Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 137


__ADS_3

"Terima kasih banyak ya, Bu," ucap Tia sembari meraih tangan Putri.


"Sama-sama, Tia. Sekarang kamu mau ke mana?" tanya wanita itu. Wanita yang menjaga Putri, ketika Tia pergi mencari suaminya tadi siang.


"Entahlah. Mungkin saya bisa menginap di kediaman Ayah angkat saya untuk sementara waktu," jawab Tia dengan wajah sendu.


"Bener, Mom? Kita akan ke tempat Opa?" Putri tampak semringah mendengar ucapan Tia barusan.


"Iya, Nak." Tia tersenyum kemudian mengusap puncak kepala Putri yang kini sudah berada di sampingnya.


"Ehm, sepertinya saya haru segera pamit. Takutnya keburu gelap, Bu," lanjut Tia sembari memperhatikan langit yang sudah mulai menggelap di atas kepalanya.


"Baiklah, Tia. Hati-hati di jalan, ya."


***


Di perjalanan.


"Mom!" Putri menarik pelan jari telunjuk Tia yang sejak tadi ada dalam genggamannya.


Tia menoleh sembari tersenyum kecut. "Ya, Nak?"


"Aku lelah, Mom. Kakiku sakit!" keluh Putri dengan wajah cemberut. "Kata Mommy kita akan segera ke tempat Opa, tapi kenapa kita malah muter-muter di sini, Mom? Putri juga sudah lapar. Sejak tadi perut Putri bunyi terus," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.


Hati Tia bagai diiris-iris mendengar keluhan Putri. Sebenarnya berbohong soal keinginannya menginap di kediaman Tuan Malik. Jangankan umpat numpang di sana, menampakkan wajah pun, ia tidak sanggup.

__ADS_1


Tia berjongkok di depan Putri kemudian membelai lembut kedua pipi Putri. "Sebenarnya Mommy malu kalau harus bertemu sama Opa, Put. Mommy malu karena sudah ambil butik milik Oma dan Mommy yakin, Opa pasti sedang kesal sama Mommy," tutur Tia.


"Tidak mungkin, Mom! Opa tidak akan marah. Opa itu orang baik, Opa pasti akan maafin Mommy," celetuk Putri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Huft! Tia membuang napas berat dan menundukkan kepalanya menatap tanah.


Tia meraih wajah Tia yang tertunduk kemudian menatap Tia dengan lekat. "Mom, kita ke rumah Opa, yuk! Putri kangen Opa," bujuknya.


Tia melihat ke dalam manik-manik milik Putri. Sebesar apa pun rasa malunya kepada Tuan Malik saat itu, seketika sirna. Mau tidak mau, Tia harus mengenyampingkan perasaannya demi Putri, anak perempuan semata wayangnya itu.


"Baiklah, kita ke rumah Opa sekarang."


"Baik, Mom!" jawab Putri dengan sangat antusias.


Sementara itu di sudut lain jalan.


"Tidak apa-apa, Nona. Kita cari saja sampai mamang nasi gorengnya ketemu," sahut Pak Kosim sambil terkekeh pelan.


Perlahan Arini melirik Tuan Malik yang duduk di sampingnya dengan wajah yang sangat tenang. Ketika Arini melirik, Tuan Malik pun refleks menoleh.


"Maafkan aku ya, Mas."


"Tidak apa. Kita cari saja sampai dapat." Tuan Malik tersenyum kemudian membelai lembut rambut Arini.


Vcw

__ADS_1


Arini tersenyum kemudian kembali bersemangat menelisik setiap sudut jalan untuk mencari sosok mamang penjual nasi goreng langganannya ketika masih tinggal di kontrakan.


Entah kenapa tiba-tiba Arini sangat merindukan nasi goreng buatan si mamang. Biasanya lelaki paruh baya itu mendorong gerobak nasi gorengnya di sekitar tempat itu, tetapi hingga sekarang ia tidak juga menemukannya.


"Di mana, ya?" gumam Arini lagi.


Arini masih memperhatikan setiap sisi jalan dan tiba-tiba matanya terhenti pada sosok wanita yang begitu ia kenali. Ia refleks memberi tahu Tuan Malik bahwa ia melihat Tia dan Putri berjalan di pinggir jalan dengan wajah kusut.


"Mas! Coba lihat, bukankah itu Tia dan Putri?" Arini menujuk salah satu sudut jalan dan benar, di sana tampak Tia dan Putri sedang berjalan di pinggir jalan.


Tuan Malik pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Arini. Ia tidak kalah terkejutnya saat melihat anak angkat mendiang istrinya itu berada di sana.


"Apa yang dilakukan oleh Tia di tempat seperti ini?" gumam Tuan Malik.


"Sebaiknya kita hampiri mereka, Mas," bujuk Arini.


Tuan Malik memalingkan wajahnya dan kini kembali pada posisi semula dengan tatapan lurus ke depan. "Entah kenapa semakin ke sini, aku semakin malas menemuinya. Tia tidak akan pernah berubah selama Toni masih berada di belakangnya," tutur Tuan Malik.


Arini terdiam sejenak kemudian melihat lagi ke arah Tia dan Putri. Ekspresi wajah keduanya membuat hati Arini tergerak. Apa lagi wajah Putri yang tampak memucat karena kelelahan. Sejak tadi bocah itu terpaksa harus berjalan sambil menahan rasa lapar.


"Aku rasa ada yang tidak beres pada mereka, Mas. Sebaiknya kita temui mereka. Seandainya Mas tidak ingin bicara dengannya, biar nanti aku saja yang bicara."


Tuan Malik membuang napas panjang. "Baiklah. Pak Kosim, kita putar balik."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Pak Kosim pun memutar balik mobil tersebut kemudian menepikannya tak jauh dari Putri dan Tia berada.


...***...


__ADS_2