Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 62


__ADS_3

Dodi bangun dari tidurnya sebelum yang lain sadar bahwa dirinya tengah tidur di ruang televisi. Lelaki itu berjalan menuju kamarnya bersama Arini dan mulai mengetuk pintu kamar tersebut. Beberapa kali Dodi meminta Arini untuk membukakan pintu untuknya, tetapi tak sekalipun terdengar suara sahutan dari dalam ruangan tersebut.


"Arini, aku harus masuk. Ini sudah pagi dan aku harus bersiap untuk pergi bekerja," ucapnya lagi. Namun, lagi-lagi tak ada jawaban di dalam ruangan itu.


Dodi yang sudah kehilangan kesabarannya segera mendorong pintu kamar tersebut dan ternyata pintu ruangan itu sama sekali tidak dikunci. Setelah pintu terbuka, lelaki itu mulai mengedarkan pandangannya ke segenap sisi ruangan itu dan ia sedikit heran karena tidak menemukan Arini di manapun.


"Arini, kamu di mana?" panggil Dodi sembari masuk dan mulai mencari keberadaan istri pertamanya itu.


Dodi pikir Arini pasti sedang berada di dalam kamar mandi karena wanita itu memang sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali untuk membantu Bi Surti memasak di dapur. Namun ketika Dodi memeriksa kamar mandi mereka, Arini juga tidak ada di ruangan tersebut.


"Loh, Arini ke mana? Tidak mungkin 'kan dia berangkat kerja pagi-pagi begini?" gumam Dodi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa dia sedang berada di dapur? Ah, rasanya tidak mungkin. Bukankah saat ini dia masih marah padaku?"


Dodi mulai penasaran. Entah kenapa ia mulai berpikiran macam-macam soal Arini. Lelaki itu refleks berlari kecil ke arah lemari pakaian miliknya bersama Arini dan apa yang ia khawatirkan ternyata benar. Bagian ruangan tempat penyimpanan pakaian Arini tampak kosong dan tak selembar pakaian pun milik Arini yang teronggok di sana.


"Arini!" pekik Dodi dengan dada bergetar.


Sementara Dodi tengah kebingungan mencari keberadaan Arini. Bu Nining juga terbangun dari tidurnya pagi-pagi sekali, tak seperti biasanya. Wanita paruh baya itu teringat bahwa Bi Surti sudah tidak bekerja lagi bersamanya dan sebab itu lah hari ini ia harus menyediakan sarapan untuk keluarganya sendiri.

__ADS_1


Bu Nining melangkah menuju kamar Anissa kemudian menggedor pintu kamar tersebut. "Anissa! Anissa! Bangun! Ayo, bikin sarapan untuk suamimu! Apa kamu ingin terus meringkuk dalam selimut hangatmu sementara suamimu berangkat dengan kondisi kelaparan, ha?"


"Hah, berisik!" kesal Anissa sembari menarik selimutnya lebih tinggi lagi hingga menutupi wajahnya. "Dasar mertua sialan, suami sialan! Orang-orang di rumah ini sialan semuanya!" gerutu Anissa yang ternyata masih tidak bisa menerima kondisi keluarganya saat ini.


"Anissa! Cepat bangun! Mumpung anakmu masih tidur lelap, jadi sekarang saatnya kamu memasak untuk suami kamu!" kesal Bu Nining lagi.


"Ah! Berisik sekali, sih! Pagi-pagi begini sudah bikin ribut! Aku sumpahin biar kamu kena stroke sekalian, Bu Nining! Biar tahu rasa," kesal Anissa yang akhirnya menyerah dan keluar dari selimut hangatnya.


"Ya, sebentar!" teriak wanita itu sembari melangkah dengan malas menghampiri pintu kamarnya.


Pintu kamar terbuka dan tampaklah Bu Nining dengan raut wajah kesal menatap Anissa. Bu Nining kesal karena wanita itu masih dengan penampilan kusutnya. Rambut acak-acakan dan mata yang masih terpejam.


"Heh, kenapa kamu tidak tiru Arini, ha! Dia di jam segini sudah mandi, rapi dan wangi. Pagi-pagi sekali, dia sudah siap di dapur tanpa di suruh. Sementara kamu! Ck ck ck," kesal Bu Nining sambil menggelengkan kepalanya menatap Anissa.


"Lah, kalau begitu kenapa tidak suruh menantu kesayanganmu itu saja, Bu! Kenapa kamu suruh aku," jawab Anissa yang tidak kalah kesal karena Bu Nining mulai berani membandingkan dirinya dengan Arini.


"Hah! Banyak bicara! Ayo, sekarang memasak lah! Atau sekalian aku kasih Azkia ke kamu biar kamu tidak bisa bergerak sekalian," ancam Bu Nining dengan mata melotot menatap Anissa.

__ADS_1


"Iya, iya, baiklah!" Anissa yang sangat kesal menghentak-hentakkan kakinya sambil melangkah ke dapur. Sementara Bu Nining memperhatikan sikap menantu barunya itu sambil menggelengkan kepala.


Sementara Anissa menuju dapur, Bu Nining memilih kembali ke kamarnya untuk menemani Azkia yang masih tertidur. Baru saja wanita paruh baya tersebut ingin meraih gagang pintu, tiba-tiba Dodi memanggilnya dengan wajah panik.


"Bu, apa Ibu lihat Arini?" tanya Dodi sembari menghampiri Bu Nining.


"Mana Ibu tau! Ibu juga baru saja bangun. Memangnya kenapa?" tanya Bu Nining balik.


"Sepertinya Arini pergi dari rumah, Bu. Pakaiannya sudah tidak ada lagi di dalam lemari pakaian kami. Begitu pula Arini, aku tidak menemukannya di manapun di rumah ini," sahut Dodi yang terlihat semakin kacau.


Bu Nining membuang napas berat. "Biarlah, Dodi. Biar lah dia pergi! Nanti dia juga pasti kembali lagi. Memangnya dia bisa hidup sendiri? Dia 'kan sudah tidak punya keluarga lagi. Bahkan keluarganya di kampung sudah meninggal semua," sahut Bu Nining dengan tenangnya.


"Tapi, Bu. Biar bagaimanapun dia masih istriku dan aku masih sangat mencintainya," lirih Dodi.


"Hah, cinta!" gumam Bu Nining sambil memutarkan bola matanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2