
"Terima kasih banyak untuk hari ini, Tuan Malik."
"Sama-sama," sahut Tuan Malik sembari mengangguk pelan.
Setelah Arini masuk ke dalam pekarangan rumahnya, Tuan Malik pun segera melesat, kembali ke kediamannya.
"Shhht! Kamu dari mana saja, Arini!"
Tiba-tiba saja Suci muncul entah dari mana dan kehadiran sahabatnya itu benar-benar mengagetkan Arini.
"Suci, kamu bikin kaget aja." Arini mengelus dadanya dengan mata membulat menatap Suci.
"Ih, maaf!"
"Sebaiknya kita masuk dan bicara di dalam," sahut Arini sembari membuka kunci pintu rumahnya. Setelah pintu berhasil dibuka, Arini pun mempersilakan Suci untuk masuk ke dalam ruangan itu.
"Sebenarnya kamu ada urusan apa 'sih sama Tuan Malik?" tanya Suci heran sambil memperhatikan wajah semringah Arini saat itu.
"Duduklah dulu." Arini duduk di sofa ruang depan sambil tersenyum kepada Suci yang kini juga ikut duduk di sampingnya.
"Ceritakan dong, Arini! Ceritakan!" rengek Suci kepada Arini.
"Baiklah, aku akan bercerita. Tapi, janji kamu tidak akan heboh hingga hari H nya nanti. Ok?!"
Walaupun tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Arini, Suci pun mengangguk saja. "Ya, aku berjanji tidak akan heboh, tidak akan ember dan rahasiamu tidak akan bocor kemana-mana, sumpah!"
Arini menghela napas panjang kemudian membuangnya perlahan. "Sebenarnya aku dan Tuan Malik ...."
__ADS_1
"Apa, Arini! Jangan buat aku berpikiran yang tidak-tidak, ya!" kesal Suci karena begitu penasaran.
"Aku dan Tuan Malik akan segera melangsungkan pernikahan, Suci."
Uhuk ... uhukkk!
Suci terbatuk-batuk mendengar penuturan Arini saat itu. Ia tidak percaya dan sangat-sangat tidak percaya pada ucapan Arini barusan.
"Ya, ampun, Suci."
Arini bergegas mengambilkan air minum kemudian menyerahkannya kepada Suci. Setelah Suci merasa baikan, wanita itu pun kembali histeris.
"Arini! Kamu pasti sedang bercanda, 'kan? Kamu pasti sedang berbohong, 'kan?" Suci menatap lekat Arini dengan mata melotot. Sementara tangannya mencengkram erat pundak Arini dan menggoyang-goyangkannya.
"Ya ampun, Suci. Apa untungnya sih aku berkata bohong padamu? Apa lagi membuat kebohongan di saat seperti ini. Di mana kita masih merasa kehilangan sosok Nyonya Arniz," jawab Arini sembari menepis kedua tangan Suci dari pundaknya.
Arini memasang wajah masam. "Kan ... aku bilang apa tadi? Jangan heboh," ucap Arini.
"Ah, iya, iya!" Suci menutup mulutnya agar tidak heboh seperti sebelumnya.
"Nyonya Arniz meminta kami menikah tepat sebelum Nyonya menghembuskan napas terakhirnya, Ci. Aku dan Tuan Malik sama-sama tidak berdaya. Kami terikat janji kepada mendiang Nyonya Arniz dan mau tidak mau, kami harus menerima permintaan terakhirnya itu."
"Ya, Tuhan! Kenapa kamu baru cerita sekarang! Ah, kamu jahat!" celetuk Suci dengan wajah menekuk.
"Seiring waktu, entah kenapa aku merasa sangat nyaman ketika berada di samping Tuan Malik. Ci, aku ingin tanya padamu, apakah aku berdosa jika aku mulai menyukai Tuan Malik saat ini?"
Suci tersenyum hangat sembari menatap wajah Arini. "Kenapa berdosa? Bukankah dia calon suamimu, Arini? Mau sekarang ataupun nanti, kamu memang harus belajar membuka hati untuknya. Benar 'kan? Begitu pula sebaliknya. Tuan Malik pun harus belajar membuka hatinya untukmu," jawab Suci.
__ADS_1
"Ish, tumben kamu bijak, Ci," celetuk Arini dengan mata berkaca-kaca.
"Huh, dasar! Dikasih tau benar-benar malah dibilang begitu," kesal Suci.
Arini segera memeluk Suci dengan erat. "Doakan aku ya, Suci. Semoga Tuan Malik memang jodoh terakhir buatku dan tidak akan pernah mengkhianatiku sama seperti yang dilakukan oleh Mas Dodi kepadaku," ucap Arini.
"Aaminn!" sahut Suci dengan kencang. "Jadi ... Mas Hendra nganggur, dong! Aku kirain kamu bakal berjodoh sama Mas Hendra," lanjut Suci sambil tersenyum semringah.
"Sebenarnya aku tidak pernah punya perasaan apapun terhadap Mas Hendra. Jujur, aku sayang sama dia, tapi hanya sebatas Kakak, Ci. Tidak lebih," sahut Arini.
Ehem! Suci berdehem. "Itu artinya ada lampu hijau dong, untukku mendekati Mas Hendra," celetuk Suci.
Arini mengerutkan alisnya. "Kamu suka sama Mas Hendra?"
"Ya ampun, Arini! Mas Hendra itu idaman seluruh cewek! Termasuk aku," jawab Suci sambil terkekeh. "Tapi, sayangnya Mas Hendra sama sekali tidak pernah menghiraukan aku, hiks-hiks!" lanjutnya sambil berpura-pura menangis.
"Kamu serius, Ci? Jika kamu benar-benar serius, aku bisa kok bantuin kamu deket sama Mas Hendra," ucap Arini dengan sangat antusias.
"Benarkah? Memangnya tidak apa-apa?"
"Ish, aku malah senang dengernya loh, Ci! Kamu wanita yang baik dan Mas Hendra juga sangat baik. Jadi ku rasa kalian cocok-cocok saja! Dan satu lagi, Mas Hendra itu perjaka tulen, pokoknya kamu gak rugi!" celetuk Arini sambil tertawa pelan.
"Ya, aku memang menang banyak karena dapat si perjaka tulen. Tapi bagaimana dengan Mas Hendra yang mendapatkan pasangan si janda bolong seperti aku? Aku yakin Ibunya pasti menolak," sahut Suci dengan wajah menekuk.
"Gak akan, Ci. Bu Ria itu wanita paling baik yang pernah aku temui. Ia tidak pernah memandang seseorang dari status atau apapun. Lagi pula Mas Hendra tidak rugi-rugi amat, kok. Siapa sih yang meragukan goyangan hot si janda bolong, ha!" goda Arini sambil tergelak.
"Astaga, Arini!" Suci melemparkan bantal sofa ke arah Arini dan ia pun ikut tergelak bersama sahabatnya itu.
__ADS_1
...***...