Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 89


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


"Kenapa Mas Hendra baru menceritakannya sekarang?" pekik Arini yang baru tahu kabar bahwa Dodi ditahan atas kasus meninggalnya Anissa.


"Maafkan aku, Arini. Aku sibuk membantu Mas Dodi dan Bu Nining hingga tidak punya kesempatan untuk menemuimu. Belum lagi kesibukan baru kami mengurus si kecil Azkia yang kini tinggal bersama kami. Sekarang Ibu yang merawatnya, menggantikan posisi Bu Nining," tutur Hendra.


Arini terdiam sejenak dengan kepala tertunduk menghadap lantai. Ia sangat sedih mendengar banyaknya cobaan yang menimpa keluarga Dodi. "Bisakah Mas Hendra mengantarkan aku untuk menemui Mas Dodi?"


"Tentu saja, Arini. Kenapa tidak? Mari, biar aku antar ke tempat Mas Dodi," sahut Hendra mantap.


Hendra menuntun Arini menuju mobil yang ia parkirkan di tempat parkir. Setelah itu, mereka pun segera berangkat menuju tempat di mana Dodi masih di tahan.


Tidak berselang lama, Arini dan Hendra tiba di tempat tersebut.


"Arini!" panggil Dodi dengan mata berkaca-kaca menatap Arini yang kini berdiri tak jauh darinya.


"Mas Dodi," balas Arini sambil tersenyum kecut.


Dodi pun segera menghampiri Arini dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa senang, rasa sedih dan juga rasa malu bercampur menjadi satu di dalam hatinya.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu, Arini? Sudah cukup lama kita tidak bertemu," ucap Dodi sambil tersenyum getir menatap Arini.


"Kabarku baik, Mas." Arini terdiam untuk sesaat. "Mas, maafkan aku. Seandainya Mas Hendra tidak memberitahuku, mungkin aku tidak akan pernah tahu apa yang terjadi padamu saat ini."


Dodi menghembuskan napas berat. "Aku benar-benar tidak menyangka hidupku akan menjadi seperti ini, Arini. Hidupku hancur tak bersisa. Beruntung masih ada Hendra dan Bu Ria yang selalu bersedia membuka tangan mereka untuk membantuku. Seandainya tidak ada mereka, aku tidak tahu bagaimana nasibku dan Ibu saat ini," lirih Dodi.


"Ya, Mas Hendra sudah menceritakan semuanya. Rencananya setelah dari sini, aku akan menemui Ibu dan juga Azkia yang sekarang tinggal bersama Bu Ria," sahut Arini.


Arini dan Dodi pun berbincang untuk waktu yang cukup lama. Begitu banyak yang mereka bicarakan di sana. Hingga akhirnya petugas yang berjaga di tempat itu menjemput Dodi. Sebelum pergi, Dodi kembali mengajak Arini bicara.


"Sebentar lagi, Pak. Lima menit saja," pinta Dodi.


"Baiklah, sebaiknya cepat!" jawab petugas tersebut.


Arini menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Walaupun lelaki menyedihkan itu pernah mengecewakan dirinya, tetapi Arini tidak pernah berkeinginan untuk membencinya. Ia bahkan tidak pernah menyimpan rasa dendam terhadap lelaki itu.


"Ya, Mas. Aku memaafkan mu bahkan sebelum kamu meminta maaf kepadaku. Begitu pula sebaliknya, aku pun ingin meminta maaf atas semua kesalahanku," tutur Arini.


Dodi tersenyum lega. Ia senang karena akhirnya tidak ada lagi kebencian di antara dirinya dan Arini. "Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan padamu, Arini," sambung Dodi.

__ADS_1


"Apa itu, Mas?" tanya Arini heran sambil menautkan kedua alisnya menatap Dodi.


"Arini, sekarang aku sadar. Aku bukanlah lelaki yang pantas untukmu. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang jauh-jauh lebih baik dariku. Maka dari itu, mulai hari ini, di sini dan detik ini, aku ceraikan kamu, Arini. Dan mulai dari sekarang kamu bukanlah istriku lagi," ucap Dodi sambil tersenyum getir.


"M-Mas Dodi?" Tidak pernah terpikirkan oleh Arini sebelumnya bahwa hari ini adalah hari terakhirnya berstatus sebagai istrinya Dodi Permana. Ya, kini Dodi sudah menceraikannya secara sah menurut agama.


"Kamu bisa urus semua surat-suratnya, Arini," sambung Dodi lagi.


"Ta-tapi, Mas?"


Belum selesai Arini berkata, Dodi sudah melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu dan kembali ke ruangannya bersama Petugas.


Kini tinggal Arini dan Hendra yang masih terdiam di tempat itu dengan pikiran mereka masing-masing. Wajah Arini tampak sendu. Ia masih begitu syok dengan keputusan Dodi yang tiba-tiba menceraikannya.


Beberapa menit kemudian.


"Arini, jadi ke tempat Bu Nining?" tanya Hendra kepada Arini yang masih terdiam seribu bahasa.


Ucapan Hendra barusan membuyarkan lamunan Arini. Wanita itu tersentak kaget kemudian tersenyum menatap Hendra. "Ya. Aku ingin bertemu Bu Nining, Mas."

__ADS_1


"Kalau begitu, sebaiknya kita cepat. Nanti keburu gelap," sahut Hendra kemudian.


...***...


__ADS_2