
Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, tetapi Arini belum juga kembali ke rumah mereka. Dodi begitu cemas, lelaki itu terlihat mondar-mandir di depan teras rumahnya sambil sesekali meletakkan ponsel ke samping telinga.
"Arini, kamu ke mana?" gumamnya sambil terus mencoba menghubungi nomor ponsel istrinya itu.
Namun, ponsel wanita itu masih belum aktif sama seperti tadi siang. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Arini? Kenapa nomor ponselmu tidak juga aktif hingga sekarang?"
"Mas Dodi, sebaiknya Mas masuk. Mungkin saat ini Mbak Arini menginap di rumah salah satu kerabatnya," ucap Anissa yang baru saja keluar dari rumah itu kemudian menghampiri Dodi.
"Kerabatnya?" jawab Dodi dengan ketus. "Arini tidak memiliki siapapun selain aku, Nis. Dia tidak punya teman apalagi kerabat di kota ini."
"Ehm, maafkan aku, Mas. Aku tidak tahu, tapi sebaiknya kita tunggu di dalam saja. Di sini dingin, nanti Mas masuk angin lagi." Anissa meraih tangan Dodi kemudian bergelayut manja di sana sambil tersenyum hangat.
"Masuklah duluan, nanti aku menyusul. Aku masih ingin di sini menunggu Arini," jawab Dodi tanpa mempedulikan Anissa yang ingin bermanja-manja dengannya.
Anissa menekuk wajahnya sembari melepaskan tangan Dodi. "Baiklah kalau begitu. Aku tunggu di dalam," ucapnya.
Anissa masuk kembali ke dalam rumahnya sambil menggerutu. Ia kesal ketika Dodi lebih mementingkan Arini dari pada dirinya. "Heh, kenapa Mas Dodi masih memikirkan Mbak Arini, sih! Padahal malam ini 'kan malam pertama kami," gerutunya sambil melangkahkan kakinya menuju kamar.
Namun, ketika melewati ruang televisi, Bu Nining memanggil Anissa dan ingin menyerahkan si kecil Azkia yang sejak tadi siang selalu bersama wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Anissa, aku sudah sangat lelah dan ingin beristirahat. Sekarang bawa Azkia bersamamu," ucap Bu Nining.
Anissa sempat membuang napas kasar sebelum datang menghampiri wanita paruh baya itu. "Baiklah, sini!" jawabnya dengan malas.
Bu Nining pun segera menyerahkan si kecil Azkia kepada Anissa dan setelah itu kembali kamarnya.
"Dasar orang tua tidak peka. Padahal dia tahu bahwa malam ini adalah malam pertamaku dengan Mas Dodi! Bukannya membantu menjaga Azkia, eh dia malah ingin enak-enakan tidur sendiri. Padahal dia sudah tahu bahwa Azkia adalah cucunya sendiri," gerutu Anissa sembari membawa Azkia ke dalam kamarnya.
Setibanya di dalam kamar, Anissa segera meletakkan tubuh Azkia kecil ke atas tempat tidur dan membiarkan si kecil itu di sana. Sementara dirinya duduk di depan cermin sambil bersolek. Tidak lupa, ia juga mengenakan lingerie paling seksi miliknya untuk menyambut malam pertamanya bersama Dodi.
Malam ini adalah malam yang paling ia nanti-nantikan selama ini. Ia bahkan sudah mempersiapkan segalanya termasuk meminum ramuan tradisional untuk menyambut kedatangan juniornya Dodi.
Anissa melemparkan spon bedaknya dengan kasar sambil mengerang. "Arghhh! Bisa diam tidak, sih!" kesalnya sembari bangkit dari posisi duduknya kemudian menghampiri Azkia yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya.
"Azkia! Diam, donk! Malam ini adalah malam istimewanya Ayah sama Ibu, masa kamu rewel begitu, sih?!" kesalnya sambil menepuk kasur dengan kasar dan membuat Azkia terperanjat.
Karena merasa terkejut, Azkia pun akhirnya menangis histeris dan membuat Anissa semakin kesal. Namun, ia pun tidak bisa berkutik lagi karena tidak ada siapapun yang dapat membantunya menenangkan Azkia.
"Hhh, kenapa nasibku begini amat, sih!" kesalnya sambil mencoba menenangkan Azkia.
__ADS_1
Sementara itu di teras rumah. Di mana Dodi masih menunggu kedatangan Arini.
Sebuah cahaya motor tampak jelas menghampiri pagar rumahnya. Dodi memperhatikannya dengan seksama dan ternyata benar, sebuah motor sport berhenti di depan pagar rumahnya dan tampak seorang wanita tengah turun dari motor tersebut.
"Arini?!" gumam Dodi sambil menautkan kedua alisnya.
Ya, Arini baru saja tiba di sana. Setelah mengantarkan Arini, Hendra segera kembali ke kediamannya. Melihat motor sport itu memasuki rumah Bu Ria, membuat Dodi tersadar bahwa lelaki yang mengantarkan istrinya adalah Hendra.
"Kurang ajar si Hendra! Benar 'kan dugaanku sebelumnya bahwa sebenarnya lelaki itu memang mengincar Arini," kesal Dodi sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
"Dia sengaja memanfaatkan keadaan Arini yang sedang kacau untuk mendapatkan perhatiannya. Awas saja kamu, Hendra!" lanjutnya dengan wajah memerah menahan amarahnya.
Dengan langkah gontai, Arini memasuki halaman rumahnya dan kini ia berjalan menghampiri Dodi yang masih berdiri di teras sambil menahan rasa kesalnya.
"Dari mana saja kamu, Arini?" ketus Dodi.
"Bukankah sudah aku katakan sebelumnya padamu, Mas. Mas tidak usah mencemaskan aku. Sebaiknya Mas pikirkan saja keluarga barunya Mas," jawab Arini tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dodi.
...***...
__ADS_1