Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 92


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


"Sayang, biasanya apa yang kamu lakukan jika aku tidak ada di rumah?" Tanya Tuan Malik kepada Nyonya Arniz yang sedang asik bersandar di dada bidangnya. Sementara lelaki itu bersandar di sandaran tempat tidur mewah mereka.


Nyonya Arniz mendongak sembari menatap kedua bola mata nan indah milik Tuan Malik. "Tidak ada. Aku benar-benar suntuk jika kamu tidak ada di rumah ini, Sayang. Dan itu akan terjadi lagi besok," sahut Nyonya Arniz sambil menekuk wajahnya dengan manja.


Tuan Malik tertawa pelan. Lelaki itu melabuhkan sebuah ciuman hangat di kening Nyonya Arniz dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat. Seolah tidak ingin melepaskannya. "Hanya untuk beberapa hari saja, Sayang. Aku berjanji padamu, setelah pekerjaanku selesai, aku akan segera kembali lagi ke sini," jawab Tuan Malik.


Kedua pasangan itu pun larut dalam perasaan mereka. Pelukan mereka semakin erat saja dan kehangatannya membuat mereka benar-benar merasa nyaman satu sama lain.


"Aku mencintaimu, Malik Abraham!"


"Aku juga, Arniz Zhanita. Aku sangat-sangat mencintaimu," sahut Tuan Malik sambil terkekeh pelan.


"Sayang," panggil Nyonya Arniz.


"Ya?"


"Apa kamu tidak berkeinginan memiliki seorang anak?" Belum habis Nyonya Arniz berkata-kata, Tuan Malik sudah menyela ucapannya sambil berdecak sebal.

__ADS_1


"Ck! Bahas ini lagi," sela Tuan Malik sambil memasang wajah malas.


"Sayang, ayolah! Dengarkan aku dulu," rengek Nyonya Arniz dengan manja.


"Oke, oke! Baiklah. Sekarang katakan lah dan aku akan memasang telingaku dengan baik agar bisa mendengarkan ucapanmu dengan baik," sahut Tuan Malik, yang sebenarnya masih enggan membahas soal itu.


"Sayang, di antara kita yang bermasalah itu adalah aku. Aku lah yang selama ini tidak bisa memberikanmu seorang generasi penerus. Kamu masih normal, kamu masih bisa menjadi seorang Ayah," tutur Nyonya Arniz sambil mendongak menatap wajah malas Tuan Malik.


"Lalu?" Tuan Malik membalas tatapan Nyonya Arniz, tetapi ekspresi wajahnya masih sama. Lelaki itu benar-benar tidak suka membahas masalah yang satu ini.


"Apa kamu tidak berkeinginan untuk mencari seorang wanita yang bisa mengandung benihmu?"


"Arniz!" tegas Tuan Malik yang mulai kesal dengan pembicaraan mereka kali ini.


Tuan Malik menggelengkan kepalanya kemudian memeluk tubuh Nyonya Arniz lebih erat lagi. "Tidak, Arniz. Aku tidak mau. Jika seandainya kamu pergi lebih dulu dariku pun, aku berjanji akan tetap dengan kesendirianku."


"Sayang," lirih Nyonya Arniz.


"Sudah. Aku mengantuk dan sebaiknya kita tidur. Aku tidak ingin ketinggalan pesawat," sela Tuan Malik sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


Pasangan itu pun akhirnya tertidur dengan posisi saling berpelukan. Posisi favorit mereka sejak dulu.


Ke esokan harinya.


"Aku berangkat dulu. Jaga diri baik-baik, ya!" Tuan Malik kembali melabuhkan ciuman hangatnya di puncak kepala Nyonya Arniz dan ini entah ciuman yang ke berapa.


"Ya, Sayang. Kamu juga, ya!" sahut Nyonya Arniz.


Sebelum melepas kepergian Tuan Malik, Nyonya Arniz kembali memeluk lelaki itu dengan erat. Begitu pula Tuan Malik, ia semakin erat membawa tubuh Nyonya Arniz ke dalam pelukannya. Entah kenapa hari itu perasaan Tuan Malik begitu berat meninggalkan Nyonya Arniz sendirian.


"Kenapa wajahmu kusut begitu, Sayang? Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?" tanya Nyonya Arniz setelah melerai pelukannya bersama lelaki itu.


"Sebenarnya tidak ada. Hanya saja aku merasa tidak enak meninggalkan kamu di sini sendirian. Apa sebaiknya kamu ikut saja bersamaku? Temani aku pulang," sahut Tuan Malik sembari mengelus lembut pipi Nyonya Arniz.


Nyonya Arniz pun tertawa pelan. "Ih, Sayang. Aku sebenarnya mau! Tapi, masih banyak yang harus aku urus di butik. Apa lagi ini 'kan akhir bulan. Pekerjaan kami di butik semakin menumpuk," jelas wanita itu.


Tuan Malik mengangguk pelan kemudian masuk ke dalam mobilnya yang dikemudikan oleh seorang sopir pribadi. Setelah duduk manis di dalam sana, Tuan Malik pun segera melambaikan tangannya kepada Nyonya Malik.


"Selamat jalan, Sayang! Sampai bertemu lagi," ucap Nyonya Arniz sambil membalas lambaian tangan Tuan Malik.

__ADS_1


"Ya!" balas Tuan Malik.


...***...


__ADS_2