
"Benarkah?" Dengan tergesa-gesa, Arini ikut mengintip dari balik tirai kaca dan ya, ada sebuah kardus bekas mie instan yang tergeletak di sana persis seperti yang dikatakan oleh Dodi.
"Kamu benar, Mas. Dan sepertinya suara tangis bayi itu berasal dari kardus tersebut," lanjut Arini.
"Kamu tunggu di sini, biar aku cek keluar. Oke?!" ucap Dodi sembari menyentuh kedua pundak Arini dan menatapnya lekat.
"Aku ikut," sahut Arini.
"Jangan! Aku takut ini hanya jebakan, Sayang. Jika terjadi sesuatu denganku, aku masih bisa melawan, tetapi bagaimana jika terjadi sesuatu kepadamu? Aku tidak ingin itu, sebaiknya kamu tunggu di sini saja," jawab Dodi dengan sangat serius.
Arini pun akhirnya menurut saja. Ia menganggukkan kepalanya pelan dan membiarkan Dodi membuka kunci pintu utama.
"Hati-hati, Mas." Terlihat jelas di raut wajah Arini bahwa ia benar-benar mencemaskan Dodi saat itu.
"Ya," sahut Dodi sembari keluar dari rumahnya dan berjalan menghampiri kardus tersebut. Sementara Arini memperhatikan di depan pintu dengan wajah cemas.
__ADS_1
Dodi berjongkok dan memperhatikan isi kardus tersebut. Ia melihat ada dua kain bedong yang menutupi sesuatu di dalamnya. Perlahan Dodi membuka kain bedong tersebut dan tampaklah seorang bayi mungil yang sepertinya sudah kelelahan.
Dodi memperhatikan sekelilingnya dan berharap ada seseorang di sana yang mengetahui tentang kardus tersebut. Namun, tak satupun terlihat seseorang di sekitar tempat itu. Bahkan para penjaga keamanan yang sering meronda di sekeliling komplek tersebut, tidak kelihatan batang hidung mereka.
Karena tidak menemukan sesiapapun di sekitar tempat itu, akhirnya Dodi kembali fokus pada bayi tersebut. Bayi itu tampak kelelahan karena sejak tadi ia terus menangis. Selain kehausan, bayi itu juga tampak kedinginan. Dodi tidak tega melihat bayi mungil tersebut dan akhirnya ia memutuskan untuk membawa masuk kardus tersebut ke dalam rumahnya.
"Apa isinya, Mas?" tanya Arini kebingungan karena Dodi membawa masuk kardus tersebut dengan langkah cepat.
"Isinya bayi, Sayang. Lihatlah!" sahut Dodi sembari membuka kain bedong yang menutupi tubuh bayi tersebut.
Mata Arini terbelalak. Mimpi indah yang baru saja ia alami, akhirnya menjadi nyata. Ia meraih bayi tersebut kemudian memeluknya dengan erat. "Mungkin Tuhan menitipkan bayi untukku," gumamnya sambil menitikkan air mata.
Arini tampak kecewa mendengar ucapan Dodi, tetapi ia masih bisa mengerti karena apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar. Arini memperhatikan bayi mungil yang sedang berada di pelukannya. Ia tersenyum kemudian menciumi bayi itu berkali-kali.
"Jika benar Ibu bayi ini tidak menginginkannya, biarkan Arini yang merawat bayi ini ya, Mas," lirih Arini.
__ADS_1
"Ya, Sayang. Tentu saja," jawab Dodi.
Selain berisi dua lembar kain bedong, Dodi juga menemukan sekotak susu formula berukuran kecil lengkap dengan dot yang juga berukuran kecil. Selain itu ada beberapa lembar baju bayi yang sepertinya masih baru dan juga secarik kertas yang bertuliskan sebuah tanggal. Yang kemungkinan adalah tanggal kelahiran bayi tersebut.
"Bayi ini perempuan, Mas. Lihatlah," ucap Arini sambil tersenyum semringah menatap Dodi.
"Benarkah? Coba lihat ini, Sayang. Bayi ini baru berusia tiga hari," sahut Dodi sembari memperlihatkan secarik kertas tersebut kepada Arini.
"Oh, ya Tuhan! Kenapa aku ingin berdoa jahat, ya," gumam Arini sambil menatap bayi malang tersebut yang kini tengah tertidur di pelukannya.
"Berdoa jahat, bagaimana?" tanya Dodi heran.
"Aku ingin berdoa, semoga saja Ibu dari bayi ini memang benar-benar tidak menginginkannya. Biar aku bisa terus bersamanya," tutur Arini.
"Dasar!" sahut Dodi sembari memeluk Arini dan melabuhkan ciuman hangatnya di puncak kepala wanita itu.
__ADS_1
Di saat Arini dan Dodi tengah berbahagia karena mendapatkan seorang bayi mungil, Bu Nining masih tertidur pulas di dalam kamarnya. Wanita paruh baya itu bahkan tidak tahu bahwa anak dan menantunya telah menemukan seorang bayi mungil di teras rumah mereka.
...***...