
"Arini! Apa kabar? Cieee ... yang udah enak jadi Nyonya Malik, sampai lupa sama teman seperjuangan, hiks-hiks!" celoteh Suci di ponselnya.
Arini terkekeh pelan. "Bukan seperti itu, Ci. Sebenarnya beberapa hari ini kami sibuk. Mas Malik sedang mempersiapkan pembukaan toko barunya. Oh ya, aku mau tanya apa kamu berminat kerja di toko baru milik Mas Malik?"
"Ya, tentu saja!" sahut Suci dengan sangat antusias.
Sementara Hendra yang sedang duduk di samping Suci hanya bisa mengernyitkan dahinya. Padahal Hendra ingin Suci berhenti kerja setelah mereka resmi menikah dan fokus pada rumah tangga mereka. Namun, jika Suci memang bersikeras ingin tetap bekerja setelah menikah, Hendra pun tidak bisa memaksa. Yang penting Suci tetap merasa nyaman dan tidak merasa terkekang saat bersamanya.
"Ok, sipp! Nanti aku kasih kabar lagi ke kamu. Oh ya, Ci. Sekalian aku mau kasih tahu bahwa minggu depan kami akan mengadakan pesta syukuran untuk menyambut pembukaan toko baru Mas Malik sekaligus ...." Arini mengehentikan ucapannya kemudian tertawa pelan sembari mengelus perutnya.
"Sekaligus apa, Rin?" Suci penasaran.
"Sekaligus untuk menyambut kehamilanku," sambung Arini.
"Aakkhhhh!"
Suci refleks menjerit. Ia bahkan sampai lupa bahwa saat itu sedang berada di kediaman Hendra dan ada Bu Ria yang juga duduk tak jauh darinya sambil menemani Azkia bermain. Bu Ria dan Hendra kebingungan melihat reaksi Suci. Mereka saling lempar pandang dengan alis yang berkerut.
"Ci."
Hendra mengelus lembut punggung Suci sambil tersenyum kecut. Sementara Suci masih tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutan sekaligus bahagianya saat itu.
"Mas Hendra tau, gak?" tanyanya dengan wajah begitu serius.
"Apa?" Hendra balik bertanya dengan suara pelan dan sangat lembut.
__ADS_1
"Arini, Mas! Arini hamil. Dia bilang minggu depan akan mengadakan acara syukuran untuk kehamilannya serta pembukaan toko baru Tuan Malik. Ya, Tuhan!" pekik Suci dengan mata berkaca-kaca. Ia turut bahagia mendengar kehamilan Arini yang sungguh tidak disangka-sangka.
"Arini hamil!" pekik Hendra yang juga tidak kalah terkejutnya.
Mendengar perbincangan pasangan itu, Bu Ria bergegas menghampiri Suci.
"Beneran itu, Ci? Arini hamil?" tanya Bi Ria dengan wajah heran. Karena terlalu sering mendengar hujatan yang dilemparkan oleh Bu Nining kepada Arini dulu, Bu Ria sempat berpikir bahwa Arini benar-benar mandul. Namun, sekarang Arini benar-benar membuat semua orang terkejut dengan berita kehamilannya.
"Ya, Bu! Barusan dia bilang!" jawab Suci.
"Sini ponselmu. Ibu ingin bicara sama Arini," ucap Bu Ria sembari mengulurkan tangannya kepada Suci.
"Ini, Bu." Suci menyerahkan ponselnya kepada Bu Ria dan wanita itu pun bergegas meletakkan ponsel tersebut ke samping telinganya.
"Rin. Ini Ibu, Bu Ria."
"Ya, Rin, ini Ibu. Kamu tidak sedang bercanda 'kan, Rin? Kamu serius 'kan soal kehamilanmu itu?" tanya Bu Ria tanpa basa-basi.
"Ya, Bu. Arini serius. Minggu depan kami akan mengadakan acara syukuran. Dan maaf kalau Arini tidak bisa datang secara langsung ke kediaman Ibu. Soalnya Mas Malik melarangku kemana-mana untuk saat ini. Katanya takut aku kenapa-kenapa. Tapi, nanti undangannya pasti menyusul, kok. Sekalian bilangin sama Bu Nining juga ya, Bu."
"Ya, Tuhan! Selamat ya, Rin! Ibu turut bahagia. Ibu senang sekali mendengarnya. Ya, nanti akan Ibu sampaikan ke Bu Nining. Semoga saja beliau tidak pingsan setelah mendengar berita kehamilanmu ini," celetuk Bu Ria sambil tertawa pelan.
"Ah, Ibu bisa saja." Arini pun ikut tertawa pelan.
Setelah puas berbincang bersama Arini, Suci mengambil kembali ponsel miliknya.
__ADS_1
"Rin, aku juga punya kabar bahagia. Mau tau?" ucap Suci sembari melirik Hendra.
"Benarkah, apa itu?"
"Aku dan Mas Hendra akan mengadakan acara pernikahan kami satu bulan lagi."
Arini membulatkan matanya. "Serius?!"
"Ya, serius. Kamu harus hadir, ya! Bersama Tuan Malik tentunya," ucap Suci kemudian.
"Ya, Ci. Pasti! Aku pasti akan hadir bersama Mas Malik," jawab Arini yang ikut bahagia mendengar berita pernikahan Suci dan Hendra yang akan diselenggarakan satu bulan lagi.
Setelah mendengarkan kabar baik itu, Bu Ria langsung beranjak. Ia berjalan dengan cepat menuju rumah Bu Nining. Ternyata saat itu Bu Nining tengah sibuk membersihkan rumahnya.
"Bu Ria?" Bu Nining tersenyum hangat menyambut kedatangan Bu Ria.
"Bu. Aku punya kabar bahagia dari Arini."
"Benarkah, apa itu?" tanya Bu Nining dengan alis berkerut.
"Minggu depan, Arini meminta kita untuk datang ke acara syukuran yang akan digelar di kediaman Tuan Malik. Dan jika Bu Nining ingin ikut berhadir, Bu Nining bisa ikut bersama kami sama seperti biasanya," ucap Bu Ria dengan wajah semringah .
"Memangnya acara apa ya, Bu Ria?"
"Acara syukuran untuk kehamilan Arini serta pembukaan toko baru Tuan Malik, Bu. Saya yakin, acaranya pasti akan sangat meriah," celetuk Bu Ria.
__ADS_1
"A-Arini hamil?" pekik Bu Nining dengan mata membesar.
***