Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 105


__ADS_3

"Silakan duduk, Arini."


Hendra menarik sebuah kursi kemudian mempersilakan Arini untuk duduk di sana. Setelah Arini duduk, ia pun segera menyusul. Duduk tepat berhadapan dengan wanita itu.


"Bagaimana menurutmu tempat ini?" tanya Hendra kepada Arini yang masih terkesima menatap sekeliling ruangan.


"Tentu saja keren lah, Mas. Tapi, yang aku pikirkan berapa banyak budget yang kamu keluarkan hanya untuk bisa duduk di sini dan menikmati hidangannya," sahut Arini sambil membulatkan matanya.


"Sudah kubilang tidak apa. Santai saja, lagian kita tidak setiap hari 'kan pergi ke tempat ini?" balas Hendra sambil terkekeh pelan.


"Kalo setiap hari Mas Hendra ajak aku ke sini, Mas pasti akan bangkrut."


Hendra kembali terkekeh dan tidak berselang lama seorang waitress datang ke meja mereka sembari membawa makanan yang memang sudah dipesan oleh Hendra sebelumnya. Setelah selesai menata semua hidangan itu, Sang Waitress pun segera pergi.


"Mari makan dan jangan sungkan untuk bilang padaku jika kamu ingin nambah," goda Hendra kepada Arini.


"Aku mikir dua kali mau nambah kalo makan di sini, Mas," celetuk Arini sambil berbisik.


Lagi-lagi Hendra hanya tertawa pelan mendengar ucapan Arini.


Hendra dan Arini memulai acara makan mereka dengan hikmat. Tak ada pembicaraan apapun ketika mereka sedang asik menikmati hidangan tersebut. Hanya sesekali Hendra melirik Arini sambil tersenyum manis. Hingga setelah beberapa menit kemudian, hidangan mereka pun ludes.

__ADS_1


"Wah, terima kasih banyak ya, Mas Hendra. Jangan jera untuk mengajakku ke tempat seperti ini lagi, ya!" Arini tertawa pelan.


"Tentu saja, Arini. Tidak akan pernah ada kata jera jika itu bersamamu," jawab Hendra sambil tersenyum menatap lekat Arini yang tampak cantik saat tertawa tanpa beban seperti itu.


Ya, Arini sekarang memang sangat berubah. Jika dulu wanita itu selalu tampak murung dan lebih banyak diam, berbeda dengan yang sekarang. Ia terlihat lebih ceria dan senyuman manisnya itu terus mengambang di wajahnya.


"Oh, iya! Mas belum menjawab pertanyaanku tadi. Hari ini ulang tahunnya Mas, ya?" tanya Arini penasaran.


Hendra menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan. Tapi ...."


Hendra tersenyum kemudian meraih sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kotak kecil berwarna merah dengan list berwarna gold yang tampak di sisi-sisinya. Lelaki itu memperlihatkan kotak tersebut ke hadapan Arini sambil tersenyum manis.


Sementara Arini tampak kebingungan. Ia terus memperhatikan kotak berwarna merah itu dan sesekali melirik Hendra, masih dengan wajah bingungnya.


Hendra membuka kotak itu dan kini tampaklah sebuah cincin emas 24 karat seberat 10 gram dengan sebuah permata di tengah-tengahnya. Permata itu tampak berkilau saat terkena cahaya lampu di ruangan itu. Tampak cantik dan memukau membuat siapapun terpana melihatnya.


"Maukah kamu menikah denganku untuk menjadi istri sekaligus Ibu untuk anak-anakku?"


Deg!


Seketika Arini terdiam dengan mata membulat menatap Hendra. Arini tidak pernah menyangka bahwa selama ini Hendra memiliki perasaan yang spesial untuk dirinya. Sementara dirinya hanya menganggap Hendra seperti seorang Kakak.

__ADS_1


"M-Mas Hendra, a-aku ...." Arini bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia menerima lamaran Hendra, sementara ia sudah terikat janji kepada mendiang Nyonya Arniz yang akan menikah dengan Tuan Malik.


Hendra memperhatikan ekspresi Arini saat itu dan ia tahu bahwa wanita itu tengah bimbang. "Kenapa, Arini? Apa kamu masih mencintai Mas Dodi?"


Arini menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bu-bukan itu, Mas! Bukan," jawab Arini dengan wajah memucat.


"Lalu?" Hendra mulai lemas. Semangatnya tiba-tiba luntur setelah melihat reaksi Arini saat itu.


"Sebenarnya aku sudah terikat janji kepada mendiang Nyonya Arniz, Mas. Sebelum beliau meninggal, beliau meminta sesuatu kepadaku dan aku sudah berjanji akan memenuhi keinginan terakhirnya itu," tutur Arini dengan wajah sendu.


"Apa itu?" Hendra penasaran.


"Beliau ingin aku menikah dengan suaminya, Tuan Malik Abraham."


Hendra membuang napas berat sembari menutup kembali kotak perhiasan yang sejak tadi terulur di hadapan Arini. "Lalu bagaimana dengan Tuan Malik? Apa dia juga menyetujui permintaan aneh mendiang istrinya itu?"


Arini mengangguk pelan. "Kami tidak punya pilihan lain, Mas. Tuan Malik pun tidak kalah syok mendengar permintaan terakhir mendiang Nyonya Arniz. Aku tahu, sebenarnya Tuan Malik pun menolak perjodohan itu. Namun, mau bagaimana lagi?" Arini terdiam sejenak sambil terus menatap wajah sendu Hendra. "Maafkan aku, Mas."


Hendra tersenyum kecut kemudian mendorong kotak perhiasan berisi cincin itu ke hadapan Arini sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Ya, aku mengerti bagaimana posisi kalian. Maafkan aku ... karena cincin ini sudah aku niatkan untuk kamu, maka ambilah cincin ini walaupun bukan sebagai cincin pengikat hubungan kita. Anggap saja cincin ini sebagai hadiah dariku karena tidak lama lagi kamu akan melepas status jandamu, menjadi seorang Nyonya Abraham," ucap Hendra.

__ADS_1


...***...


__ADS_2