Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 102


__ADS_3

Acara pemakaman pun selesai, satu persatu pelayat sudah pamit dan kembali ke kediaman mereka masing-masing. Kini tinggal Tuan Malik yang masih berada di tempat itu. Lelaki itu duduk di samping makam Nyonya Arniz dengan kepala tertunduk lesu.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan, Arniz? Aku sudah tidak bersemangat untuk hidup karena semangatku telah hilang bersama dirimu," gumam Tuan Malik sambil menatap pusara mendiang Nyonya Arniz. Cukup lama lelaki itu berada di sana untuk mencurahkan seluruh isi hatinya.


Hingga tak terasa matahari pun mulai beranjak dari posisinya. Tuan Malik sempat melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian melihat ke langit yang mulai menggelap.


"Sepertinya aku harus pulang, Arniz. Kamu tenang saja, aku berjanji padamu bahwa aku tidak akan pernah membiarkan penjahat itu hidup dengan nyaman. Aku pastikan mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka kepadamu," gumam Tuan Malik dengan wajah serius menatap pusara mendiang Sang Istri.


Setelah mengucapkan hal itu, Tuan Malik pun segera berbalik dan perlahan melangkah meninggalkan makan Nyonya Arniz. Tuan Malik tidak sadar bahwa saat itu Arini masih berada di sana dan terus memperhatikan dirinya dari kejauhan.


Ketika Tuan Malik beranjak dari pemakaman itu, Arini pun mengikutinya dari belakang. Hingga akhirnya Tuan Malik tiba di tempat parkir, di mana sopir pribadinya masih setia menunggu kehadiran lelaki itu.


"Silakan masuk, Tuan." Pak Sopir membuka pintu mobil dan Tuan Malik pun bersiap untuk masuk ke dalam.


"Tuan Malik, bisakah kita bicara sebentar?"


Baru saja Tuan Malik ingin memasuki mobil tersebut, tiba-tiba ia mendengar suara seorang wanita yang memanggilnya dari belakang. Tuan Malik segera berpaling dan kini tatapannya tertuju pada seorang wanita cantik yang sedang berdiri tegap di hadapannya.


"Arini? Kamu masih di sini?" Tuan Malik mengerutkan dahinya sambil memperhatikan penampilan Arini dengan seksama, dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Arini pun mengangguk pelan. "Ya, Tuan."

__ADS_1


"Baiklah, sekarang apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Tuan Malik tanpa berkeinginan berbasa-basi lagi.


"Begini, Tuan. Ini soal permintaan terakhir Nyonya." Arini terdiam sejenak sambil memperhatikan ekspresi Tuan Malik saat itu.


"Ya?"


"Jika Tuan merasa keberatan soal permintaan terakhir Nyonya, Tuan bisa mengurungkannya," lanjut Arini dengan sangat hati-hati.


Tuan Malik masih menatap Arini dengan tatapan datar. "Aku tidak akan mengurungkannya karena itu adalah permintaan terakhir Istriku. Aku akan tetap menikahimu sesuai janjiku kepadanya."


Tuan Malik terdiam sejenak sembari membuang napas berat. "Apa kamu keberatan?" tanya Tuan Malik kemudian.


Arini menggelengkan kepalanya secara perlahan. "Tidak, Tuan."


"Hari sudah mulai gelap dan sebaiknya aku antar kamu pulang."


Arini menengadah dan menatap langit yang sudah mulai menggelap. Ia pun mengangguk dan masuk ke dalam mobil Tuan Malik.


Di perjalanan.


Tuan Malik melirik Arini untuk beberapa saat dan setelah itu tatapannya pun kembali lurus ke depan. "Apa urusan perceraianmu dengan Dodi sudah selesai?" tanya Tuan Malik tiba-tiba.

__ADS_1


Arini mengangguk pelan. "Ya, Tuan. Baru saja selesai dengan bantuan Nyonya. Seandainya Nyonya tidak membantu saya, mungkin hingga saat ini hubungan saya dan Mas Dodi masih menggantung. Ya, walaupun Mas Dodi sudah menceraikan aku secara agama," tutur Arini.


Tuan Malik menarik napas dalam. Tiba-tiba terlintas lagi wajah penjahat yang sudah merenggut nyawa istri kesayangannya. Cerita Arini barusan mengingatkan dirinya akan sosok Angga. Ya, Tuan Malik yakin Angga menaruh dendam kepada istrinya karena ikut campur dalam hubungannya bersama Suci. .


"Itulah yang sangat aku khawatirkan. Arniz memang suka ikut campur dengan urusan pribadi orang lain. Ya, aku tahu bahwa niatnya memang baik. Namun, tidak untuk pihak lain. Sekarang semuanya terbukti, 'kan?" ucap Tuan Malik dengan tatapan yang masih lurus ke depan.


Arini mengerutkan keningnya. "Maksud Tuan?"


"Apa kamu tahu siapa yang sudah merenggut nyawa istriku?" Tuan Malik menoleh ke arah Arini dan tatapannya begitu menohok tajam.


Arini menggelengkan kepalanya.


"Angga! Mantan suami Suci, sahabatmu!"


Arini tersentak kaget. Matanya pun ikut membulat sempurna. "A-Angga?!" pekiknya.


"Ya, Angga! Aku yakin Angga sengaja melakukan ini kepada Arniz karena ia masih tidak bisa menerima perpisahannya bersama Suci."


"Ya, Tuhan!" Arini syok setelah tahu siapa yang tega merenggut nyawa majikannya itu.


Kini Arini terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Tuan Malik barusan. Lelaki itu memang benar, Suci bahkan sering bercerita kepadanya bahwa Angga ingin sekali mengajak mantan istrinya itu untuk rujuk. Namun, Suci selalu menolak karena ia tahu Angga tidak akan pernah berubah.

__ADS_1


...***...


Hai Reader, bantuin jenguk cerpen otor yuk! ini perdana loh otor bikin cerpen dan ini kisah nyata otor saat masih kecil. Kalo pengen tau kisahnya, tinggal klik aja profil otor trus klik bagian cerpen yang berjudul 'Sang Penunggu Rumah' gak panjang, cuma satu bab doang 🤭🤭🤭 buat yang bersedia jenguk otor ucapkan terima kasih banyak, love sekebon deh pokoknya 😘😘😘 Eits, jan lupa tinggalin jejak ya, kasi love juga biar trending hahaha


__ADS_2