Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 69


__ADS_3

"Hati-hati ya, Mas Hendra. Kita tidak tahu apa yang ada di pikiran Mas Dodi saat ini," tutur Arini setelah turun dari motor milik Hendra.


"Ya, tentu saja, Arini. Kamu juga," jawabnya.


Setelah berpamitan kepada Arini, Hendra pun segera melaju bersama motor tersebut menuju kediamannya. Begitu pula Arini, ia pun segera masuk ke dalam kontrakannya.


Baru saja Arini selesai mengganti pakaiannya, tiba-tiba saja terdengar suara pintu tengah diketuk dari luar. Arini sontak menoleh ke arah pintu dengan wajah cemas. Saat itu pikirannya langsung tertuju pada Dodi.


"Mas Dodi?" gumamnya sembari berjalan ke arah pintu dengan perasaan takut.


"Si-siapa?" Arini memberanikan diri untuk bertanya pada seseorang yang sedang berdiri di depan pintu kontrakannya.


"Ini aku, Arini. Suci," jawabnya.


Arini menghela napas lega setelah tahu bahwa seseorang yang berada di balik pintu rumahnya adalah Suci, sahabat sekaligus rekan kerjanya.


"Ah, syukurlah! Hampir saja jantungku copot," gumam Arini sembari membuka pintu tersebut.


Setelah pintu terbuka, tampaklah Suci yang sedang berdiri di hadapannya dengan wajah kusut. Ya, wajah sahabatnya itu memang sejak tadi siang terlihat kusut dan entah apa sebabnya, Arini pun tidak tahu.


"Boleh aku masuk?" tanya Suci kepada Arini yang terdiam sambil memperhatikan dirinya dengan seksama.

__ADS_1


"Ah ya, tentu saja! Silakan masuk, Suci." Arini membuka pintu rumahnya lebih lebar dan setelah Suci masuk, ia pun segera menutup pintu itu kembali.


"Duduklah, Suci." Arini mengajak Suci untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruang depan.


"Sebenarnya kamu ada masalah apa, Suci? Sejak tadi siang aku perhatikan, wajahmu terlihat kusut. Ceritakan lah padaku, siapa tahu aku bisa membantumu," ucap Arini kemudian sambil mengelus lembut punggung sahabatnya itu.


Suci menghela napas berat. "Arini, saat ini aku benar-benar khawatir."


"Apa yang kamu khawatirkan?" sela Arini.


"Mantan suamiku. Beberapa hari yang lalu dia baru saja bebas dari penjara. Aku takut dia mencariku kemudian membuat masalah lagi denganku," lirih Suci dengan tatapan sendu menatap Arini.


"Dulu dia dihukum karena kedapatan main judi bersama teman-temannya dan sekarang masa hukumannya sudah selesai. Ia sudah bebas dan kembali berkeliaran sama seperti dulu. Apa kamu tahu, Arini. Dia masih belum bisa menerima perceraian kami. Ia masih menginginkan aku kembali padanya. Aku takut, bagaimana jika ia datang padaku kemudian mengganggu hidupku lagi," tutur Suci dengan mata berkaca-kaca.


Arini membuang napas berat. Ternyata nasib Suci benar-benar sebelas dua belas dengan dirinya. Jika Suci sudah resmi bercerai, berbeda dengannya yang masih terikat hubungan pernikahan dengan Dodi.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Arini.


"Aku tidak tahu. Aku sempat berencana meninggalkan kota ini dan kembali ke kampung halamanku. Tidak masalah jika nantinya hidupku serba kekurangan, tetapi setidaknya hidupku menjadi sedikit lebih tenang," lirih Suci.


Arini kembali mengelus lembut punggung Suci. "Aku tidak tahu harus berkata apa karena saat ini aku pun punya masalah yang hampir serupa denganmu. Saat ini kita sama-sama dikejar oleh laki-laki menyebalkan yang tidak ingin pergi dari sisi kita."

__ADS_1


Suci menoleh ke arah Arini dengan alis yang saling bertaut. "Maksudmu, suamimu juga ingin kamu kembali padanya?"


Arini mengangguk pelan. "Ya, karena sebenarnya Mas Dodi tidak pernah ingin melepaskan aku, tetapi aku lah yang memilih pergi darinya. Aku tidak sanggup jika harus hidup satu atap dengan istri muda suamiku. Bayangkan bagaimana jika kamu harus melihat mereka bermesraan di depan matamu. Lagi pula mereka sudah memiliki anggota keluarga lengkap. Ada suami, istri dan seorang anak. Lalu, aku? Aku hanya akan menjadi benalu yang tidak tahu malu jika tetap tinggal bersama mereka."


Suci tersenyum kecut. "Ternyata kita tidak jauh berbeda ya, Arini."


"Ya, masalah yang kita hadapi sebelas dua belas," jawab Arini sambil terkekeh pelan.


Kedua wanita itu pun saling berpelukan untuk beberapa saat. Mencoba mengurangi beban berat yang saat ini mereka rasakan. Setelah beberapa saat kemudian, keduanya pun melerai pelukan mereka sambil tersenyum lega.


"Bolehkah malam ini aku tidur di sini? Aku butuh teman saat ini, Arini," tanya Suci kemudian.


"Tentu saja, kenapa tidak?" sahut Arini dengan senang hati.


Malam itu Suci menginap di kontrakan Arini. Hampir separuh malam kedua sahabat itu saling bicara dan menceritakan kisah hidup mereka satu sama lain. Hingga akhirnya mereka pun mulai mengantuk dan akhirnya tertidur pulas.


Sementara keduanya tengah tertidur pulas, seorang laki-laki tampak sedang mengendap-endap di sekitar kontrakan Arini dan Suci. Di saat semua orang tengah larut dalam mimpi mereka, lelaki itu berhasil membobol jendela kontrakan milik Suci.


Lelaki itu mencari keberadaan Suci, tetapi ia tidak berhasil menemukannya di manapun, di rumah itu. Ia kesal kemudian mengobrak-abrik kontrakan tersebut kemudian pergi setelah puas.


...***...

__ADS_1


__ADS_2