
"Serius, kamu ingin bekerja?" tanya Nyonya Arniz sambil tersenyum menatap Arini.
Arini mengangguk. "Ya, Nyonya. Saya sangat serius," jawab Arini dengan sangat antusias.
"Bagaimana kalau kamu ikut bekerja bersamaku? Kebetulan saat ini aku masih butuh satu karyawan lagi. Soalnya kemarin ada salah satu karyawanku yang berhenti kerja setelah melahirkan," tanya Nyonya Arniz lagi.
"Benarkah, Nyonya? Ta-tapi saya hanya lulusan SMP, saya tidak terlalu pandai," jawab Arini dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, aku serius, Arini. Dan soal itu, kamu tidak usah khawatir. Butik ini milikku, aku yang menentukan siapa yang akan menjadi karyawanku di sini dan jika kamu setuju, maka hari ini akan aku kasih seragam kerja buat kamu kenakan besok, bagaimana?"
"Ya, ya, Nyonya. Saya bersedia," jawab Arini dengan sangat antusias.
Sementara itu.
Di sebuah mesjid yang letaknya tak jauh dari kediaman Dodi dan Arini, masih dalam lingkungan komplek perumahan tersebut.
Beberapa kali Dodi mencoba menghubungi nomor ponsel Arini. Ia ingin bicara bersama istrinya itu sebelum acara pernikahannya bersama Anissa di mulai. Namun, sudah lebih dari puluhan kali ia mencoba menghubungi nomor ponsel istrinya itu, nomor ponsel Arini tetap tidak aktif.
__ADS_1
"Kamu kemana, Arini? Aku ingin bicara denganmu," gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba Bu Nining datang dan menghampiri Dodi yang sedang berdiri di salah satu pojokan Mesjid tersebut. Bu Nining menepuk pundak Dodi kemudian berucap kepada anak lelakinya itu.
"Sudahlah, Dodi. Sebaiknya untuk saat ini kamu fokus pada pernikahanmu bersama Anissa dan biarkan Arini sendiri untuk menenangkan diri," kata Bu Nining.
Dodi membuang napas berat. "Aku benar-benar merasa bersalah pada Arini, Bu. Aku tidak akan tenang selama dia tidak memaafkan kesalahanku," jawab Dodi dengan mata berkaca-kaca.
"Sebaiknya kita kembali ke acara, Dodi. Pak Penghulunya sudah datang dan sebentar lagi acara pernikahan kalian akan segera dimulai," ajak Bu Nining sembari meraih tangan Dodi dan mengajaknya kembali ke tengah acara pernikahannya.
Setibanya di ruang acara, ternyata Pak Penghulu sudah duduk di depan Anissa dan menunggu Dodi yang kini datang menghampiri mereka. Bu Nining menuntun Dodi dan kini lelaki itu duduk di samping Anissa yang terlihat cantik dengan kebaya pengantin modern.
Acara pernikahan sederhana itu pun dimulai. Setelah membaca doa dan sebagainya, Pak Penghulu pun bersiap menikahkan pasangan yang kini duduk di hadapannya. Lelaki paruh baya tersebut mengulurkan tangannya kepada Dodi dan segera disambut oleh Dodi.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Dodi Permana bin Jaya Permana dengan Anissa Rahma binti Rahmat dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap Pak Penghulu sambil menatap lekat kedua mata Dodi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anissa binti Rahmat dengan mas kawin yang disebutkan dibayar tunai," jawab Dodi, mulus tanpa hambatan.
__ADS_1
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya Pak Penghulu kepada para saksi yang duduk di samping kiri dan kanannya.
"Sah!" jawab para lelaki yang menjadi saksi di pernikahan Anissa dan Dodi.
"Alhamdulillah."
Sementara mereka semua terlihat lega, berbeda dengan Bu Ria yang ternyata juga hadir di pernikahan Anissa dan Dodi saat itu. Wanita itu terpaksa hadir karena Bu Nining memintanya.
Bu Ria menitikkan air matanya ketika Anissa sah menjadi istri ke dua Dodi. Hati wanita paruh baya itu sakit ketika membayangkan bagaimana perasaan Arini saat ini. Hancur dan kecewa pastinya. Apa lagi rasa sakit yang dirasakan oleh Arini datang secara bertubi-tubi.
"Di mana pun kamu berada, semoga kamu selalu diberikan ketabahan dan kesabaran yang tiada tara, Arini," batin Bu Ria.
Setelah sah menjadi istri ke dua Dodi, Anissa pun segera mencium tangan Dodi dan dibalas kecupan hangat di puncak kepalanya oleh lelaki itu. Tak lupa, Dodi juga menyematkan sebuah cincin emas seberat 5 gram di jari manis Anissa sebagai tanda bahwa Dodi serius menikahi wanita itu.
"Terima kasih, Mas." Anissa melemparkan senyuman manisnya kepada Dodi. Walaupun pernikahan mereka dilaksanakan dengan sangat sederhana, tetapi itu sudah cukup membuat Anissa bahagia. Ia bahagia karena sekarang statusnya dan juga Azkia sudah jelas dan tidak perlu ia sembunyikan lagi dari siapapun.
Sementara Dodi masih seperti orang linglung. Saat itu hati dan pikirannya hanya tertuju pada Arini yang saat ini tidak tahu di mana keberadaannya. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada istrinya itu.
__ADS_1
"Arini, pulanglah! Aku mohon," gumam Dodi.
...***...