
"Arini? Apa yang dia lakukan di sini? Kenapa ia tidur di atas sofa?"
Tuan Malik yang baru saja tiba di ruangan itu, segera menghampiri Arini yang kini terlelap di atas sofa dengan posisi miring. Ia berjongkok tepat di hadapan Arini dan memperhatikan wajahnya yang tampak tenang. Tak terlihat sedikit pun kesedihan di wajah Arini saat itu.
Tangan Tuan Malik refleks menyentuh pipi Arini serta mengelusnya dengan lembut. Sentuhan Tuan Malik saat itu, akhirnya membangunkan Arini. Ia tersentak kaget dan segera bangkit dari posisinya. Ia duduk bersandar di sandaran sofa sambil tersenyum kecut menatap Tuan Malik yang kini berdiri di hadapannya.
"Mas?"
"Maaf, jika aku mengagetkanmu. Tapi ... kenapa kamu tiduran di sini? Kenapa tidak di atas tempat tidur?" tanya Tuan Malik pelan.
Arini mengelus tengkuknya. "Ehm, sebenarnya tadi aku cuma rebahan di sini sambil menunggu Mas kembali. Tapi ternyata aku malah ketiduran di sini," jawab Arini dengan berbohong.
"Ya, sudah. Sebaiknya kita tidur."
Tuan Malik meraih tangan Arini serta membantunya membawakan selimut. Sementara Arini mengikuti Tuan Malik yang kini menuntunnya ke tempat tidur.
"Duduklah dulu. Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Tuan Malik sembari mendudukkan Arini di tepian tempat tidur dan disusul olehnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Arini yang seolah-olah tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh lelaki itu.
Tuan Malik menghembuskan napas berat kemudian menggenggam kedua belah tangan Arini dengan erat. Mata elang lelaki itu menohok tajam ke arah Arini.
"Arini, maafkan aku." Lelaki itu kembali membuang napas beratnya. "Untuk saat ini aku masih belum bisa menyentuhmu. Bayangan Arniz masih saja menguasai isi kepalaku dan aku tidak ingin menyentuhmu jika hati dan pikiranku masih tertuju padanya. Tapi, aku berjanji padamu, Arini. Aku akan berusaha melupakan bayangan Arniz sedikit demi sedikit," tutur Tuan Malik dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Arini mengangguk pelan. "Ya, Mas. Kamu tenang saja. Aku mengerti, kok."
Tuan Malik tersenyum kemudian melabuhkan ciuman hangatnya di kening Arini. "Terima kasih karena sudah bersedia memahamiku," ucapnya.
Malam itu mereka tidur bersama di atas tempat tidur yang sama. Hanya saja mereka tidak melakukan apapun.
Sementara itu di tempat lain.
"Sudah lama menunggu, Mas?" tanya Suci kepada Hendra yang sejak tadi sudah menunggunya di cafe tersebut.
"Ehm, tidak juga."
Hendra berdiri kemudian menarik sebuah kursi yang terletak tepat di hadapannya. Ia mempersilakan Suci untuk duduk di sana agar ia dan wanita itu bisa bicara dengan mudah dan jelas tentunya.
Hendra kembali ke posisinya sambil tersenyum hangat menatap Suci.
"Sebenarnya ada apa, Mas? Apa yang ingin Mas bicarakan padaku?" tanya Suci yang sudah tidak sabar ingin mengetahui maksud dan tujuan Hendra mengajaknya bertemu pada malam ini.
Hendra tertawa pelan. "Aku ingin membicarakan soal pernyataan cintamu kemarin."
Suci membulatkan matanya dengan sempurna. Ternyata benar, Hendra masih ingin membahas soal kegilaannya kemarin di acara pernikahan Arini. Menyatakan cinta tanpa sadar kepada lelaki itu.
"Ehm, itu ... sebenarnya itu aku ...."
__ADS_1
Tiba-tiba raut wajah Hendra berubah. Ia menatap Suci dengan serius kemudian kembali berkata.
"Jangan bilang kalau kamu hanya bercanda kemarin itu, Ci," ucap Hendra.
Suci menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ehm, sebenarnya aku serius, Mas. Aku memang menyukai Mas Hendra, tapi aku tidak menyangka ternyata mulutku terlalu ember dan tidak bisa menyimpan rahasia hatiku. Maafkan aku, Mas. Aku sebenarnya sangat malu dan aku yakin Mas Hendra mau bilang bahwa aku sudah gila, 'kan?"
Hendra kembali tersenyum. "Tidak. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Malah sebaliknya, aku mengajakmu bertemu di sini karena aku ingin menjawab pertanyaanmu yang kemarin," jawabnya santai.
Deg-deg! Deg-deg!
Jantung Suci berdetak dengan sangat cepat dan tak terkendali. Mata wanita itu membulat karena sebenarnya ia tidak yakin jawaban Hendra malam ini akan membuatnya senang.
"Jika Mas Hendra menolak cintaku, setidaknya jangan ucapkan hal itu dengan kasar, ya, Mas. Nanti aku bisa menangis," pinta Suci dengan wajah cemas.
Hendra terkekeh. Ia meraih kedua tangan Suci kemudian menggenggamnya dengan erat. "Suci, aku ingin menjalani sebuah hubungan yang lebih serius denganmu. Lebih dari sekedar teman, aku ingin kamu menjadi kekasihku. Tidak lama, hanya beberapa bulan ke depan. Nanti, jika kita sudah merasa saling cocok, maka aku akan segera melamarmu. Bagaimana, kamu mau 'kan?"
"Be-benarkah itu?" Suci terbata-bata.
"Ya, aku serius."
"Ya, Tuhan! Ya, Tuhan! Aku sesak napas dan rasanya aku ingin pingsan," ucap Suci sambil menarik napas dengan cepat.
"Ci. Kamu kenapa, Ci?" Hendra panik dan segera menghampiri Suci sembari menyerahkan minuman kepada wanita itu.
__ADS_1
...***...