
Di sepanjang perjalanan menuju bandara, Tuan Malik terlihat gelisah. Ia bahkan tidak bisa duduk dengan tenang di kursinya, sama seperti biasanya. Beberapa kali lelaki itu mencoba mengubah posisi duduknya, tapi tetap sama. Ia masih merasa tidak nyaman dan tidak tenang.
Melihat gelagat Tuan Malik yang seperti itu, sopir pribadinya pun memberanikan diri untuk bertanya. Sebab, selama bertahun-tahun bekerja bersama Tuan Malik, ini pertama kalinya ia melihat lelaki itu gelisah.
"Maaf jika saya lancang, Tuan Malik. Tapi, sepertinya Anda terlihat tidak nyaman duduk di belakang sana. Apa kah Anda ingin menyetir mobil ini sendiri?" ucap Pak Sopir dengan ragu-ragu.
Tuan Malik menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya bukan masalah itu, Pak. Tapi, entahlah. Tiba-tiba saja jantungku terus berdebar-debar dan ini rasanya sangat tidak nyaman. Bahkan seluruh tubuhku pun merasakan sesuatu yang benar-benar tidak enak, tapi entah apa itu. Aku pun tidak mengerti," sahut Tuan Malik.
"Apa Anda ingin kita ke Rumah Sakit?" tanya Pak Sopir, ikut cemas melihat kondisi majikannya tersebut.
"Tidak usah, nanti saja. Antar aku ke bandara saja," jawab Tuan Malik dengan mantap.
"Baiklah kalau begitu, Tuan."
Pak Sopir pun kembali fokus pada kemudinya dan membawa Tuan Malik ke tempat yang ingin tuju.
Sementara itu.
"Silakan masuk, Nyonya." Pak Kosim (sopir pribadi Nyonya Arniz) membukakan pintu untuk wanita itu sambil tersenyum hangat.
"Terima kasih, Pak." Nyonya Arniz pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk di jok bagian belakang sambil bersandar dengan santainya.
Setelah Nyonya Arniz duduk manis di sana, Pak Kosim pun segera melaju menuju butik Zhanita Collection milik wanita itu.
Perjalanan Nyonya Arniz dan Pak Kosim tampak biasa-biasa saja, sama seperti hari-hari sebelumnya. Aman dan tidak ada kendala yang berarti.
__ADS_1
Namun, ketika mobil tersebut melewati jalan yang cukup sunyi, tiba-tiba muncul sebuah motor butut yang sudah dimodifikasi dari belakang mobil. Motor itu melaju kemudian menyalip mobil mewah milik Nyonya Arniz dan berhenti tepat di hadapannya.
Pak Kosim yang terkejut, refleks menginjak rem mobil tersebut dengan cepat. Kesempatan itu digunakan oleh kedua lelaki yang menaiki motor tersebut untuk menyerang mobil Nyonya Arniz. Kedua lelaki itu mengeluarkan senjata api rakitan dari balik jaket yang mereka kenakan.
Sembari mendekat, kedua lelaki yang mengenakan penutup wajah itu mengacungkan senjata api tersebut ke depan mobil Nyonya Arniz.
"Keluar! Atau peluru ini akan menembus kepala kalian!" ancam salah satu dari mereka.
"Siapa mereka, Pak Kosim? Dan mau apa mereka?" Nyonya Arniz panik dan seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Sepertinya mereka perampok, Nyonya. Dan saya yakin mereka ingin merampok kita," jawab Pak Kosim, yang juga tidak kalah paniknya.
Ada beberapa mobil dan motor yang lewat di jalan itu, tetapi tak satupun dari mereka bersedia menolong Nyonya Arniz dan Pak Kosim. Sebab mereka pun takut berurusan dengan kedua penjahat tersebut.
Belum sempat Pak Kosim menjawab pertanyaan Nyonya Arniz, seorang pria yang tengah berdiri di samping wanita itu, menggedor-gedor pintu mobil dengan sangat keras menggunakan senjata api rakitannya.
"Heh! Kamu dengar tidak! Buka pintunya, cepat!" titahnya sekali lagi.
"Ba-baik!" Dengan tangan gemetar, Nyonya Arniz pun membuka pintu mobil di samping tubuhnya.
Setelah pintu mobil itu terbuka, lelaki tersebut malah menodongkan senjatanya ke hadapan Nyonya Arniz. Sontak saja hal itu membuat Nyonya Arniz ketakutan. Ia tampak mengiba dan berharap lelaki itu tidak menyakitinya.
"Serahkan uang dan barang berharga milikmu! Cepat!" titah lelaki itu dengan mata membelalak.
"Ba-baiklah, tapi jangan sakiti aku," lirih Nyonya Arniz dengan wajah memucat.
__ADS_1
"Sudah, jangan banyak omong! Serahkan saja semuanya!"
Nyonya Arniz meraih tas miliknya kemudian mengambil seluruh uang yang tersimpan di dompet serta sela-sela tas mahalnya.
"I-ini, ambillah!" ucap Nyonya Arniz sembari menyerahkan semua uangnya kepada lelaki itu. Ia tidak peduli dengan uang-uang itu, yang penting kedua penjahat tersebut tidak menyakitinya.
Penjahat itu tersenyum lebar saat menerima uang yang diberikan oleh Nyonya Arniz. Ia memperlihatkan uang-uang itu kepada temannya yang saat itu sedang mengamankan Pak Kosim.
...***...
Hai, hai, Reader terlove 😘😘😘
Author mau minta maaf karena beberapa hari ini Author jarang sekali UP cerita Arini. 🙏🙏🙏
Sebenarnya bukan malas, hanya saja Author keteteran sama novel sebelah. Belum lagi novel di akun baru 😂🤧. (Napsu amat, yak!)
Dan satu lagi yang ingin Author kasih tau. Hari ini, jika level Arini anjlok, Author mau kasih lebel End. Eits, bagi yang ingin tau bagaimana kelanjutannya, gak usah khawatir. Soalnya, cerita masih Author lanjutkan, kok.
Author gak bakal menyerah dengan cerita Arini walaupun sepi, hahaha 🤣🤣🤣 pokoknya Arini harus sampai bahagia! Dan buat reders yang kecewa dengan endingnya, maafkan Author 🙏🙏🙏 Author gak bisa ubah alur lagi. Jika nanti Author ubah alur, bisa-bisa malah Stuck Ide 🤧🤧🤧
Sekali lagi, Maafkan Author yeee 😘😘😘
Love You All.
Aysha 😘😍
__ADS_1