
"Mas Hendra, kalau Mas ingin pulang, tidak apa-apa, pulang saja. Sebentar lagi Mas Dodi pasti datang, kok," ucap Arini kepada Hendra yang sejak tadi masih setia menunggui Azkia dan Arini di ruangan itu.
"Tidak apa, Arini. Aku akan pulang setelah Mas Dodi tiba di sini. Aku tidak akan meninggalkan kamu sendiri, takutnya kalau Dokter atau Perawat butuh sesuatu, maka aku bisa membantumu," tutur Hendra sambil tersenyum hangat.
Arini pun membalas senyuman lelaki tampan itu. "Terima kasih banyak, Mas Hendra. Aku benar-benar berhutang budi kepadamu," sahut Arini.
Untuk sejenak Arini dan Hendra terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya Arini kembali membuka percakapan mereka.
"Maaf, Mas. Sebenarnya Mas itu kerjanya apa? Aku pernah dengar kata Ibunya Mas, Mas kerja di sebuah desa terpencil yang jauh dari pusat kota. Apa itu benar?" tanya Arini.
Hendra tersenyum tipis sambil mengingat sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian kota. Di mana ia ditugaskan untuk menjadi guru Sekolah Dasar di tempat itu.
"Aku seorang pengajar yang ditugaskan mengajar di sebuah Sekolah Dasar di desa Arum Manis. Desa terpencil yang jauh dari pusat kota--"
"Desa Arum Manis? Itu Desaku, Mas! Aku berasal dari sana. Ya, Tuhan! Tiba-tiba saja aku merindukan desaku," sela Arini dengan mata berkaca-kaca, membuat Hendra menghentikan ucapannya. Lelaki itu kembali tersenyum lebar setelah mengetahui bahwa Arini berasal dari desa tersebut.
"Wah, kebetulan sekali, ya. Desamu itu sangat indah, Arini. Aku saja betah tinggal di sana. Walaupun terpencil, tetapi masyarakatnya sangat ramah, alamnya sangat indah dan yang pastinya gadis-gadis dari desa itu cantik-cantik!" lanjut Hendra sambil tertawa renyah.
"Ya, memang benar, Mas Hendra. Gadis-gadis di desa itu memang cantik-cantik." Arini pun ikut tertawa pelan.
__ADS_1
"Termasuk kamu," celetuk Hendra. Hendra segera menutup mulutnya ketika melihat ekspresi Arini yang mulai berubah. Wanita itu tiba-tiba diam dengan mata terus tertuju kepadanya.
Namun, itu hanya sementara. Arini kembali tersenyum setelah beberapa detik berikutnya. "Apa Mas sudah mendapatkan salah satu dari mereka?" tanya Arini.
"Siapa? Gadis-gadis itu?" Hendra kembali tertawa renyah. "Mana mau mereka sama aku, Arini. Lah, pemuda di sana jauh lebih ganteng dari aku," celetuknya lagi.
"Ish, Mas bisa aja," jawab Arini.
Tanpa mereka sadari Dodi sudah tiba di ruangan itu sambil memperhatikan kedekatan Arini dan Hendra. Ada rasa cemburu di hati lelaki itu ketika menyaksikan istrinya berbincang bersama lelaki lain. Ya, walaupun perbincangan mereka hanya perbincangan biasa saja.
Ehem!
"Mas, untunglah kamu datang," ucap Arini sembari memeluk tubuh Dodi.
"Ya, maafkan aku. Aku terlambat," jawab Dodi dengan tatapan datar yang masih tertuju kepada Hendra.
"Ini Mas Hendra, Mas. Dia yang mengantarkan aku dan Azkia ke tempat ini," ucap Arini lagi sambil memperkenalkan Dodi kepada Hendra.
"Hendra, Mas." Hendra mengulurkan tangannya kepada Dodi dan segera disambut oleh lelaki itu.
__ADS_1
"Dodi," jawab Dodi.
"Ehm, sebaiknya aku permisi dulu. Ibu pasti sudah menungguku," ucap Hendra kemudian. Ia menganggukkan kepala pelan sambil terus tersenyum kepada Dodi yang masih memasang wajah datar. Tak lupa, ia pun berpamitan kepada Arini.
Setelah kepergian Hendra, Dodi segera menghampiri tempat tidur si kecil Azkia. "Bagaimana kondisinya?" tanya Dodi dengan raut wajah sedih. Ada gurat penyesalan di wajah lelaki itu karena ia sempat tidak peka bahwa bayi mungilnya itu benar-benar sedang sakit.
"Sudah lebih baik, Mas. Tetapi Dokter meminta agar Azkia tetap dirawat selama beberapa hari untuk memantau kesehatannya," sahut Arini.
"Ya, tidak masalah. Yang penting Azkia benar-benar sembuh dan bisa kembali seperti semula." Dodi meraih pundak Arini kemudian memeluk istrinya itu.
"Ya, Mas. Kamu benar," sahut Arini.
"Oh ya, Arini. Tolong jaga jarak dari Hendra. Ya, walaupun dia orang yang baik dan tidak memiliki niat kepada kita. Namun, entah kenapa Mas tidak suka ketika melihatnya bersamamu," tutur Dodi.
"Hah?!" Arini terkejut ketika Dodi mengatakan hal itu. Ia mendongak dan menatap lekat wajah suaminya tersebut. Wajahnya tampak begitu serius dan tidak ada tanda-tanda bahwa lelaki itu tengah bercanda kepadanya.
Melihat ekspresi Dodi yang seperti itu, Arini tidak berani bertanya-tanya lagi walaupun sebenarnya ia bingung. Arini menganggukkan kepala. "Ya, baiklah, Mas."
...***...
__ADS_1