Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 132


__ADS_3

Tuan Malik jatuh di atas tubuh Arini dengan napas memburu. Tuan Malik dan Arini baru saja menyelesaikan pergulatan panas mereka untuk yang pertama kalinya. Baik Arini maupun Tuan Malik tampak puas dengan permainan mereka, walaupun saat itu mereka sempat merasa canggung.


"Terima kasih, Arini."


"Kenapa Mas berterima kasih? Aku 'kan istrinya Mas dan itu sudah menjadi kewajibanku," jawab Arini.


Tuan Malik tersenyum kemudian bangkit dari posisinya. Ia duduk di tepian tempat tidur dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun. Arini pun turut bangkit kemudian duduk di samping Tuan Malik. Ia memberanikan diri untuk memeluk dan menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu.


"Mas, bagaimana jika ternyata benar aku mandul sama seperti yang dituduhkan oleh mantan mertuaku dulu. Apakah kamu bisa menerimaku?"


Tuan Malik melirik Arini kemudian mengelus kepalanya dengan lembut. "Apa kamu sudah lupa bahwa mendiang Arniz memiliki masalah pada rahimnya? Dia divonis tidak bisa memiliki keturunan dan aku tidak pernah mempermasalahkannya, begitu pula denganmu. Aku tidak peduli soal itu, selama aku nyaman bersamamu," sahut Tuan Malik sembari mengecup puncak kepala Arini.


Tiba-tiba Arini terisak. Ia begitu terharu mendengar jawaban dari lelaki itu. Tuan Malik meraih wajah Arini kemudian menyeka air mata istrinya itu sambil tersenyum tipis.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Tuan Malik.


"Aku terharu, Mas. Dan aku harap Mas benar-benar tulus mengucapkan hal itu. Aku harap Mas tidak akan berlaku seperti Mas Dodi. Di saat aku mempercayainya dengan segenap jiwa dan ragaku, tiba-tiba ia memberikan sebuah kejutan yang sangat tidak menyenangkan kepadaku," ucap Arini.


Tuan Malik terkekeh pelan sembari mencubit hidung Arini. "Percayalah padaku. Aku bukanlah seorang laki-laki yang suka mengingkari janji. Kamu bisa pegang janjiku," jawab Arini.

__ADS_1


Arini pun mengangguk. "Ya, Mas. Aku percaya."


"Baiklah, aku ingin ke kamar mandi. Apa kamu mau ikut?" tanya Tuan Malik sembari menggoda Arini.


"Aku ikut!" Arini pun segera bangkit dan mengikuti Tuan Malik.


"Mau kugendong?" Tuan Malik menghentikan langkahnya dan mengulurkan tangannya ke hadapan Arini.


Arini tersenyum kecut sembari memperhatikan tangan Tuan Malik yang terulur di hadapannya. Sebenarnya ia ingin bermanja-manja seperti istri pada umumnya. Namun, karena ini perdana, ia pun merasa canggung dan malu.


"Ehm ... tapi aku berat, Mas," jawab Arini yang tampak ragu-ragu.


Tuan Malik mengangkat tubuh Arini dengan sangat mudah. Ia tersenyum puas menatap wajah Arini yang tampak tersipu malu. Arini mengalungkan tangannya ke tengkuk Tuan Malik kemudian menenggelamkan wajahnya ke dada lelaki itu.


Tuan Malik melangkah menuju kamar mandi sambil menggendong Arini dan menurunkannnya secara perlahan ketika mereka tiba di ruangan tersebut.


"Sekarang kamu percaya 'kan bahwa aku kuat," ucap Tuan Malik sembari mengangkat kedua lengannya untuk memperlihatkan otot-ototnya yang besar kepada Arini.


Arini terkekeh pelan. Apalagi yang menjadi perhatiannya saat itu bukanlah otot-ototnya yang besar, tetapi benda panjang yang menggantung di antara kedua paha lelaki itu.

__ADS_1


Benda itu ikut memperlihatkan pesonanya kepada Arini. Entah Tuan Malik sadar atau tidak, benda itu aktif kembali dan mungkin siap untuk ronde ke-dua.


Tuan Malik melihat ke arah Arini dan ia sadar bahwa perhatian wanita itu bukan pada dirinya, melainkan pada benda keramat yang sedang aktif di bawah sana. Tuan Malik memiringkan tubuhnya dan menyembunyikan benda itu dari pandangan Arini.


"Kenapa kamu terus menatapnya? Apa aku kalah menarik dari benda itu?"


Arini tertawa pelan kemudian memeluk lelaki itu dari belakang. "Bukan seperti itu, Mas. Hanya saja benda itu aktif lagi dan mungkin ia siap untuk ronde berikutnya."


Tuan Malik tersenyum. "Memangnya kamu bersedia melakukannya sekali lagi?"


"Ya, kenapa tidak?"


Dua gundukan kenyal milik Arini yang menempel dipunggung lelaki itu, membuat sang junior semakin menegang. Apa lagi benda itu sudah lama tidak masuk ke dalam sarang.


Tuan Malik berbalik dan kini berdiri dengan tepat di hadapan Arini. Bibir lelaki itu tertutup rapat, tetapi tatapan tajamnya mengisyaratkan sejuta makna. Perlahan Tuan Malik mendekat kepada Arini kemudian mengecup bibir seksi yang sejak tadi terus menggodanya.


Arini pun tidak tinggal diam. Ia pun membalas kecupan demi kecupan yang dilancarkan oleh Tuan Malik kepadanya. Hingga pergulatan panas mereka pun kembali terulang pada malam itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2