
"Nak Arini! Oh, syukurlah. Ibu pikir kamu tidak akan pernah mau bertemu dengan Ibu lagi." Dengan tergopoh-gopoh, Bu Nining menghampiri Arini yang kini berdiri di depan pintu rumahnya.
"Tentu saja tidak, Bu. Kenapa Ibu berpikiran seperti itu?" sahut Arini sambil memperhatikan penampilan Bu Nining yang terlihat berubah seratus delapan puluh derajat.
Jika biasanya wanita paruh baya itu selalu tampil modis dengan pakaian bagus dan mahalnya, kini ia terlihat kucel dengan daster lusuh yang entah sudah berapa lama terpendam di dalam lemari pakaiannya.
Kini Bu Nining berdiri tepat di hadapan Arini dan Hendra. Perlahan ia mengangkat kedua tangannya kemudian menyentuh pipi Arini sambil mengelusnya dengan lembut. Arini dapat melihat di mata wanita paruh baya itu tampak genangan air mata yang siap merembes ke luar.
"Arini ... maafkan Ibu," lirih Bu Nining yang akhirnya tidak dapat menahan tangisnya. Wanita itu terisak sambil terus mengucapkan kata maaf kepada mantan menantunya itu.
"Sudah ya, Bu. Jangan menangis lagi. Tanpa Ibu meminta maaf pun, aku sudah memaafkan semua kesalahan Ibu. Bukan hanya Ibu, aku pun punya salah sama Ibu. Kita sebagai manusia, tidak pernah luput dari yang namanya kesalahan. Maka dari itu, aku pun ingin meminta maaf kepada Ibu," tutur Arini.
Perlahan Arini meraih tubuh Bu Nining kemudian memeluknya dengan erat. Selama 6 tahun tinggal serumah, ini pertama kalinya Arini dan Bu Nining berpelukan. Bu Nining pun tampak tidak sungkan, dengan tubuh gemetar Bu Nining membalas pelukan Arini.
"Aku rasa, sebaiknya kita bicara di dalam. Orang-orang sedang melihat ke arah kita," sela Hendra sambil memperhatikan sekelilingnya.
Ya, beberapa tetangga tampak memperhatikan mereka dengan seksama. Beberapa di antara mereka bahkan terlihat berbisik-bisik. Entah apa yang sedang mereka bicarakan saat itu.
__ADS_1
Arini melerai pelukannya bersama Bu Nining kemudian mengangguk pelan. "Mas Hendra benar. Bolehkah kami masuk, Bu?"
"Ya, Nak. Tentu saja, masuklah! Pintu rumah ini masih terbuka lebar untukmu," ucap Bu Nining dengan begitu semangat mengajak Arini masuk dan menuntunnya hingga ruang depan.
"Mari, Nak. Duduklah dulu," sambung Bu Nining.
Arini dan Hendra pun duduk di sofa tersebut kemudian disusul oleh Bu Nining. "Oh ya, Nak. Setelah ini kamu akan tinggal di sini 'kan? Kamu akan menemani Ibu 'kan?" ucap Bu Nining kemudian dengan wajah semringah.
Arini dan Hendra sempat saling lempar pandang untuk beberapa saat. Namun, hanya sebentar dan mereka pun kembali fokus pada Bu Nining yang begitu mengharapkan jawaban 'ya' dari Arini.
"Ehm, ada yang ingin aku katakan pada Ibu soal hubunganku dengan Mas Dodi," lirih Arini dengan wajah sendu menatap Bu Nining.
"Mas Dodi baru saja menceraikan aku, Bu. Dan sekarang kami sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi," tutur Arini.
Bu Nining terperanjat. Ia bahkan sampai mengelus dadanya karena pengakuan Arini barusan membuat dadanya terasa sesak. "Ta-tapi, bagaimana bisa, Arini? Setahu Ibu, Dodi masih sangat mencintaimu. Apa kamu tahu, Arini. Selama kamu pergi, Dodi selalu menyebut namamu. Ia bahkan tidak pernah lelah mencari tahu keberadaanmu," lirih Bu Nining dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Arini menghembuskan napas berat. "Maafkan aku, Bu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena Mas Dodi sudah mengucapkan talak padaku. Bahkan Mas Hendra pun mendengarnya dengan jelas. Mas Dodi mengucapkan kata talak padaku disaksikan langsung oleh Mas Hendra," balas Arini.
__ADS_1
"Ya ampun, Dodi! Apa yang sudah kamu lakukan?" lirih Bu Nining.
Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tubuhnya terlihat bergetar. Bu Nining kembali terisak setelah tahu bahwa ternyata Dodi dan Arini sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi.
"Bu ... walaupun aku dan Mas Dodi sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi, tetapi aku berjanji bahwa aku tidak akan pernah melupakan Ibu. Jika Ibu mau, aku bisa menginap di sini untuk menemani Ibu," ucap Arini sembari mengelus lembut pundak Bu Nining agar wanita itu bisa lebih tenang.
Perlahan Bu Nining membuka tangannya kemudian tersenyum tipis menatap Arini. "Terima kasih banyak, Nak. Oh ya, apa kamu sudah tahu soal rumah ini?"
Arini menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu dan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bu Nining barusan. Ia kembali menatap Hendra dan ia yakin Hendra tahu apa yang dimaksud oleh mantan mertuanya tersebut.
"Kamu tahu sendiri 'kan, rumah ini angsurannya masih sangat panjang. Sementara Dodi tidak tahu kapan dibebaskannya. Sementara perusahaan tempatnya bekerja, sudah memutuskan hubungan kerja secara sepihak. Bahkan mereka tidak memberikan pesangon sedikit pun tanpa peduli alasan Dodi melakukan itu," tutur Bu Nining yang tampak sedih
"Ya, Tuhan. Lalu?"
"Rumah ini sudah di over sama Nak Hendra. Namun, atas kebaikan Nak Hendra dan Bu Ria, mereka mempersilakan Ibu untuk tetap tinggal di sini hingga Dodi dibebaskan," sambung Bu Nining.
Arini sontak menoleh ke arah Hendra dengan mata berkaca-kaca. Ia salut kepada keluarga Bu Ria yang memiliki hati seluas samudera. "Terima kasih banyak, Mas Hendra. Aku tidak tahu lagi harus bilang apa kepada kalian," ucap Arini.
__ADS_1
...***...