Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 78


__ADS_3

"Selamat datang, silakan masuk," sambut salah seorang karyawan sambil tersenyum hangat.


Arini terus memperhatikan pasangan itu hingga Suci datang menghampirinya kemudian menyapa. "Arini, kamu yang samperin mereka, ya. Aku mau ke belakang dulu, sudah kebelet soalnya," ucap Suci sambil tertawa pelan.


"Baiklah," sahut Arini.


Sebenarnya Arini enggan menghampiri pasangan tersebut. Namun, karena tidak ada lagi karyawan yang bisa menggantikan dirinya, Arini pun terpaksa melakukannya.


Dengan ragu-ragu, Arini melangkahkan kakinya menghampiri pasangan tersebut. Wanita cantik itu terlihat sedang asik memilih-milih koleksi pakaian mahal sambil sesekali melirik ke arah Sang Lelaki.


"Sayang, bagaimana kalo yang ini? Cantik, nggak?" Ia meraih sebuah dress di atas lutut yang terlihat simpel dan elegan kemudian menenteng benda itu ke tubuhnya yang seksi.


Lelaki bertubuh tambun tersebut tersenyum lebar menatap Sang Kekasih. "Benar-benar cantik, Sayang. Ambil saja apapun yang kamu mau, kalau perlu kita borong seluruh isi butik ini," sahut lelaki itu dengan sombongnya.


"Benarkah?!" pekik wanita itu dengan gaya centilnya. "Oh, Sayang! Kamu benar-benar menggemaskan, love you!"


Tanpa malu-malu, pasangan itu menautkan bibir mereka di dalam ruangan tersebut. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Semua orang tampak memperhatikan mereka. Bahkan tidak sedikit pengunjung butik tersebut tampak menahan tawa mereka saat menyaksikan kemesraan pasangan beda usia dan rupa tersebut.


Arini tampak eneg melihat kemesraan mereka. Terlebih lelaki itu lebih cocok menjadi sosok Ayah dari pada seorang kekasih untuk wanita cantik tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan dan Nona?" tanya Arini sambil menyunggingkan senyuman hangatnya kepada pasangan itu.


Pasangan itu sontak menoleh ke arahnya. Mata wanita cantik tersebut membulat sempurna setelah mengetahui siapa yang sedang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Mbak Arini?!" pekiknya.


Arini tidak menjawab. Ia kembali menyunggingkan sebuah senyuman hangatnya untuk pasangan itu. Lelaki tua bertubuh subur itu terkejut setelah mengetahui kekasihnya itu ternyata mengenali Arini.


"Siapa dia, Sayang? Teman kamu?" tanya lelaki itu.


Wanita cantik itu tersenyum kecut kemudian menjawab pertanyaan lelaki tersebut. "Dia Mbak Arini. Salah satu tetanggaku, Mas."


"Oh, begitu. Kenalkan Mas dong," pinta lelaki itu sambil menatap lekat Arini yang kini berdiri di hadapannya.


Wanita cantik itu memutarkan bola matanya. "Baiklah. Mbak Arini, kenalkan ini Mas Bram. Mas Bram, ini Mbak Arini. Sudah puas, Mas?"


"Panggil aku Mas Bram."


"Arini," jawabnya.


"Ah, sudah yuk! Kita pilih-pilih baju lagi," pinta wanita cantik itu dengan manjanya kepada lelaki yang ia panggil sebagai Mas Bram tersebut.


"Oke, baiklah, Sayang." Pasangan itu pun kembali menjelajahi butik tersebut. Sementara Arini mengikuti mereka dari belakang sambil membawakan barang-barang yang dibeli oleh wanita tersebut.


Di saat wanita cantik itu sibuk memilih pakaian yang akan ia beli, lelaki tua itu malah sibuk menggoda Arini. Kadang lelaki itu mengedipkan mata kepada Arini dan beberapa kali merayu Arini agar ia bersedia memberikan nomor ponselnya.


"Ayolah, Cantik! Kasihlah Mas-mu yang tampan ini nomor ponselmu, biar kita bisa chatting dan teleponan. Kamu mau apa, tinggal bilang saja padaku. Uang, pakaian mahal, perhiasan, ke salon? Tinggal bilang saja sama Mas Bram mu ini," tutur lelaki itu.

__ADS_1


Arini mengulum senyum. Ia ingin sekali tergelak saat itu. "Tidak usah, Mas. Terima kasih."


Lelaki itu menghembuskan napas berat karena bujukannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Arini. Terlihat jelas kekecewaan di wajah lelaki itu.


Tidak berselang lama, akhirnya wanita cantik itu pun selesai berbelanja. Sudah banyak pakaian bagus serta mahal yang ia pilih dari butik Zhanita Collection tersebut kemudian menyerahkannya kepada Arini.


"Ini, Mbak Arini! Cepat bungkus dan berikan nota belanjaannya kepada Mas ini," ucap wanita itu sambil tersenyum sinis kepada Arini.


"Baik, tunggulah sebentar," sahut Arini sembari membawa pakaian tersebut ke kasir.


Sementara Arini sibuk di meja kasir dengan barang belanjaannya, wanita itu terus menatap Arini dengan tatapan kesal.


"Oh, ternyata Mbak Arini bekerja di sini? Ngomong-ngomong, bagaimana bisa dia diterima di sini? Sementara dia hanya lulusan SMP, 'kan?" gumam wanita itu dalam hati.


"Anissa sayang, kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?" tanya lelaki tua itu.


"Bukan apa-apa, Mas. Aku hanya bingung saja kepada Mbak Arini. Dia itu cuma lulusan SMP loh, tapi kok dia bisa diterima bekerja di butik mewah dan terkenal ini!" tutur Anissa.


"Benarkah?" tanya Bram sambil menatap Arini dari kejauhan.


"Ya, dan satu lagi yang Mas harus tahu tentang Mbak Arini. Dia itu wanita mandul! Suaminya saja sampai berselingkuh karena ia tidak bisa memberikan seorang anak untuk suaminya," sahut Anissa lagi.


Anissa sengaja mengatakan semua prihal buruk tentang Arini kepada Bram sebab ia curiga bahwa si Bram tersebut menyukai Arini sejak pertama melihatnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2