Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 128


__ADS_3

"Bagaimana pertemuanmu dengan Mas Hendra, Ci? Dia bahas apa? Ya, Tuhan! Aku sangat penasaran, loh!" tanya Arini kepada Suci melalui ponselnya.


"Apa kamu tahu, Arini? Ternyata Mas Hendra menerima cintaku!" jawab Suci sembari menjerit kegirangan.


Arini pun tidak kalah bahagianya mendengar penuturan sahabatnya itu. "Ya, Tuhan! Selamat ya, Suci. Aku ikut senang mendengarnya."


"Kata Mas Hendra, jika kami saling cocok maka dia akan segera melamarku," sambung Suci dengan wajah semringah.


"Semoga secepatnya ya, Suci. Lagi pula aku rasa kalian cocok, kok," jawab Arini dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar sangat senang sekaligus merasa terharu.


"Oh ya, Arini. Bagaimana hubunganmu dengan Tuan Malik? Pastinya sudah tidak canggung lagi, 'kan? Ngomong-ngomong, tadi malam berapa ronde?" tanya Suci sambil tergelak.


Arini tersipu malu dan wajahnya pun tampak memerah. "Apaan sih, Ci. Jangan tanya berapa ronde. Mas Malik bahkan masih belum siap melakukan itu."


"Ck, ck, ck!" Suci berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Trus, kapan pendekatannya kalo begitu, Rin? Goda aja, goda! Lagian kamu 'kan sudah sah menjadi istrinya."


Arini terkekeh pelan mendengar celetukan sahabatnya itu. "Iya, iya. Nanti akan kucoba."


"Eh, sudah dulu ya, Rin. Ada Big Boss datang! Nanti dia malah teriak-teriak lagi."


Belum sempat Arini membalas ucapannya, panggilan itu sudah diputuskan oleh Suci. Arini menatap layar ponselnya sambil tersenyum tipis kemudian kembali meletakkannya ke atas nakas.

__ADS_1


Tepat di saat itu, Tuan Malik keluar dari balik kamar mandi. Ia memperhatikan Arini yang duduk di tepian tempat tidur sambil tersenyum menatapnya.


"Siapa?" tanya Tuan Malik yang begitu penasaran ketika ia melihat ekspresi Arini.


"Suci, Mas. Suci dan Mas Hendra akhirnya resmi jadian dan aku sangat senang mendengarnya. Apalagi Mas Hendra benar-benar serius menjalin hubungan bersama Suci. Katanya mereka akan segera menikah," jawab Arini sembari menghampiri Tuan Malik yang sedang mengeringkan rambutnya yang masih basah.


Tuan Malik memalingkan wajahnya dari Arini untuk menyembunyikan senyuman tipis yang kini tersungging di wajahnya.


"Baguslah kalau begitu."


"Apa pikiran kita sama, Mas? Mereka terlihat cocok, 'kan?"


"Ya. Menurutku cocok-cocok saja," jawabnya pelan.


"Oh ya, ini kemeja serta celanamu, Mas. Aku tidak tahu apakah pilihanku ini sesuai dengan selera Mas atau tidak. Tapi, jika Mas tidak menyukainya, aku bisa mengambilkan yang lain," ucap Arini.


Malik melirik kemeja serta celana yang ditenteng oleh Arini kemudian kembali tersenyum tipis.


"Apa Mas tidak menyukainya? Jika, ya. Aku akan ambilkan kemeja yang lain." Arini ingin melangkah dengan membawa kemeja itu kembali ke lemari pakaian. Namun, Tuan Malik segera menahannya. Ia meraih tangan Arini kemudian berucap.


"Tidak usah. Aku pilih yang ini saja," jawab Tuan Malik sembari mengambil kemeja yang ada di tangan Arini kemudian mengenakannya.

__ADS_1


"Biar aku bantu, Mas."


Arini membantu Tuan Malik mengancingkan kemejanya tanpa merasa canggung sedikit pun. Sementara Tuan Malik dengan susah payah mencoba menutupi rasa gugupnya. Ia terus menatap wajah Arini yang terlihat sangat tenang.


Setelah selesai membantu Tuan Malik mengenakan pakaiannya, Arini pun segera menyerahkan celana yang masih menggantung di lengannya kepada lelaki itu.


"Ini celanamu, Mas. Untuk yang satu ini Mas pasti tidak ingin aku membantu Mas, 'kan?" Arini tersenyum hangat.


Setelah mengatakan hal itu, Arini pun segera membalikkan badannya dan memberikan waktu untuk Tuan Malik. Tuan Malik menghembuskan napas panjang kemudian melepaskan handuk yang masih melilit di pinggangnya.


Lelaki itu tersentak kaget ketika ia melihat sang junior yang tiba-tiba menegang. Entah apa sebabnya, ia pun tidak mengerti. Dengan cepat Tuan Malik menutupi benda itu dengan celana boxer kemudian ditimpa lagi dengan celana formal yang tadi diberikan oleh Arini barusan.


"Aku sudah selesai, kamu bisa berbalik sekarang."


Arini pun berbalik dengan cepat sambil menyunggingkan senyuman. Ia memindai penampilan Tuan Malik dari atas kepala hingga ke mata kaki. Terlihat begitu sempurna, tetapi masih ada yang menggangu penglihatannya. Rambut Tuan Malik yang terlihat masih berantakan.


"Kemarilah, biar aku bantu merapikan rambutmu, ya." Arini menarik pelan tangan Tuan Malik dan membawanya ke depan meja rias.


"Karena Mas tidak mengizinkan aku membantu bibi di dapur, jadi sekarang tugasku hanya mengabdi untukmu, Mas."


Tuan Malik menurut saja. Ia duduk di kursi depan meja rias kemudian membiarkan Arini merapikan rambutnya yang tebal dan hitam pekat itu. Lelaki itu terdiam sambil memperhatikan bayangan Arini di cermin. Ia tidak mengerti kenapa Dodi bisa mengkhianati wanita sebaik Arini.

__ADS_1


"Sekarang aku mengerti kenapa Arniz ingin aku menikahi Arini. Selain baik, Arini juga butuh seseorang yang dapat melindunginya. Dan semoga aku bisa menjadi lelaki yang seperti diharapkan olehnya selama ini," gumam Tuan Malik dalam hati.


...***...


__ADS_2