Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 54


__ADS_3

"Arini!" panggil Hendra yang ternyata mengikuti langkah Arini dari belakang dengan menggunakan mobilnya.


Arini menoleh kemudian tersenyum setelah tahu bahwa yang memanggilnya adalah Hendra. "Mas Hendra?"


Hendra menepikan mobilnya tepat di samping Arini kemudian membuka pintu tersebut untuk wanita itu. "Masuklah," titahnya.


Arini tampak ragu memasuki mobil itu. Sebenarnya ia tidak ingin merepotkan Hendra. Selain itu, ia juga tidak ingin orang-orang berpikiran jelek tentang Hendra karena terlalu sering sekali membantunya.


"Ehm, sebaiknya aku naik ojek saja, Mas."


Hendra menautkan kedua alisnya. "Loh, kenapa? Apa Mas Dodi melarangmu untuk ikut bersamaku?"


"Aku hanya tidak ingin orang-orang berpikiran jelek tentang Mas Hendra. Apa lagi saat ini semua orang sudah tahu soal rumah tanggaku bersama Mas Dodi, yang tengah berada di ambang kehancuran," lirih Arini.


Hendra menghembuskan napas berat. "Ini yang terakhir kalinya! Aku berjanji padamu, aku tidak akan mengajakmu lagi. Namun, pintu mobil ini akan selalu terbuka lebar untukmu, Arini. Benda ini siap membawamu kemana pun kamu mau. Tinggal bilang saja, maka aku akan mengantarkanmu ke tempat tujuanmu," ucap Hendra, sembari menyunggingkan senyumannya.


"Baiklah," sahut Arini sambil tersenyum kecut.


Setelah Arini masuk ke dalam mobilnya, Hendra pun segera melajukan nya menuju butik milik Nyonya Arniz.


Hendra melirik Arini dan memperhatikan penampilannya yang terlihat sangat berbeda hari ini. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan setelan formal yang diberikan oleh Nyonya Arniz sebagai seragam kerjanya.


"Kamu cantik sekali, Arini," celetuk Handra sambil tersenyum manis menatap wanita itu.

__ADS_1


"Ehmm, Mas Hendra bisa saja. Mungkin aku terlihat cantik karena selama ini Mas Hendra sering melihatku dengan pakaian kusut dan kucel. Lalu, setelah melihatku dengan pakaian yang seperti ini, Mas Hendra melihatku berbeda," sahut Arini sambil memperhatikan penampilannya saat itu.


"Tidak juga," kilah Hendra. "Bagiku, walaupun kamu mengenakan pakaian kusut dan kucel sekalipun, kamu tetap terlihat cantik. Sungguh!"


Arini tertunduk malu. Ia menarik napas kemudian kembali menegakkan kepalanya. "Seandainya saja Mas Dodi juga berpikiran seperti itu, mungkin perselingkuhan itu tidak akan pernah terjadi. Mungkin saja selama ini Mas Dodi sudah bosan melihat diriku yang selalu kusut dan kucel, sementara Anissa, gadis itu selalu terlihat cantik dengan pakaiannya yang bagus serta mahal," ungkap Arini.


Hendra tidak berani berkata-kata. Ia menepuk pundak Arini sebagai penyemangat untuk wanita itu. Tidak terasa, mobil yang di kemudikan oleh Hendra pun tiba di depan butik Nyonya Arniz.


"Terima kasih banyak ya, Mas!" ucap Arini sambil melambaikan tangannya kepada Hendra.


"Sama-sama. Oh ya, apa aku boleh menjemputmu nanti sore?" tanya Hendra.


"Jangan, Mas! Tidak usah. Aku bisa naik ojek," tolak Arini.


Sementara itu di kantor Dodi.


Dodi yang baru saja tiba di kantor, segera melangkah menuju ruangannya. Namun, ketika di perjalanan menuju ruangan tersebut, salah seorang rekan kerja Dodi datang dan menghampiri lelaki itu dengan wajah kusut.


"Dodi, Pak Agus ingin bicara padamu," ucapnya sambil menepuk pundak Dodi.


Dodi terlihat bingung. Apa lagi setelah melihat raut wajah rekan kerjanya yang tampak kusut tersebut. "Ada apa, sih? Dan kenapa wajahmu terlihat kusut begitu?" tanya Dodi penasaran.


"Sebaiknya kamu temui saja Pak Agus. Aku benar-benar tidak berani berkata-kata, takut salah," jawab lelaki itu.

__ADS_1


Dodi menautkan kedua alisnya, heran. "Baiklah. Aku akan segera ke sana."


Dodi pun membatalkan niatnya menuju ruangannya. Ia berbalik arah dan kini berjalan menuju ruangan Pak Agus, atasannya.


"Sebenarnya ada apa, sih? Apa yang ingin dibicarakan oleh Pak Agus kepadaku. Ah, kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak begini?" gumam Dodi dengan wajah cemas.


Akhirnya Dodi tiba di depan ruangan Pak Agus. Dengan ragu-ragu, Dodi mengetuk pintu tersebut.


Tok ... tok ... tok ....


"Pak Agus. Ini saya, Dodi Permana," ucap Dodi sambil mengetuk pintu yang berdiri di hadapannya.


"Masuklah!" Terdengar suara laki-laki dari dalam ruangan.


Perlahan Dodi membuka pintu tersebut dan ia pun segera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tampak seorang laki-laki bertubuh besar dengan kepala setengah plontos sedang menatap tajam ke arahnya. Tatapan lelaki itu tampak begitu serius dan membuat perasaan Dodi semakin tidak nyaman.


"Duduklah!" titah lelaki berkumis tebal yang sering dipanggil Pak Agus tersebut.


Dodi pun segera masuk kemudian duduk di kursi yang letaknya tepat di hadapan meja kerja Pak Agus.


"Dodi, hari ini aku punya berita buruk untukmu," ucap Pak Agus sembari menyandarkan punggung ke sandaran kursi kerjanya.


"Berita buruk? Berita buruk apa, Pak?!" pekik Dodi dengan mata membulat sempurna.

__ADS_1


...***...


__ADS_2