
Malam itu setelah merapikan kembali rumahnya, Suci pun memilih menginap di kediaman Arini. Suci juga menemukan uang yang ditinggalkan oleh Angga di saku jaket. Sementara jaket tersebut dibiarkan begitu saja tergeletak di lantai kamar Suci.
"Syukurlah, ternyata uang itu masih menjadi milikmu, Suci. Sebaiknya kamu simpan ditempat yang aman, takutnya lelaki itu kembali dan memintanya lagi," ucap Hendra.
"Ya, Mas. Aku akan menyimpannya di tempat yang lebih aman." Suci tersenyum. "Oh ya, Mas Hendra, terima kasih banyak atas bantuannya. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika Mas Hendra tidak menolongku," lanjut Suci.
"Ya, sama-sama. Baiklah, aku pamit dulu. Dan ingat, kunci pintu dan jangan pernah membukanya jika lelaki itu tiba-tiba kembali. Hubungi nomor Pak RT dan minta bantuan para warga untuk mengusirnya," tutur Hendra kepada Arini dan Suci yang kini berdiri di depan pintu kontrakan milik Arini.
"Baik, Mas," sahut Arini dan Suci.
Setelah berpamitan kepada kedua wanita itu, Hendra pun segera pamit dan kembali ke kediamannya.
Beberapa minggu kemudian.
Di butik Zhanita Collection.
Pada saat istirahat makan siang, Arini terlihat duduk di sebuah kursi di samping meja kasir. Wanita itu terlihat sedang berpikir keras. Suci yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya itu, segera menghampiri dan kini berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Arini?" tanya Suci sembari menarik sebuah kursi kemudian duduk di sampingnya.
"Eh, Suci." Arini tersenyum tipis kemudian kembali memperhatikan layar ponselnya. "Aku lagi menghitung-hitung uang tabunganku, Suci," lanjut Arini.
"Cieee, yang punya banyak tabungan!" goda Suci sambil tertawa renyah dan tawa wanita itu terdengar hingga ke telinga Nyonya Arniz. Wanita itu penasaran dan akhirnya memilih menghampiri kedua karyawannya itu.
"Bukan begitu, Suci. Saat ini aku masih bingung apa uangku sudah cukup untuk mengurus perceraianku dengan Mas Dodi ke pengadilan," sahut Arini.
"Apa yang kalian bicarakan, sih? Sepertinya rame banget?" tanya Nyonya Arniz yang kini bergabung bersama kedua wanita itu.
"Arini, Nyonya. Dia sedang menghitung uang tabungannya yang akan ia gunakan untuk menggugat cerai Mas Dodi," jawab Suci sembari bangkit dari posisi duduknya kemudian menyerahkan kursi tersebut untuk Nyonya Arniz.
"Apa kamu serius soal itu, Arini? Apa keputusanmu sudah bulat ingin bercerai dari suamimu?" tanya Nyonya Arniz dengan wajah serius.
Arini membalas tatapan wanita itu. "Ya, Nyonya. Keputusan saya sudah bulat dan saya ingin bercerai darinya."
Nyonya Arniz sempat terdiam sejenak dan sepertinya wanita itu tengah memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Ehm, Arini. Suamiku punya seorang sahabat, namanya Tuan Hasan. Dia seorang pengacara handal. Jika kamu sudah bulat dengan keputusanmu, aku bisa meminta suamiku untuk bicara dengannya. Agar dia bisa membantu mengurus perceraian mu," tutur Nyonya Arniz kemudian dengan begitu antusias.
"Seorang pengacara?" Arini tersentak kaget. "Maafkan saya, Nyonya Arniz. Bukannya saya menolak bantuan Anda, tapi ... saya tidak punya cukup uang untuk membayar jasanya. Jangankan membayar jasa seorang pengacara, untuk mengurus perceraian ini saja, saya masih bingung apakah uang saya cukup atau tidak," sahut Arini sambil tersenyum kecut.
"Soal uang, jangan terlalu kamu pikirkan. Tenang saja!" sahut Nyonya Arniz sambil tersenyum lebar. "Lagi pula, jika suamiku yang memintanya, semuanya pasti gratisss!"
"Tapi, Nyonya," lirih Arini. Ia benar-benar tidak enak kepada majikannya tersebut.
"Sudah, kamu tenang saja. Nanti aku kabari lagi," sahut Nyonya Arniz sembari melenggang pergi dan masuk ke dalam ruangan pribadinya. Setelah kepergian Nyonya Arniz, Arini pun kembali ke pekerjaannya.
Beberapa jam kemudian.
Sebuah mobil berwarna merah menyala, masuk dan terparkir di depan butik Zhanita Collection. Arini yang sedang merapikan deretan koleksi pakaian mahal di tempat itu tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang yang baru saja keluar dari mobil tersebut. Seorang wanita yang begitu ia kenali. Wanita cantik, muda, dan berpenampilan seksi.
"Bukankah itu ...." ucapan Arini terhenti dan kini matanya tertuju pada sosok laki-laki yang sedang digandeng mesra oleh wanita itu.
Seorang laki-laki berperawakan gemuk dengan perut yang membulat. Kepalanya setengah pelontos, di bagian depan kepala botak dan di bagian belakang masih ada rambutnya dan itu pun sudah memutih.
__ADS_1
Walaupun begitu, wanita cantik itu terlihat sangat nyaman ketika bersama lelaki tersebut. Ia bahkan tidak malu mengumbar kemesraan bersamanya. Dan bukan hanya Sang Wanita, laki-laki yang sudah berusia di atas 50 tahun tersebut pun, tampak bahagia dan bangga saat berjalan bersama wanita muda tersebut. Wanita yang lebih cocok menjadi seorang anak perempuannya dari pada seorang kekasih.
...***...