
"Aw! Kenapa Mas mendorongku?" pekik Anissa sembari meringis menahan sakit karena Dodi mendorongnya dengan cukup keras.
"Bukankah aku sudah sering melakukan itu kepadamu dan kamu juga menyukainya, 'kan? Tapi, kenapa sekarang kamu malah menolak? Tidak usah munafik begitu lah, Mas!" sahut Anissa sambil tersenyum lebar menatap Dodi.
"Ayolah, Anissa! Lupakanlah aku dan lanjutkan hidupmu. Kamu masih muda, cantik dan aku yakin akan banyak laki-laki yang mengantri untuk mendapatkan cintamu. Lagi pula, saat itu aku hanya main-main denganmu karena cintaku hanya untuk Istriku. Maafkan aku," tutur Dodi sambil memohon kepada wanita itu.
Bibir Anissa bergetar dan matanya terlihat berkaca-kaca setelah Dodi mengatakan hal itu. "Kamu memang tega ya, Mas! Jika benar kamu memang mencintai Mbak Arini, kenapa kamu bermain api denganku di belakang Istrimu, ha? Ya, kamu benar! Aku bisa saja mendapatkan suami yang lebih baik dan lebih segala-galanya darimu. Tapi, ada yang kamu ketahui, Mas ...."
***
Beberapa menit kemudian.
"Sudah selesai! Tinggal panggil Mas Dodi, Anissa sama Ibu. Ehm, Bi Surti yang panggil Ibu, ya. Biar Arini yang panggil Mas Dodi," ucap Arini kepada Bi Surti.
"Baik, Non." Bi Surti mengangguk tanda setuju kemudian segera pergi menuju kamar Bu Nining, sementara Arini kembali ke kamarnya.
"Tumben Mas Dodi terlambat? Biasanya jam segini dia sudah menyusulku ke dapur," gumam Arini sembari melangkah menuju kamarnya. "Apa Mas Dodi tidur lagi ketika aku bangunkan tadi? Ah, mana mungkin Mas Dodi seperti itu. Lagi pula semua pakaian serta perlengkapannya sudah aku persiapkan."
Setibanya di depan pintu kamarnya. Arini melihat pintu kamarnya masih tertutup rapat. Ia membuka pintu kamarnya dan ternyata Dodi masih berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Loh, Mas. Kenapa tidak menyusulku ke dapur?" tanya Arini sembari menghampiri suaminya yang sedang mengenakan sepatunya sambil duduk di tepian tempat tidur. Arini ikut duduk di samping Dodi sambil memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.
"Maaf, Mas terlambat. Ini Mas baru saja selesai berpakaian," sahut Dodi.
"Tadi Mas tidur lagi ya, setelah Arini bangunin?" Arini kembali bertanya dan kini matanya tertuju pada wajah kusut Dodi. Tiba-tiba saja Arini menautkan kedua alisnya heran, karena ada yang berbeda dari wajah suaminya pagi itu. Bahkan mata lelaki itu terlihat sembab, seperti orang yang baru saja menangis.
"Mas? Mas kenapa? Mas habis nangis, ya?!" pekik Arini sambil memeriksa wajah Dodi.
Dodi terkekeh pelan kemudian meraih tangan Arini yang kini berada di wajahnya. Ia tersenyum kemudian menjawab pertanyaan dari istrinya itu. "Menangis apaan, sih? Mana ada sejarahnya Mas Dodi-mu ini menangis? Dasar kamu ini," sahut Dodi sambil mengacak pelan puncak kepala Arini.
Arini pun tersenyum dan ia sedikit lebih lega setelah mendengar jawaban dari lelaki itu. Tepat di saat itu Arini teringat akan bayi mungilnya, Azkia. Ia menoleh ke belakang dan ternyata bayinya sudah tidak ada di sana.
"Loh, di mana Azkia?" pekik Arini sembari bangkit dari posisi duduknya kemudian mencari-cari keberadaan si kecil itu.
"Oh. Ya, sudah lah. Sebaiknya kita ke dapur karena sarapan sudah siap," ajak Arini yang kembali memeluk lengan kekar Dodi.
"Yuk, lah!" Pasangan itu pun segera keluar dari kamar mereka. Namun, ketika melewati pintu kamar Anissa, Arini kembali berucap kepada Dodi.
"Mas duluan aja, ya. Aku ingin memanggil Anissa dulu biar dia ikut sarapan bersama kita. Soalnya pagi ini dia akan pergi ke kos-kosan temannya untuk mengambil kembali barang-barang yang ia titipkan kepada sahabatnya itu," tutur Arini.
__ADS_1
"Ya, baiklah. Aku tunggu di dapur ya, Sayang."
"Ya."
Setelah Dodi pergi, Arini segera mengetuk pintu tersebut sembari memanggil namanya. "Anissa, kamu di dalam?" tanya Arini.
"Ya, Mbak. Masuklah, pintunya tidak di kunci, kok."
Setelah mendengar jawaban dari wanita itu, Arini pun segera membuka pintu tersebut. "Nis, kita sarapan dulu, yuk!" ajak Arini yang hanya berdiri di ambang pintu.
"Baik, Mbak." Anissa yang sedang menggendong Azkia segera menghampiri Arini.
"Sini, biar Azkia ikut bersamaku. Kamu sarapan aja dulu," ucap Arini seraya meraih si kecil Azkia dari pelukan Anissa dan tak sengaja ia melihat mata Anissa yang terlihat sembab. Seperti orang habis menangis, sama seperti Dodi.
"Loh, Nis, matamu kenapa? Sepertinya kamu habis menangis, benarkah itu?"
Arini memperhatikan wajah Anissa dengan seksama dan entah kenapa ia jadi berpikir bahwa itu ada hubungannya dengan Dodi. Sebab Dodi pun sama, lelaki itu matanya terlihat sembab seperti habis menangis.
"Bukan, Mbak. Tadi sebelum menjemput Azkia, mataku kelilipan sesuatu. Karena perih, aku kucek terus dan akhirnya jadi seperti ini," jawabnya sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
Arini tersenyum dan mencoba percaya saja. Walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu jawaban Anissa saat itu tidak masuk akal. Tidak mungkin hanya karena kelilipan sesuatu, kedua belah mata Anissa sampai sembab seperti itu.
...***...