Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 118


__ADS_3

"Ya, sudah, Ci. Aku permisi dulu." Setelah berpamitan kepada Suci dan teman-temannya yang lain, Arini pun segera menyusul Tuan Malik di mobilnya.


Sepeninggal Arini, Suci mulai dikerumuni oleh teman-temannya. Mereka penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Arini. Namun, belum sempat Suci menjelaskan kepada mereka, Tia keluar dari ruangannya dan langsung menegur aksi para karyawannya itu.


"Heh, kalian! Sebenarnya tugas kalian itu ngerumpi atau kerja, ha? Atau kalian ingin segera menyusul Arini, dipecat dari butik ini, iya?" ketus Tia sambil bertolak pinggang.


"Tidak, Nona," jawab mereka seraya kembali ke posisi mereka masing-masing, termasuk Suci.


"Kalian ini kebiasaan kerja santai ketika bersama Ibu, makanya kalian ngelunjak! Tapi hal itu tidak berlaku untukku. Aku akan perketat peraturan di butik ini agar kalian kembali disiplin," sambung Tia sambil berkeliling memperhatikan pekerjaan karyawan-karyawannya.


Jika Tia sibuk mengurus karyawannya, berbeda dengan yang Toni duduk berleha-leha di dalam ruangan pribadi Tia sambil memainkan ponselnya.


Sementara itu.


"Maafkan Tia, Arini," lirih Tuan Malik sambil membuang napas berat. "Sebenarnya Tia itu wanita yang baik. Hanya saja ia sudah terpengaruh oleh kata-kata suaminya. Sehingga ia tidak bisa membedakan yang mana yang benar dan mana yang salah."


Arini tersenyum tipis. "Tidak apa, Tuan Malik. Saya mengerti, lagi pula mungkin ini sudah saatnya untuk saya mencari pekerjaan baru."


Tuan Malik menghembuskan napas berat kemudian melirik Arini yang tatapannya masih fokus ke depan.

__ADS_1


"Arini," panggil lelaki itu.


Arini pun menoleh. "Ya?"


"Beberapa tahun yang lalu aku dan mendiang istriku pernah berencana ingin membangun sebuah toko. Namun, karena kesibukanku dan juga kesibukannya dalam mengurus butik, hal itu pun kami urungkan. Entah kenapa sekarang aku ingin memulainya lagi. Jika nanti keinginanku menjadi kenyataan, maukah kamu membantuku mengurusnya?" tanya Tuan Malik.


Arini terdiam sejenak sambil menatap wajah dingin yang sekarang juga melihat ke arahnya. Perlahan Arini menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum.


"Tentu saja, Tuan Malik. Selama saya mampu," jawab Arini. "Tapi ... kalau boleh saya tahu, toko apa yang ingin Tuan bangun nantinya?"


"Toko yang menjual aksesoris laki-laki dan wanita. Terutama jam tangan dengan berbagai brand ternama. Termasuk jam tangan dengan brand milikku sendiri," jawab Tuan Malik.


"Tahu dari mana?" tanya Tuan Malik dengan alis berkerut.


"Dari mendiang Nyonya Arniz. Beliau sering sekali menceritakan tentang Anda kepada saya. Bahkan hampir setiap hari beliau selalu bercerita tentang kehidupan kalian yang hangat dan romantis, termasuk juga soal itu," jawab Arini sambil tersenyum lebar mengingat masa-masa ketika ia bersama Nyonya Arniz.


"Oh."


Tuan Malik menghembuskan napas panjang kemudian memalingkan wajahnya ke depan. Seketika hatinya kembali sedih ketika Arini menyebut nama mendiang istrinya itu.

__ADS_1


Begitu banyak kenangan indah yang ia lalui bersama Nyonya Arniz dan sampai kapanpun tidak akan pernah bisa hilang dalam ingatannya. Wanita yang sudah menemani dirinya mulai ia masih merintis hingga menjadi sukses seperti sekarang ini.


"Tu-Tuan Malik? Apa aku sudah menyinggung perasaanmu?" tanya Arini dengan wajah cemas. Ia tahu bahwa ekspresi Tuan Malik saat itu tampak berubah setelah ia menyebut nama Nyonya Arniz.


Tuan Malik tersenyum tipis, tetapi masih enggan memalingkan wajahnya menatap Arini. "Tidak, Arini. Aku tidak apa-apa, kamu tenang saja," jawabnya.


Arini terdiam dan tatapannya masih tertuju pada lelaki itu. Walaupun Tuan Malik sudah memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, Arini tetap tidak yakin bahwa lelaki itu dalam kondisi baik-baik saja.


Akhirnya mobil yang membawa Arini dan Tuan Malik tiba di depan kontrakan. Arini segera keluar dan mengucap terima kasih kepada lelaki itu.


"Terima kasih banyak, Tuan Malik."


"Sama-sama. Oh ya, Arini. Kalau boleh aku memberi saran, sebaiknya kamu tidak usah mencari pekerjaan baru. Beristirahatlah, nikmati waktumu senggangmu. Lagi pula pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi dan soal kontrakan serta kebutuhanmu sehari-hari, tidak usah kamu pikirkan."


"Baik, Tuan," jawab Arini sambil tersenyum hangat.


Tuan Malik pun mengangguk dan mobil yang saat itu dikemudikan oleh Pak Kosim itu pun melesat dan dalam beberapa detik, menghilang dari pandangan Arini.


...***...

__ADS_1


__ADS_2