
"Kalian siapa?" tanya Arini kepada pasangan suami-istri yang kini berdiri di hadapannya. Pasangan itu tersenyum hangat dan kemudian memperkenalkan nama mereka kepada Arini.
"Kenalkan, namaku Arniz Zhanita dan ini suamiku, namanya Malik Abraham. Kalau kamu?" tutur wanita itu sambil mengulurkan tangannya kepada Arini.
Arini menyambut uluran tangan pasangan itu sembari menyebutkan namanya. "Saya Arini."
"Maafkan kami, Arini. Kami tidak sengaja menabrakmu. Pak Kosim tidak menyadari keberadaanmu saat itu. Dan kejadian itu terjadi dengan sangat cepat hingga Pak Kosim tidak bisa menghentikan mobilnya tepat waktu," tutur Nyonya Arniz dengan penuh rasa bersalah.
Beruntung Arini hanya mengalami luka-luka yang tidak terlalu parah. Walaupun begitu, Arini sempat mendapatkan beberapa jahitan pada luka di pelipisnya akibat kecelakaan itu.
Arini tersenyum kecut. "Sebenarnya ini bukan salah kalian, tapi murni karena kesalahan saya. Karena saya tidak menoleh kanan-kiri ketika menyebrang, akhirnya terjadilah kejadian itu," jawab Arini. "Seharusnya saya berterima kasih sekaligus meminta maaf karena sudah merepotkan kalian," lanjut Arini dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan berkata seperti itu, Arini. Ini sudah menjadi tanggung jawab kami. Benar 'kan, Dad," jawab wanita itu dan dibenarkan oleh Sang Suami, Tuan Malik.
Sementara Bu Arniz dan Arini sedang asik berbincang di ruangan itu, Tuan Malik memilih kembali menunggu di luar ruangan sambil berbincang bersama Pak Kosim, sopir pribadi Nyonya Arniz.
Nyonya Arniz menceritakan bahwa ia dan Pak Kosim baru saja dari bandara. Menjemput Tuan Malik yang memang kerjanya bolak-balik dari negara asalnya, ke negara asal Nyonya Arniz. Namun, siapa sangka di tengah perjalanan pulang, mereka malah mendapatkan musibah yang tidak mengenakkan itu.
__ADS_1
Beberapa kali Nyonya Arniz mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Arini, tetapi Arini tetap menutup mulutnya. Ia tidak ingin menceritakan masalahnya kepada siapapun. Apalagi kepada Nyonya Arniz, orang yang baru saja ia kenal.
"Oh ya, soal biaya Rumah Sakit dan sebagainya, kami yang tanggung semuanya dan ini kartu namaku. Pokoknya kalau kamu butuh apa-apa, hubungi saja nomorku, okey!" tutur Nyonya Arniz kepada Arini sembari menyerahkan kartu namanya.
Arini menyambut kartu nama tersebut kemudian menyimpannya. "Terima kasih banyak, Nyonya Arniz," sahut Arini sambil tersenyum hangat menatap pasangan itu.
"Sama-sama, Arini."
Karena ada sesuatu hal yang penting, yang tidak bisa mereka tinggalkan, akhirnya pasangan itu memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka. Kini tinggal Arini yang masih beristirahat di ruangan itu. Sementara Pak Kosim berjaga di luar, lelaki itu ditugaskan oleh Tuan Malik untuk menjaga Arini hingga besok pagi, saat Arini diperbolehkan pulang.
"Ya, Tuhan! Pantas saja Mas Dodi tidak ingin memecat Anissa. Ternyata Anissa adalah Ibu kandung dari Azkia dan bodohnya aku, aku sampai tidak mencurigai hal itu!" gumam Arini sambil menitikkan air matanya kembali.
"Sejak kapan mereka menjalin hubungan di belakangku? Kenapa aku tidak tahu? Bahkan selama ini Mas Dodi selalu berada di rumah dan tidak pernah berprilaku aneh," tutur Arini lagi, yang tidak habis pikir bagaimana Dodi bisa mengkhianati dirinya.
Sementara itu di kediamannya, Bu Nining pun tidak bisa tidur. Selain karena mencemaskan Dodi dan Arini yang belum juga kembali, si kecil Azkia pun terus menangis merindukan sosok Arini yang selama ini Ibu baginya.
"Dodi, Dodi! Ibu tidak menyangka ternyata kamu memiliki masalah serumit ini! Ibu sendiri tidak tahu harus bagaimana? Ini aib yang begitu memalukan, bagaimana jika orang-orang mempertanyakan masalah ini? Dan bagaimana cara kita menjelaskannya kepada mereka," kesal Bu Nining sambil mencoba menenangkan Azkia yang tidak mau diam dan terus menangis histeris.
__ADS_1
Tangisan Azkia terdengar hingga ke telinga Bu Ria. Bu Ria tahu bahwa Bu Nining tidak akan bisa menenangkan bayi mungil itu. Selama ini Bu Nining tidak pernah sekalipun menyentuh bayi mungil itu, apa lagi mengajaknya bermain.
"Hendra, Ibu mau ke rumah Bu Nining dulu. Ibu tidak tega mendengar suara tangisannya," ucap Bu Ria kepada Hendra yang ternyata juga tidak bisa tidur karena mencemaskan keberadaan Arini.
"Baiklah, Bu. Sini, biar aku temani. Kalau bisa, ajak saja sekalian Azkia ke sini, sementara Arini dan Dodi belum kembali," sahut Hendra.
"Ya, kamu benar."
"Memangnya apa yang terjadi pada mereka? Apa Bu Nining menceritakannya kepada Ibu?" tanya Hendra yang ternyata juga sangat penasaran dengan menghilangnya Dodi, Anissa dan Arini sejak kemarin sore.
"Ibu tidak tahu kebenarannya, tetapi menurut tetangga, kemarin Dodi dan Anissa dibawa ke Kantor Polisi untuk dimintai keterangan soal penemuan bayi Azkia dulu. Ada yang bilang, Anissa adalah Ibu kandung Azkia. Sementara Arini, Ibu tidak tahu kenapa ia pergi dari rumah. Tapi kalau Ibu perhatikan, Arini memang seperti sedang punya masalah berat," jawab Bu Ria.
"Ya, Tuhan!" pekik Hendra sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mulai berpikir macam-macam soal hubungan Dodi dan Anissa.
#Maaf jika Author tidak bisa membuat Arini pergi dari rumah mereka karena dari sanalah Arini akan belajar menjadi wanita yang kuat, berani dan tidak bergantung kepada siapapun lagi. 😘🙏
...***...
__ADS_1