Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 96


__ADS_3

"Bertahanlah, Sayang! Kumohon, bertahanlah!" Tuan Malik berjalan cepat di samping bed pasien yang sedang di dorong oleh beberapa orang perawat. Di mana Nyonya Arniz tergolek lemah dan tidak sadarkan diri di sana.


Tuan Malik terus terisak dan terlihat jelas di raut wajah lelaki itu bahwa ia tengah ketakutan. Ia begitu takut kehilangan Nyonya Arniz. Satu-satunya wanita yang mampu mengisi hatinya selama ini.


"Jangan tinggalkan aku, Arniz. Bukankah selama ini kamu telah berjanji kepadaku bahwa kamu akan terus menemaniku hingga kita tua? Jika kamu pergi, lalu untuk apa aku hidup di dunia ini," lirih Tuan Malik di sela isak tangisnya.


Para perawat yang tengah mendorong bed pasien tersebut, saling lempar pandang dengan sesama mereka. Mereka pun ikut sedih melihat kondisi Tuan Malik saat itu.


Lelaki berwajah tampan itu tampak hancur dan putus asa. Wajahnya yang selalu terlihat teduh kini berubah menjadi kusut. Kemeja mahal berwarna abu-abu yang ia kenakan, kini terlihat kucel dan warnanya pun sudah berbaur dengan warna merah pekat.


Kini mereka sudah tiba di depan ruang IGD. Tuan Malik menghentikan langkahnya dan membiarkan para perawat membawa tubuh Nyonya Arniz yang tidak berdaya masuk ke dalam ruangan itu.


Setelah memasuki ruangan itu, Nyonya Arniz segera ditangani oleh Dokter. Dokter melakukan pemeriksaan singkat dan cepat untuk mengetahui kondisi Nyonya Arniz.


Bukan hanya Nyonya Arniz, Pak Kosim pun sama. Lelaki itu kini sudah berada di bawah penanganan dan pengawasan seorang Dokter. Karena kondisinya jauh lebih baik dari Nyonya Arniz, persentase bertahan hidupnya pun jauh lebih tinggi dari majikannya tersebut.


Dengan wajah panik, Tuan Malik menunggu di luar ruangan. Menunggu salah datu dari tim medis keluar dari ruangan itu. Ia sangat berharap para tim medis memiliki kabar baik untuknya.


Sementara itu di butik Zhanita Collection.

__ADS_1


Berita tentang kejadian naas yang menimpa Nyonya Arniz pun sampai hingga ke butik miliknya. Seluruh karyawan di butik tersebut bersedih, terlebih Arini. Arini tak hentinya berdoa. Mendoakan keselamatan untuk Nyonya Arniz. Wanita yang sudah ia anggap seperti Kakaknya sendiri.


"Arini, sebaiknya kamu segera ke Rumah Sakit." ucap seorang wanita yang selama ini menjadi tangan kanan Nyonya Arniz di butik tersebut.


"Aku ikut!" Suci menghampiri Arini dan berdiri di sampingnya.


"Ya, kamu sama Suci. Kalian pergilah lebih dulu dan kami akan segera menyusul setelah jam kerja kami selesai," sambung wanita itu.


"Baiklah." Tentu saja Arini tidak menolak. Sebab sejak tadi ia memang sudah tidak sabar ingin pergi ke Rumah Sakit.


Setelah mendapatkan izin dari wanita itu, Arini dan Suci pun siap untuk berangkat. Baru saja Arini dan Suci ingin beranjak dari butik tersebut, tiba-tiba wanita itu kembali memanggilnya.


Arini dan Suci berhenti kemudian berbalik menghadap ke arah wanita itu. Wanita itu menyerahkan sebuah tas yang terbuat dari kertas tebal, yang bertuliskan logo Zhanita Collection.


"Ini kemeja dan celana untuk Tuan Malik. Kata pak sopir yang memberitahuku, saat ini pakaian Tuan Malik kotor dan Tuan sama sekali tidak ingin menggantinya. Ya, semoga saja kalian bisa membujuk lelaki itu untuk mengganti pakaiannya. Kasihan dia," lirih wanita itu.


Arini menyambut tas tersebut. "Baiklah. Semoga saja Tuan Malik bersedia mendengarkan kami," sahut Arini, walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa tidak yakin.


Arini dan Suci pun segera ke Rumah Sakit untuk mengetahui bagaimana kondisi Nyonya Arniz yang sebenarnya. Dengan menaiki taksi online, kedua wanita itu akhirnya tiba di depan Rumah Sakit. Setelah membayar jasa taksi online tersebut, mereka pun bergegas menuju ruangan di mana Nyonya Arniz masih dalam perawatan.

__ADS_1


Dari kejauhan Arini sudah melihat sosok Tuan Malik yang sedang duduk di sebuah kursi tunggu dengan kepala tertunduk menghadap lantai. Arini menyenggol pelan lengan Suci kemudian menunjuk ke arah Tuan Malik.


"Itu Tuan Malik. Aku yakin sekali dia pasti sangat sedih."


"Ya, iyalah, Arini. Kamu tahu sendiri 'kan, Tuan Malik itu tidak memiliki siapapun lagi selain Nyonya Arniz," jawab Suci.


"Masa, sih? Kok, aku baru tahu?"


"Hmmm, kamu ketinggalan cerita rupanya." Suci mendelik sambil mencebikkan bibirnya kepada Arini. "Nyonya Arniz pernah bercerita padaku soal Tuan Malik. Tuan Malik itu dulunya seorang yatim piatu. Dia sebatang kara dan dibesarkan di sebuah panti asuhan. Karena ketekunan dan kecekatannya, Tuan Malik akhirnya menjadi orang sukses seperti sekarang," lanjut Suci dengan sangat antusias.


"Hush, sudah! Nanti Tuan Malik nya dengar," ucap Arini ketika mereka sudah berada di dekat lelaki itu.


"Kamu sapa, gih!" Suci mencubit pelan lengan Arini.


"Loh, kok aku sih?" balas Arini.


Kedua wanita itu tampak canggung karena selama ini mereka hampir tidak pernah berbicara bersama lelaki itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2