
Setelah menerima uang hasil menjual ponselnya, Arini pun kembali melangkahkan kakinya menelusuri jalan. Sesekali ia menghentikan langkahnya di depan toko ataupun warung-warung di pinggir jalan yang ia lewati hanya untuk sekedar bertanya apakah di tempat itu ada lowongan pekerjaan untuknya.
Namun, sama seperti yang sudah ia pikirkan sebelumnya, lulusan SMP seperti dirinya akan sangat sulit mencari pekerjaan, apa lagi di kota besar. Rata-rata minimal pendidikan yang mereka cari adalah lulusan SMA sederajat.
Arini tampak begitu kelelahan. Keringat pun sudah mulai keluar dari pori-pori kulit wajah dan seluruh tubuhnya. Kemeja yang ia kenakan saat itu pun terlihat basah. Apa lagi saat ini mata hari sudah berada tepat di atas kepalanya.
Arini menghentikan langkahnya di depan sebuah toko yang sedang tutup, untuk melepaskan penatnya. Mata wanita itu kini tertuju pada sebuah butik yang berdiri megah di seberang jalan.
Arini memperhatikan aktivitas di dalam butik tersebut dari kejauhan. Ia sangat yakin bahwa tidak sembarang orang bisa melamar pekerjaan di tempat itu. Seragam kerja para karyawan di butik itu saja sangat bersih dan rapi. Tidak kalah dengan orang-orang yang bekerja di kantoran.
"Khayalanmu terlalu tinggi, Arini. Tidak mungkin lah seseorang sepertimu bisa bekerja di sana! Memangnya kamu lulusan apa?" gumam Arini sambil tersenyum sinis menatap map berwarna coklat yang sejak tadi ia pegang.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan butik mewah tersebut. Tampak seorang wanita dengan pakaian yang begitu modis keluar dari mobil tersebut kemudian melenggang memasuki tempat itu.
Tiba-tiba mata Arini menangkap sebuah benda jatuh yang terlihat sangat berkilau ketika terkena pantulan sinar matahari. Benda berkilau itu terjatuh tepat di saat wanita modis itu berjalan memasuki butik tersebut.
Arini yakin, benda itu adalah sebuah perhiasan milik wanita itu. Namun, sayangnya wanita itu sama sekali tidak menyadarinya.
"Aku yakin benda itu adalah perhiasan milik wanita itu. Sepertinya aku harus mengambilnya kemudian mengembalikannya kepada Sang Pemilik," gumam Arini.
__ADS_1
Walaupun saat itu cuacanya begitu panas menyengat. Namun, hak itu tidak membuat semangat Arini kendor untuk membantu orang lain. Arini menyeberang jalan sambil berlari kecil hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan benda berkilau tersebut.
Ternyata benar apa yang pikirkan oleh Arini saat itu. Benda berkilau itu adalah sebuah perhiasan berupa gelang cantik dengan batu permata yang menghiasi di sekelilingnya. Arini meraih gelang itu kemudian memperhatikannya dengan seksama.
Gelang itu sangat cantik, Arini pun sangat tertarik melihat benda cantik nan mahal tersebut. "Aku yakin harganya pasti sangat mahal," gumam Arini.
Tanpa Arini sadari, salah satu karyawan di butik tersebut memperlihatkan dirinya dari balik kaca. Wanita itu terperanjat seraya berteriak kepada teman-temannya. "Eh, itu gelangnya bukan, sih? Yang sedang dipegang oleh wanita itu!" pekiknya.
"Mana, mana, mana!" Para karyawan yang lainnya berbondong-bondong memperhatikan Arini yang masih asik berdiri sambil memegang gelang cantik itu.
"Ya, benar! Itu gelangnya," jawab lainnya.
Arini begitu terkejut, ia tidak tahu kenapa orang-orang itu menarik tangannya dengan kasar hingga ia merasa kesakitan. "Aduh, sakit! Kenapa kalian menarik tanganku seperti ini?!" pekik Arini dengan wajah heran.
"Diam kamu! Dasar pencuri! untung ketahuan," kesal salah satu dari mereka dengan wajah sinis menatap Arini.
"Pencuri? Aku bukan pencuri!" Arini tidak terima ketika wanita itu menyebutnya pencuri. Ia tidak mengerti kenapa orang-orang itu tiba-tiba menyebutnya sebagai pencuri.
"Bukan pencuri apanya? Kenapa kamu masih mengelak, bukankah barang bukti sudah ada di tanganmu," sahut orang itu sembari mengambil gelang cantik itu dari genggaman Arini.
__ADS_1
"Ya, Tuhan! Kalian salah paham! Aku tidak mencuri, aku menemukan gelang ini di sana dan berniat mengembalikannya dengan pemilik gelang ini," sahut Arini.
"Hah, alasan! Sudah ketahuan 'kan, makanya kamu bilang seperti itu," kesal yang lainnya.
Tepat di saat itu dua orang penjaga keamanan di butik tersebut menghampiri mereka. Kedua lelaki itu berniat mengamankan Arini. Wajah Arini pucat pasi, keringat dingin keluar dari pelipisnya.
"Ya Tuhan! Cobaan apa lagi ini?" Arini sempat menitikkan air mata kemudian menyekanya dengan cepat. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah menangis lagi walaupun cobaan itu teramat berat baginya.
"Di mana Nyonya?" tanya salah satu petugas keamanan.
"Di dalam ruangan pribadinya. Nyonya sedang menelepon suaminya saat ini," jawab salah satu karyawan butik tersebut.
"Kita tunggu Nyonya hingga selesai, baru kita bertindak terhadap wanita ini," sambung Petugas keamanan lainnya.
"Sayang sekali ya, cantik-cantik kerjaannya maling," ucap salah satu karyawan butik tersebut sambil tersenyum sinis kepada Arini.
"Aku bukan maling! Jika kalian tidak percaya, silakan cek CCTV. Aku yakin tempat semegah ini pasti ada CCTV-nya! Dan satu lagi, aku memang miskin dan tidak berpendidikan, tetapi aku masih dapat membedakan mana hak ku dan mana yang bukan!" tegas Arini.
Wanita yang menyebutnya maling, seketika bungkam setelah mendengar jawaban dari Arini.
__ADS_1
...***...