Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 98


__ADS_3

"Tapi ...." Ekspresi wajah Dokter mulai berubah dan sekarang terlihat sendu.


"Ta-tapi? Tapi apa, Dok?"


Begitu pula Tuan Malik. Wajahnya yang tadi tampak begitu bahagia, kini kembali kusut. Tiba-tiba saja ia merasa yakin bahwa ada sesuatu yang salah pada istrinya itu.


"Begini, Tuan Malik. Saat ini Nyonya Arniz masih dalam kondisi kritis. Ya, memang dua peluru yang bersarang di dadanya dapat dikeluarkan. Namun, luka yang ditimbulkan oleh tembakan itu terlalu dalam dan mengakibatkan pendarahan yang sangat serius. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dan semoga masih ada keajaiban untuk istri Anda. Kita semua bisa berdoa untuk kesembuhan Nyonya Arniz," tutur Dokter itu sembari menatap Tuan Malik, Arini dan juga Suci secara bergantian.


Tuan Malik tidak dapat berkata apa-apa lagi. Lagi-lagi lelaki itu kembali terpukul untuk kesekian kalinya. Ia kembali duduk di tempatnya semula dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Tubuhnya bergetar dan kedua pundak lelaki itu tampak turun naik.


Sementara Arini dan Suci tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka pun sangat sedih, apa lagi saat mereka melihat Tuan Malik yang hancur seperti itu. Mereka berharap Nyonya Arniz bisa melewati masa kritisnya dan kembali sehat seperti sedia kala.


"Ehm, saya permisi dulu." Dokter pun pamit kepada Arini dan Suci yang masih terdiam di ruangan itu.


"Baik, Dok."


***


Detik berganti menit dan menit pun berlalu kemudian berganti menjadi jam. Selesai operasi pengangkatan peluru, kini Nyonya Arniz di letakkan di ruangan ICU, di mana kondisinya masih membutuhkan pengawasan ketat dari tim medis.


Tuan Malik yang masih setia menunggu Sang Istri, menghampiri Arini dan Suci yang juga belum pulang sejak tadi.

__ADS_1


"Ehm, sebaiknya pulang saja. Aku tidak ingin merepotkan kalian. Lagi pula aku bisa menjaganya sendiri di sini," ucap Tuan Malik.


Arini dan Suci saling tatap untuk beberapa saat. Suci mengangguk pelan, sepertinya ia setuju dengan pendapat Tuan Malik. Lagi pula ia pun sudah gerah dan ingin segera melakukan ritual mandinya.


"Baiklah kalau begitu, Tuan. Tapi ...." Arini terdiam sejenak. "Bolehkah aku kembali lagi nanti?"


Tuan Malik pun mengangguk pelan. "Tentu saja, selama itu tidak merepotkanmu. Aku tidak ingin merepotkan siapapun, termasuk kalian," sahut Tuan Malik.


"Sama sekali tidak merepotkan, Tuan. Sebab selama ini Nyonya Arniz sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri," jawab Arini.


Setelah berpamitan kepada lelaki itu, Arini dan Suci pun pulang. Sementara Tuan Malik masih setia menunggu di Rumah Sakir, tepatnya di samping Nyonya Arniz yang masih tidak sadarkan diri.


"Sepertinya malam ini aku akan ke Rumah Sakir lagi, Ci," ucap Arini kepada Suci ketika di perjalanan pulang.


"Tidak apa. Lagi pula aku sebentar saja, kok, tidak akan lama. Hanya saja rasanya tidak enak jika aku tidak menjenguk Nyonya Arniz."


"Eh, Rin. Kok, aku gak tega ya, lihat Tuan Malik. Rasanya air mata ini mau ngikut aja lihat dia bersedih seperti itu," tutur Suci.


"Sama," jawab Arini.


Setibanya di rumah kontrakannya, Arini pun segera membersihkan diri kemudian beristirahat sejenak. Begitu pula Suci, wanita itu pun bergegas mandi dan mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain.


Di sebuah club malam, di mana cahaya lampu warna-warni, berkelap-kelip seiring dengan hentakan musik bernada cepat di ruangan nan luas tersebut. Para wanita berpakaian terbuka berlalu lalang di tempat itu dan tidak sedikit juga di antara mereka menari, meliuk-liukkan badan seiring dengan musik yang sedang di mainkan oleh seorang DJ handal.


Di antara banyaknya pengunjung di tempat itu, terdapat sebuah meja di mana ada dua orang laki-laki yang sedang menenggak minuman keras sambil ditemani oleh beberapa orang wanita cantik.


Lelaki itu adalah Angga dan sahabatnya. Lelaki yang membantu Angga melancarkan aksinya merampok dan Nyonya Arniz. Ya, perampokan itu memang disengaja dan dipersiapkan dengan matang oleh kedua lelaki itu. Sudah lama mereka mengintai gerak-gerik Nyonya Arniz, tetapi baru kemarin mereka bisa melancarkan aksinya.


Angga terlihat begitu senang karena rasa sakit hatinya terhadap wanita itu akhirnya terbalaskan. Dan ia berharap wanita itu segera lenyap dari muka bumi agar aksinya tidak tercium oleh pihak berwajib.


"Mari bersulang!" Angga mengangkat gelas minumannya ke atas dan segera di balas oleh sahabat serta wanita-wanita malam yang tengah menemani mereka.


"Toss!"


"Malam ini kalian harus menemaniku. Kita akan bersenang-senang karena sekarang aku punya banyak uang!" ucap Angga sembari memperlihatkan uang hasil rampokannya kepada wanita-wanita malam yang kini tengah berada di sampingnya.


"Wah!" Para wanita itu membulatkan mata mereka setelah melihat banyaknya uang yang ada di dalam saku Angga.


"Coba lihat ini?" Angga memperlihatkan cincin berlian milik Nyonya Arniz kepada wanita-wanita itu. "Siapa yang mau?"


"Aku, Mas! Aku!" jawab para wanita itu dengan sangat antusias.

__ADS_1


"Eits!" Angga menarik tangannya kembali dan menyimpan cincin itu ke tempatnya semula. "Cincin itu bukanlah sembarang cincin. Kalian tahu cincin apa itu? Cincin berlian! Hanya orang tertentu yang bisa memilikinya! Dan jika kalian ingin memilikinya, kalian harus memuaskan aku malam ini," ucap Angga sambil menyeringai.


...***...


__ADS_2