
"Terima kasih ya, Mas Hendra. Seandainya Mas Hendra tidak membantuku, aku tidak tahu harus bagaimana," lirih Arini kepada lelaki yang tadi mengantarkannya ke Rumah Sakit.
Hendra Setiawan, lelaki itu tersenyum hangat kemudian menepuk pundak Arini pelan. "Tidak masalah, Arini. Lagi pula kita bertetangga. Jadi, wajar saja jika kita saling membantu," jawab Hendra.
Arini membalas senyuman lelaki itu kemudian kembali fokus pada Azkia yang kini masih tergolek di atas tempat tidur pasien dengan selang infus yang tertancap di tangan mungilnya.
Arini lega karena akhirnya si kecil Azkia sudah ditangani oleh para pihak medis. Si kecil Azkia juga sudah mulai tenang kembali dan suhu tubuhnya perlahan mulai turun.
"Apa kamu sudah memberitahu suamimu, Arini?" tanya Hendra kemudian.
Arini membulatkan matanya kemudian menepuk jidatnya. "Ya Tuhan, aku sampai melupakan Mas Dodi. Beruntung kamu mengingatkan aku, Mas Hendra."
Melihat Arini yang tampak kelabakan, Hendra pun kembali tersenyum. Arini keluar dari ruangan itu kemudian mencoba menghubungi Dodi yang masih tetap sama, sibuk dengan pekerjaannya. Karena panik, Arini sampai lupa memberitahu Dodi bahwa saat ini mereka sedang berada di Rumah Sakit.
Ponsel Dodi yang masih dalam mode silent, membuat lelaki itu tidak menyadari bahwa ada panggilan di benda pipih miliknya tersebut. Hanya layarnya yang terus berkedip-kedip tanpa henti ketika Arini mencoba menghubunginya.
"Angkatlah, Mas! Kenapa kamu selalu mengacuhkan panggilan dariku?!" gumam Arini dengan setengah kesal.
__ADS_1
Cukup lama Arini mencoba menghubungi nomor ponsel suaminya itu hingga akhir Arini kembali menyerah. Ia masuk ke dalam ruangan di mana si kecil Azkia dirawat. Wajahnya terlihat murung dan membuat Hendra penasaran, apa yang terjadi pada wanita itu.
"Bagaimana, Arini? Suamimu sudah tahu?" tanya Hendra.
Arini menggelengkan kepalanya sambil menatap Hendra dengan tatapan sendu. "Belum, Mas. Mas Dodi tidak mau menerima panggilan dariku. Atau mungkin Mas Dodi sangat sibuk, hingga ia tidak ingin diganggu oleh panggilan dariku," lirih Arini.
Hendra membuang napas kasar. Ia tidak percaya bahwa di saat genting seperti ini, Dodi masih memikirkan pekerjaannya dari pada anak dan istrinya sendiri.
Tepat di saat itu, Dodi yang masih sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba saja ingin mengecek ponselnya. Mata lelaki itu membulat dengan sempurna, tatkala ia menyaksikan banyaknya panggilan tak terjawab dari Arini.
"Arini? Apa yang membuat ia menghubungiku sampai sebanyak ini?" gumam Dodi dengan wajah cemas.
"Mas," lirih Arini.
"Ada apa, Sayang? Apa yang sudah terjadi?" tanya Dodi cemas, karena ini pertama kalinya Arini menghubunginya hingga berkali-kali.
"Mas Dodi, saat ini Arini dan Azkia sedang berada di Rumah Sakit. Azkia kejang-kejang, Mas. Beruntung Mas Hendra bersedia membantuku. Terlambat sedikit saja akan bahaya buat Azkia," tutur Arini.
__ADS_1
Dodi terdiam sejenak saat mendengar Arini menyebutkan nama seorang laki-laki. "Hendra? Siapa dia?" batinnya.
"Mas? Mas akan segera menemuiku, 'kan?" tanya Arini karena di seberang telepon Dodi hanya diam dan tak menjawabnya.
"Ah ya, pasti. Tapi sebentar ... Hendra, siapa Hendra?" tanya Dodi yang penasaran.
"Hendra, Mas. Anaknya Bu Ira Setiawan, tetangga kita," jelas Arini.
"Oh. Baiklah, kamu tunggu aku sebentar. Aku akan secepatnya ke sana," jawab Dodi.
Setelah mengucapkan hal itu, akhirnya Dodi pun memutuskan panggilannya. Ia masih terpikir dengan lelaki yang bernama Hendra tersebut dan mencoba mengingat-ingatnya.
"Hendra-Hendra-Hendra? Oh ya, aku baru ingat. Anaknya Bu Ira yang bekerja di luar kota itu 'kan? Kapan dia datang?" gumam Dodi sembari membereskan berkas-berkasnya kemudian menyimpannya di tempat yang aman.
Setelah selesai berkemas, Dodi segera menemui atasannya untuk meminta izin pulang. Walaupun atasannya sempat tidak percaya, tetapi akhirnya atasannya itu pun mengizinkannya untuk pulang.
Dodi bergegas menuju tempat parkir, di mana mobilnya sudah menunggu. Setibanya di sana ia pun bergegas melajukan benda beroda empat tersebut menuju Rumah Sakit, di mana Arini dan Azkia sudah menunggu kedatangannya.
__ADS_1
...***...