Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 44


__ADS_3

Dodi memperhatikan Arini dengan seksama dan sekarang ia baru sadar bahwa ada yang berbeda dari wanita itu. Dodi begitu syok setelah menyadari kondisi tubuh Arini yang penuh dengan luka-luka.


"Arini, apa yang terjadi padamu? Luka apa ini?!" ucap Dodi dengan wajah cemas sembari memeriksa tubuh Arini.


"Tidak usah khawatirkan aku." Arini menepis tangan Dodi dengan kasar dan ia tidak ingin membahas apapun yang terjadi pada dirinya.


"Sekarang jawab pertanyaanku, Mas. Sejak kapan kamu mulai berhubungan dengan wanita itu?" tanya Arini dengan kepala tegak dan tatapan lurus ke depan, tanpa berkeinginan menatap wajah cemas Dodi yang masih berada di sampingnya.


Dodi membuang napas berat. "Kejadian itu terjadi kurang lebih satu tahun yang lalu. Ketika Anissa masih menjadi karyawati di perusahaan yang sama denganku. Aku dan Anissa memang sering ngobrol dan makan siang bareng, tapi sumpah demi Tuhan! Aku sama sekali tidak berniat serius dengannya. Aku hanya main-main,"


Arini tersenyum sinis sembari menyela penuturan Dodi saat itu. "Bermain-main katamu! Jika kamu hanya bermain-main dengannya, tidak mungkin Anissa sampai mengandung anakmu, Mas! Itu bukti bahwa kamu tidak bermain-main dengannya!"


"Aku benar-benar khilaf, Arini. Kejadian itu terjadi begitu saja. Aku dan Anissa,"


"Sudah cukup, Mas Dodi! Hentikan! Aku tidak ingin tahu bagaimana dan di mana kalian melakukan hal menjijikkan itu!" Arini menutup telinganya rapat dengan kedua tangannya.


Ia tidak sanggup jika harus mendengarkan bagaimana dan di mana Dodi melakukan hubungan terlarang itu bersama Anissa. Bukan hanya Arini, bahkan wanita manapun tidak akan sanggup mendengarkan cerita perselingkuhan suaminya dengan wanita lain.


Dodi mengusap wajahnya kasar. Lelaki itu bangkit dari posisi duduknya kemudian berjongkok di hadapan Arini yang sama sekali tidak ingin bertatap mata dengannya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Arini. Aku benar-benar sudah tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, besok aku harus menikahi Anissa demi status Azkia."


Arini menarik napas dalam kemudian mengembuskannya lagi. "Ceraikan aku," tegas Arini.


Dodi menggelengkan kepalanya. "Tidak, Arini! Kumohon jangan katakan itu! Aku tidak akan pernah menceraikanmu. Aku sangat mencintaimu, Arini. Sungguh," lirih Dodi dengan mata memerah, air mata lelaki itu menggenang di permukaan bola matanya dan hampir saja merembes keluar.


"Jika kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan pernah melakukan hal menjijikkan itu bersama wanita lain, Mas. Jangankan hanya satu Anissa, seribu Anissa pun tidak akan pernah mampu menggoyahkan imanmu jika kamu benar-benar mencintaiku," kesal Arini.


"Selama ini aku rela dihina, dicaci dan dimaki oleh Ibumu, demi apa? Demi mempertahankan hubungan kita. Aku benar-benar tidak menyangka, Mas. Di balik sikapmu yang begitu manis dan romantis, ternyata kamu menyimpan seribu kebusukan," lanjut Arini.


"Arini, aku ...." Dodi menundukkan kepalanya menghadap lantai dan ia tidak bisa berkata-kata lagi.


"Sekarang pergilah dan biarkan aku sendiri," titah Arini. Arini menarik kakinya yang menjulur di tepian tempat tidur kemudian berbaring dengan posisi membelakangi Dodi.


"Baiklah, Arini! Sekarang fokuslah pada dirimu sendiri! Buktikan pada mereka bahwa kamu bukanlah wanita lemah!" gumamnya.


Arini bangkit dan menghampiri lemari pakaian yang berdiri di salah satu sudut kamarnya. Ia mengobrak-abrik isi lemari tersebut untuk mencari sesuatu di dalam sana. Setelah menemukannya, ia pun mulai memikirkan hal lain yang mungkin dapat mengubah nasibnya.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Arini sudah berpakaian rapi. Dengan membawa sebuah map berwarna coklat, Arini keluar dari kamarnya. Ketika melewati ruang televisi, Arini melihat Bu Nining, Anissa dan Dodi tengah berbincang serius di ruangan itu.


Entah apa yang mereka bicarakan, Arini pun tidak mau tahu dan tidak peduli. Ia meneruskan langkahnya tanpa mempedulikan ketiga orang tersebut. Namun, baru beberapa langkah Arini melewati mereka, Dodi berdiri dan memanggilnya.


"Arini, kamu mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Dodi sembari memperlihatkan penampilan Arini saat itu. Arini terlihat rapi dengan kemeja serta celana kain yang kini membalut tubuhnya.


Ya, saat itu Arini mengenakan pakaian lamanya. Pakaian yang ia miliki sebelum menikah dengan Dodi. Walaupun begitu, Arini terlihat berbeda dan semakin cantik di mata lelaki itu.


Arini menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Dodi yang kini berjalan menghampirinya. Wanita itu tersenyum sinis sambil menatap wajah kusut Dodi dengan lekat.


"Aku ingin menenangkan diri sejenak dan sebaiknya Mas tidak usah repot-repot memikirkan aku. Urus saja urusan Mas sendiri sebab tanggung jawabmu akan semakin banyak setelah pernikahan ini," jawab Arini yang kemudian kembali meneruskan langkahnya.


"Heh, Arini! Kamu tidak boleh bicara kasar seperti itu kepada Dodi. Biar bagaimanapun Dodi masih suami kamu! Apa kamu tidak takut kualat, ha!" kesal Bu Nining.


Arini terkekeh pelan tanpa menghentikan langkahnya. Sementara Dodi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia menatap punggung Arini yang kini semakin menjauh dari pandangannya.


"Sabar, Bu." Anissa mengelus punggung Bu Nining, mencoba menenangkan wanita paruh baya itu.


"Tapi, dia sudah mulai berani berontak, Anissa. Jika dibiarkan, kelakuannya akan semakin menjadi-jadi," sahut Bu Nining.

__ADS_1


"Sudahlah, Bu. Cukup! Jangan bicara yang tidak-tidak soal Arini," kesal Dodi sembari melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.


...***...


__ADS_2