Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 119


__ADS_3

"Ya, Tuhan! Aku benar-benar tidak sanggup bekerja di butik itu, Arini. Seandainya ada pekerjaan lain, maka aku akan memilih resign dari pada harus bekerja di tempat itu," keluh Suci sambil membuang napas kasar.


Ia menjatuhkan dirinya di sofa ruang depan di kontrakan Arini dengan wajah yang tampak cemberut.


"Memangnya kenapa, Ci? Apa ada masalah di butik?" tanya Arini heran.


"Ya, semua masalahnya ada di Tia. Wanita itu benar-benar menyebalkan, tidak sama seperti Nyonya Arniz yang humble kepada seluruh karyawannya. Kami diperlakukan seperti sapi perah, tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu, ya ampun!" keluh Suci.


"Yang sabar ya, Ci." Arini menepuk pelan pundak Suci.


"Eh, Arini. Ngomong-ngomong kamu mau nyari kerjaan di mana?" tanya Suci kemudian.


"Kata Tuan Malik aku tidak usah mencari pekerjaan untuk saat ini. Ya, kamu tahu sendiri 'kan pernikahan kami tinggal beberapa hari lagi. Lagi pula Tuan Malik berencana akan membuka toko baru dan katanya aku akan bekerja di sana membantunya," tutur Arini.


"Cieee ... yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya Malik Abraham. Mana ada ceritanya kamu jadi karyawan di toko milik suamimu sendiri, Arini? Yang ada kamu lah yang akan menjadi Bu Owner di sana. Eh, kalau itu benar, boleh ya aku melamar kerja di toko milik suamimu. Ya, please! Terserah deh, jadi apa aja yang penting kerja. Dari pada kerja di butik itu bikin makan hati tiap hari," tutur Suci.


Arini terkekeh pelan mendengar penuturan Suci barusan. "Bener juga, ya! Mana ada sejarahnya istri menjadi karyawan di toko milik suaminya sendiri. Gila aja tuh si suami! Tapi, jika nanti Tuan Malik benar-benar membangun toko tersebut, aku pasti akan kasih tahu beliau bahwa kamu butuh pekerjaan di sana. Ya, itung-itung buat menemani aku, ya 'kan," sahut Arini.


"Sippp!"

__ADS_1


Ting!


"Eh, sebentar!"


Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel milik Arini. Arini segera membuka pesan tersebut dan ia pun begitu terkejut setelah tahu apa isinya.


"Ya, Tuhan! Transferan dari siapa ini? Banyak sekali," gumam Arini dengan mata membulat.


Arini memperlihatkan layar ponselnya kepada Suci dan Suci pun tidak kalah terkejutnya sama seperti Arini barusan.


"Ya, Tuhan! Transfer ke nomor rekening aku dong, Rin. Sedikit aja, yang ujungnya itu aja juga boleh," celetuknya.


[Arini, aku baru saja mentransfer sejumlah uang ke nomor rekeningmu. Gunakan uang itu untuk melakukan perawatan atau apapun yang kamu butuhkan untuk menyambut hari pernikahan kita.]


"Astaga! Tuan Malik," gumam Arini sambil menutup mulutnya.


"Apaan, sih?" Suci yang penasaran, ikut mengintip ke layar ponsel milik Arini.


"Cieee ... beruntung sekali kamu, Arini. Ah, kan aku jadi iri."

__ADS_1


"Aku tidak menyangka Tuan Malik akan memikirkannya sampai sedetail itu loh, Ci. Padahal aku memang sudah mempersiapkan uang untuk melakukan perawatan di salon sebelum hari pernikahan kami. Tapi ternyata dia juga memikirkannya."


"Diam, Arini! Aku mau berdoa dulu. Nanti kamu aminkan yang keras, ya!"


"Berdoa? Doa apa?" Arini heran.


"Hush, sudah diam! Dengarkan saja doaku."


"Baiklah-baiklah," jawab Arini. Walaupun tidak mengerti, tetapi ia menurut saja.


"Ya, Tuhan! Berilah hamba jodoh yang sama seperti Tuan Malik, yang kaya dan begitu pengertian, Aamiin!


"Aaminn, eh!" Arini menepuk pelan pundak Suci. "Jangan Tuan Malik juga, ya. Sudah cukup sekali punya madu dan aku tidak ingin memilikinya lagi," celetuk Arini dengan wajah masam.


"Ish, sama, Arini! Sama, bukan berarti aku juga menginginkan Tuan Malik. Lagi pula mana mungkin Tuan Malik mau sama aku. Aku 'kan mantan istri dari lelaki yang sudah membunuh mendiang istrinya," sahut Suci.


"Eh iya, bener juga, ya! Dari pada kita membahas masalah ini, mending kamu temani aku ke salon buat menghabiskan uang Tuan Malik dulu, bagaimana?"


"Ayuklah! Siapa takut," jawab Suci dengan dangan antusias.

__ADS_1


...***...


__ADS_2