Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 144


__ADS_3

"Bagaimana, Pak Kosim? Sudah ketemu Mamangnya?" tanya Tuan Malik via telepon.


"Sudah, Tuan. Tapi ...." Pak Kosim menghentikan ucapannya sambil berpikir sejenak.


"Tapi kenapa, Pak?" Tuan Malik mulai panik dan khawatir, takut terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan kepada Mamang penjual nasi goreng tersebut.


"Mamangnya memang sudah tidak berjualan lagi. Beliau sudah tidak sanggup mendorong gerobak karena faktor usia serta penyakit asam urat yang beliau miliki," sambung Pak Kosim.


"Ya, Tuhan!" pekik Tuan Malik dengan raut wajah sedikit kecewa. Itu artinya Arini dan calon bayinya gagal menikmati nasi goreng buatan Mamang.


Mendengar suara cemas Tuan Malik, Pak Kosim pun mencoba memberikan saran. "Begini, Tuan Malik. Tadi saya sempat berbincang-bincang bersama si Mamang. Saya ceritakan semua tentang Nona Arini dan beliau sanggup membuatkan nasi goreng untuk Nona jika Tuan memang menginginkannya."


Tuan Malik tersenyum lebar setelah mendengar penuturan dari Pak Kosim. Akhirnya ia bisa menghela napas lega karena calon bayinya tidak jadi 'ileran' sebab keinginannya akan jadi kenyataan.


"Ya-ya, Pak Kosim! Aku setuju. Bagaimana jika Mamangnya kita ajak ke rumah saja dan minta beliau untuk memasak nasi goreng dengan porsi besar. Biar kita semua bisa ikut menikmatinya," sahut Tuan Malik dengan sangat antusias.


"Baiklah, Tuan. Saya yakin si Mamang pasti akan sangat senang mendengarnya. Apa lagi saat ini kondisi ekonomi keluarga beliau semakin menurun dan beliau hanya mengandalkan penghasilan dari sang istri yang hanya bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangga mereka," tutur Pak Kosim.


"Hmm, kasihan si Mamang. Ya, sudah. Sampaikan saja keinginanku kepada beliau dan soal harga, tidak usah khawatir. Aku akan membayarnya 3 kali lipat dari harga normal."


"Ya, Tuan. Tentu saja," sahut Pak Kosim.


Setelah memutuskan panggilnya bersama Pak Kosim, Tuan Malik segera memberitahu soal si Mamang kepada Arini yang baru saja tiba di ruangan itu.

__ADS_1


"Sayang, kemarilah!" panggil Tuan Malik sembari menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya.


"Ada apa sih, Mas?" tanya Arini seraya menjatuhkan dirinya ke sofa, tepat di samping Tuan Malik.


"Apa kamu tahu, Sayang? Pantas saja selama ini kita tidak pernah ketemu sama si Mamang, sebab beliau sudah tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Kondisi beliau yang sudah mulai sakit-sakitan, membuat beliau terpaksa berhenti menjajakan nasi goreng buatannya," tutur Tuan Malik.


Arini tampak sedih setelah mendengar informasi terkini tentang si Mamang. Dulu ia dan Suci adalah pelanggan setia si Mamang. Selain harganya yang bersahabat, rasanya pun benar-benar pas di lidah mereka.


Tuan Malik tersenyum kemudian membelai pipi Arini dengan lembut. "Sudah, jangan pasang wajah sedih. Lagi pula si Mamang bersedia, kok, membuatkan nasi goreng spesialnya untuk kamu," lanjut Tuan Malik.


"Hah? Serius, Mas?" pekik Arini.


"Ya, Sayang! Mamang bersedia datang ke rumah kita dan membuatkan nasi goreng spesial buatannya untuk kita semua," jawab Tuan Malik.


Arini senang bukan kepalang. Ia refleks memeluk Tuan Malik sembari menciumi kedua pipi lelaki itu sebagai tanda terima kasihnya.


"Kenapa harus berterima kasih? Ini memang sudah kewajibanku. Apapun akan kulakukan untukmu dan juga bayi kita," sahut Tuan Malik sambil mengelus lembut perut Arini.


Keesokan harinya.


Ternyata Mamang dengan senang hati menerima tawaran Tuan Malik. Mamang merasa sangat senang karena akhirnya beliau bisa menambah pemasukan untuk keluarga kecilnya. Bukan hanya Mamang, bahkan sang istri pun tidak hentinya mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuan Malik sekeluarga.


Hari itu Mamang tiba di kediaman Tuan Malik. Kedatangan lelaki paruh baya itu disambut hangat oleh Arini langsung. Si Mamang memang terlihat berbeda dari sebelumnya. Terlihat dari cara berjalan beliau yang terseok-seok. Arini dan Tuan Malik sampai tidak tega melihatnya.

__ADS_1


"Begini saja, Mamang tidak usah ikut mengerjakan. Biar para pelayan saja yang membuatnya. Mamang cukup buatkan bumbunya dan kasih tahu bagaimana cara pengerjaannya," ucap Tuan Malik kepada si Mamang.


Tentu saja si Mamang senang. Beliau pun sadar bahwa dirinya tidak akan sanggup berlama-lama berdiri di depan kompor.


"Iya, Tuan. Terima kasih atas pengertiannya," ucap Mamang.


Mamang duduk di kursi yang ada di ruangan dapur. Sementara para pelayan mempersiapkan segala sesuatunya. Setelah Mamang selesai membuat bumbu untuk nasi goreng tersebut, para pelayan pun siap mengeksekusinya. Sesuai dengan petunjuk dari si Mamang.


Beberapa jam kemudian.


Nasi goreng buatan Mamang pun siap disajikan. Arini menikmati nasi goreng buatan Mamang dengan sangat lahap. Bukan hanya Arini, tetapi seluruh penghuni rumah megah itu pun tengah asik menikmati nasi goreng tersebut. Terkecuali Tuan Malik, lelaki itu sudah cukup kenyang dengan hanya menatap ekspresi wajah bahagia Arini.


"Kenapa kamu tidak mencicipinya, Mas? Nasi gorengnya benar-benar enak. Rugi kalo tidak dicoba. Benar 'kan, Bi?" Arini melirik Bi Surti yang juga sedang menikmati nasi goreng bikinan Mamang.


"Ya, itu benar, Tuan," jawab Bi Surti, meyakinkan.


"Nanti saja. Saat ini aku hanya ingin memandangimu," ucapnya pelan sambil tersenyum kepada Arini.


Arini menekuk manja wajahnya kemudian ia puan ikut tersenyum.


***


Selamat Hari Raya Idul Adha, Man-teman! 😘😘😘 Insyaallah, hari ini kalau sempat Author kasih dua bab, tapi kalo gak sempat berarti cuma satu bab ini, doang. 🤧🤧🤧

__ADS_1


Kalo kemarin Author sibuk menyiapkan buat hari ini, tetapi hari ini jadwal Author nyerang sotonya tetangga 🤣🤣🤣 (maklum makanan khas kami itu soto banjar 🤭 jadi kebanyakannya bikin soto atau sup ayam 🤭)


See you, Man-teman!!!


__ADS_2