi! Kerja di rumah makan itu bukan berarti aku dituntut harus bisa masak. Sama seperti Ibumu yang menuntutku agar bisa memasak makanan buatmu. Di sana masih ada posisi menjadi seorang waitress, di mana aku ditugaskan mengantar makanan kepada para pengunjung," jelas Anissa.


Dodi menghembuskan napas kasar. "Lalu jika kamu bekerja, terus anak kita akan tinggal sama siapa, Anissa? Masa sama Ibu? Ibu itu sudah tua, apa lagi sekarang tekanan darah Ibu sering sekali naik tak terkendali. Jadi, tidak sepantasnya kamu meninggalkan Azkia bersama Ibu," sahut Dodi kemudian.


Anissa tertawa sinis. "Ya ampun, Mas Dodi! Kalau tidak ditinggal sama Ibu, aku harus meninggalkan Azkia sama siapa? Sama babysitter? Memangnya kita punya uang untuk bayar babysitter? Dan apa Mas sudah lupa, gaji Mas Dodi itu tidak cukup ke mana-mana! Jangankan untuk bayar ini dan itu, untuk makan sebulan pun tidak cukup!" ketus Anissa.

__ADS_1


Dodi terdiam tanpa bisa berkata apapun lagi. Ucapan Anissa barusan benar-benar membungkam mulutnya. Ia semakin merasa terpojok karena sudah gagal menjadi seorang kepala rumah tangga. Dengan tatapan kosong, Dodi memperhatikan Anissa yang kini melenggang, meninggalkan dirinya dan Azkia di kamar tersebut.


Tak terasa air mata lelaki itu menetes. Ia menyesali perbuatannya dulu. Akibat bermain api, akhirnya api itu benar-benar membinasakan kehidupannya yang dulu terasa aman dan nyaman.


Sementara itu di kamar Bu Nining.


Wanita paruh baya itu sedang membongkar isi lemarinya. Setelah kejadian memalukan yang terjadi di keluarganya, Bu Nining tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di acara arisan yang biasa dilaksanakan setiap minggu bersama teman-temannya itu.


Bu Nining mengundurkan diri dari acara perkumpulan tersebut. Selain karena rasa malu yang amat sangat, sekarang ia sudah tidak memiliki uang untuk membayar arisan tersebut. Sementara gaji Dodi sekarang ini tidak lagi dipegang olehnya. Melainkan diurus seluruhnya oleh Anissa, menantu barunya.


Namun, bukannya membaik. Kondisi ekonomi di rumahnya semakin memburuk. Gaji Dodi yang jumlahnya tidak seberapa itu habis hanya dalam hitungan hari. Jika ditanya soal uang tersebut, Anissa tidak segan-segan mengamuk dan membuat nyalinya sedikit menciut.


Wanita paruh baya itu berencana akan menjual koleksi gamis mahalnya. Ia benar-benar butuh uang untuk kebutuhannya sehari-hari. Jika dulu ia tidak pernah khawatir soal kebutuhannya yang selalu tercukupi, beda dengan kondisinya sekarang ini. Ia bahkan sudah tidak punya uang sepeser pun.


Bahkan koleksi perhiasan emasnya sudah dijual semua untuk membeli berbagai keperluan di rumah tersebut, termasuk untuk susu Azkia.

__ADS_1


"Semoga saja ada yang berminat membelinya sebab aku sangat membutuhkan uang," gumam Bu Nining lagi sambil menitikkan air matanya. Ia benar-benar sedih jika teringat akan nasibnya yang tiba-tiba berubah 180 derajat.


Setelah selesai memilah gamis-gamis tersebut, Bu Nining segera merapikan benda kesayangannya itu kemudian memasukkannya ke dalam kantong keresek besar berwarna putih. Ia berencana akan membawanya berkeliling komplek untuk ditawarkan ke tetangga-tetangga satu kompleknya.


"Ah, akhirnya selesai juga! Sebaiknya aku segera ke dapur dan membuatkan sarapan untuk Dodi," gumamnya.


Bu Nining keluar dari kamarnya dan tepat di saat itu Anissa lewat di hadapannya dengan wajah acuh tak acuh. Bu Nining menggelengkan kepalanya saat menyadari pakaian yang dikenakan oleh wanita itu.


"Ya, Tuhan! Baju apa itu yang kamu pakai, Anissa? Pakaian itu tidak pantas dikenakan oleh seseorang bersuami seperti kamu! Kamu hanya akan menjadi tontonan mata-mata lapar di luaran sana, Anissa!" kesal Bu Nining sambil mendengus kesal.


Anissa menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Bu Nining dengan kesal.


"Sudahlah, Ibu. Jangan banyak omong! Saat ini aku sedang memperjuangkan kehidupan di rumah yang seperti neraka ini! Sebaiknya Ibu diam saja dan nanti jika aku sudah punya uang, akan aku kasih Ibu uang yang banyak sebagai tanda terima kasihku karena Ibu sudah bersedia menutup mulut Ibu yang bawel itu!" jawab Anissa sambil memutarkan bola matanya.


"Ya Tuhan, Anissa!" bentak Bu Nining dengan mata melotot.

__ADS_1


Bukannya gentar, Anissa malah tertawa sinis kemudian melenggang pergi meninggalkan Bu Nining yang masih kesal.


...***...


__ADS_2