Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 142


__ADS_3

Arini berniat memberikan kejutan untuk Tuan Malik. Ia meletakkan kesebelas test pack bergaris dua tersebut ke dalam sebuah kotak yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Setelah selesai meletakkan kesebelas test pack tersebut ke dalam kotak, Arini menutup kemudian menghiasnya dengan pita satin berwarna merah.


Arini menatap kotak itu dengan mata berkaca-kaca kemudian menyimpannya ke dalam lemari agar aman. Sembari menunggu kedatangan Tuan Malik, Arini meminta para pelayan untuk memasak makanan favorit suaminya itu.


Di dapur.


Arini ingin ikut membantu para pelayannya menyiapkan makanan untuk Tuan Malik. Namun, ketiga pelayannya terus melarangnya. Para pelayan itu sudah pernah diwanti-wanti oleh majikannya tersebut untuk tidak membiarkan Arini membantu mereka.


"Sebaiknya Non Arini beristirahat saja. Tidak usah bantuin kami. Kalau Tuan Malik lihat, bisa-bisa beliau malah marah sama kami," ujar Bi Surti.


"Iya. Itu benar, Non." Yang lain ikut menimpali.


"Memangnya Mas Malik pernah marah, ya?" tanya Arini balik bertanya.


"Memang tidak pernah, sih. Tapi kami kan takut, Non. Takut Tuan Malik marah," sahut Bi Surti.


Arini menghela napas berat kemudian meletakkan kembali pisau dapur yang sedang ia pegang ke atas meja. Ia lalu duduk di kursi sambil memasang wajah masam.


"Ya, sudahlah kalau begitu. Biar aku duduk saja di sini."


"Ya. Sebaiknya Non Arini duduk saja." Bi Surti mengangguk pelan.


Selang beberapa saat kemudian.


Samar-samar terdengar suara mobil Tuan Malik yang terparkir di halaman depan. Arini bergegas bangkit kemudian menyusul ke halaman depan sambil berlari kecil. Ternyata benar. Tuan Malik telah kembali dan lelaki itu baru saja keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Ia tersenyum ketika melihat Arini yang datang mendekat ke arahnya. Apa lagi wajah Arini terlihat berseri-seri saat itu. Arini yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, segera memeluk tubuh lelaki itu tanpa peduli dengan para pekerja yang sedang memperhatikan mereka.


"Sepertinya kamu senang sekali. Boleh aku tahu kenapa?" tanya Tuan Malik sembari membalas pelukan Arini.


"Aku punya kejutan untukmu, Mas." Arini mendongak, menatap wajah tampan itu sambil tersenyum hangat.


"Benarkah? Mana kejutannya?"


"Ada di dalam, Mas."


Arini melerai pelukan mereka kemudian menuntun lelaki itu masuk ke dalam rumah. Setibanya di ruang utama, Arini meminta Tuan Malik untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Tunggu lah di sini sebentar, Mas."


"Baiklah, tapi jangan lama-lama karena aku sudah terlanjur penasaran."


Arini kembali tersenyum kemudian mundur beberapa langkah ke belakang sebelum ia berbalik dan meninggalkan Tuan Malik di ruangan itu. Tuan Malik pun tersenyum tipis memperhatikan Arini yang semakin menjauh kemudian menghilang dari pandangannya.


"Entah kenapa semakin hari Arini semakin membuatku gemas saja," gumamnya.


Tidak berselang lama Arini pun kembali ke ruangan itu dengan membawa sebuah kotak berhiaskan pita satin berwarna merah di tangannya. Tuan Malik melirik kotak tersebut sambil tersenyum.


"Apa itu?"


Tuan Malik ingin segera meraih kotak itu. Namun, Arini malah menolak memberikan dan menyembunyikannya di balik punggung.

__ADS_1


"Hadiahnya akan aku berikan, tapi sebelumnya kita makan dulu, ya!" ajak Arini sembari meraih tangan Tuan Malik dan membawanya ke ruang makan. Di mana seluruh makanan lezat favorit Tuan Malik sudah tersaji di atas meja.


"Wah, sebenarnya ada apa ini? Apa hari ini hari ulang tahunku?" ucap Tuan Malik sambil memperhatikan hidangan yang tersaji di atas meja makan.


Ia mencoba mengingat-ingat tanggal dan ia tahu bahwa hari ini memang bukan hari ulang tahunnya. Tuan Malik tersenyum lebar kemudian menarik sebuah kursi dan duduk di sana.


"Kebetulan aku memang sudah lapar," ucapnya lagi.


Arini pun segera menyusul. Ia duduk di samping Tuan Malik kemudian meletakkan kotak berisi test pack tersebut di atas meja. Tepatnya di antara dirinya dan Tuan Malik.


Karena begitu penasaran, Tuan Malik diam-diam meraih kotak tersebut dan mencoba mengintip isinya. Namun, Arini mengetahui hal itu. Ia memukul pelan tangan Tuan Malik kemudian meletakkan kotak tersebut jauh dari jangkauan Tuan Malik.


"Eits! Nanti dulu, Mas. Mas boleh mendapatkannya setelah kita selesai makan," ucap Arini.


"Baiklah kalau begitu. Mari kita makan," sahut Tuan Malik. "Oh ya, aku punya berita baik untukmu," lanjutnya.


"Apa?"


Arini mengisi piring Tuan Malik dengan beberapa menu favorit lelaki itu. Setelah dirasa cukup, ia pun mengisi piringnya dengan menu yang sama seperti milik suaminya.


"Kita sudah bisa membuka toko kita. Kapan kamu ingin memulainya? Tapi sebelum itu kita harus mengadakan acara syukuran terlebih dahulu."


"Benarkah?"


"Ya. Kamu bisa ajak Suci bekerja bersama kita. Bukan kah dulu Suci ingin ikut bersama kita?"

__ADS_1


"Ya, Mas. Nanti aku kasih tau Suci dan dia pasti akan sangat senang mendengarnya," sahut Arini dengan sangat antusias.


...***...


__ADS_2