Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 35


__ADS_3

"Arini, kamu sudah tidur?" Dodi menggoyangkan tubuh Arini yang sedang berada di pelukannya dan ternyata benar, istrinya itu sudah tertidur dengan nyenyaknya di dalam pelukannya.


Perlahan Dodi melepaskan pelukannya bersama Arini dan membiarkan wanita itu tertidur di sana. Setelah menyelimuti Arini dan memastikan bahwa wanita itu benar-benar terlelap, Dodi pun segera bangkit. Tak lupa, lelaki itu mengambil sebuah kunci serep di dalam laci nakas.


Setelah berhasil mengambil kunci tersebut, Dodi berjalan dengan sangat perlahan agar Arini dan Azkia tidak terbangun. Bahkan ketika membuka pintu kamarnya, lelaki itu berusaha sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan kedua perempuan kesayangannya itu.


"Huft!" Dodi menghembuskan napas lega karena akhirnya ia berhasil keluar dari kamar tanpa membangunkan Arini maupun Azkia.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 PM. Semua orang sudah terlelap dan hanya Dodi yang masih berkeliaran di dalam rumahnya tersebut. Lelaki itu berjalan mengendap-endap hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan sebuah pintu kamar.


Perlahan Dodi membuka pintu kamar yang terkunci tersebut dengan kunci serep yang ia ambil dari laci nakas. Tidak berselang lama, pintu itu pun akhirnya terbuka. Dodi mengedarkan pandangannya ke dalam kamar yang cahayanya tampak remang-remang tersebut.


Dia menyaksikan seorang wanita cantik dengan balutan lingerie seksi tengah tertidur dengan nyenyak di atas tempat tidurnya. Perlahan Dodi masuk dan menutup kembali pintu kamar itu dengan jantung yang berdebar-debar.


Tak!!!


Dodi menghidupkan lampu kamar yang lebih terang dan membuat wanita cantik berpakaian seksi itu menggeliat di atas tempat tidur tersebut. Wanita itu tampak kesal karena tidurnya terganggu. Ia mengucek matanya kemudian membukanya dengan cepat setelah samar-samar ia melihat sosok lelaki sedang berdiri di hadapannya.


"Mas Dodi?" pekiknya. Ia segera bangkit dari posisinya kemudian duduk di tepian tempat tidur sambil menatap lelaki itu dengan wajah heran.

__ADS_1


"Aku ingin bicara padamu, Anissa!" tegas Dodi.


Anissa tersenyum semringah. Ia segera menghampiri Dodi yang masih berdiri di depan tempat tidurnya. "Bicara apa, Mas?" tanya Anissa dengan gaya centilnya. Bahkan wanita itu dengan sengaja mendekatkan tubuh mereka berdua hingga kedua bulatan kenyal miliknya menyentuh tubuh Dodi.


Semua lelaki normal mungkin akan tergoda melihat kemolekan tubuh Anissa saat itu. Apa lagi wanita itu hanya mengenakan lingerie tipis tanpa dalaman. Area-area terlarang wanita itu bahkan terlihat dengan sangat jelas.


Begitu pula Dodi, sebagai lelaki normal, ia pun tidak menampik bahwa penampilan Anissa benar-benar sangat menggairahkan saat itu. Lelaki itu bahkan sempat menelan saliva ketika bulatan kenyal tersebut mengenai tubuhnya.


Namun, dengan sekuat tenaga Dodi mencoba mengacuhkan hal tersebut karena niatnya menemui wanita itu adalah untuk mengingatkan wanita itu dan bukannya untuk mengingat kembali kenangan manis mereka.


"Anissa, tolong jaga prilakumu jika masih ingin tinggal di rumah ini!" kesal Dodi sembari mendorong pelan tubuh Anissa agar menjauh darinya.


Anissa membuang napas kasar sambil memutarkan kedua bola matanya. "Halah, pasti istri Mas yang lebay itu mengadu 'kan!" kesalnya.


Anissa semakin kesal. Ia menyilangkan tangannya ke dada sambil menekuk wajahnya. "Kapan kamu akan bertanggung jawab padaku, Mas? Apa kah aku akan tetap seperti ini selamanya, ha? Apa kamu tidak kasihan sama bayi kita, Azkia! Dia butuh pengakuan, Mas! Sebagai anak kandung, bukan anak angkat!" kesal Anissa dengan nada suara yang mulai meninggi.


Dodi panik. Ia segera menghampiri Anissa dan menutup mulut wanita itu dengan tangan kekarnya hingga Anissa tidak bisa lagi berbicara. "Eemmm!" kesal wanita itu.


"Diam! Jangan keras-keras! Atau semua orang akan terbangun karena mendengar suaramu!" kesal Dodi.

__ADS_1


Anissa mencoba melepaskan tangan Dodi yang membekap mulutnya, tetapi tidak berhasil. Kekuatan lelaki itu jauh lebih besar darinya. Namun, di saat ada kesempatan, Anissa menggigit tangan Dodi dengan keras hingga lelaki itu melepaskan bekapannya.


"Aw!" pekik Dodi sambil meringis kesakitan.


"Biarkan saja semua orang dengar! Biar mereka tahu bagaimana sifat seorang Dodi yang mereka bangga-banggakan itu sebenarnya! Dodi yang selalu mereka bilang sosok lelaki setia dan bertanggung jawab, ternyata hanyalah seorang lelaki pembual, yang hanya bisa menghamili anak orang tanpa ingin bertanggung jawab!" ketus Anissa.


"Anissa, cukup!" Dodi kembali ingin membungkam mulut Anissa saat itu. Namun, ketika lelaki itu mendekat, Anissa malah melepaskan lingerie seksinya dan melemparnya ke sembarang arah.


Dodi terperanjat. Ia mengurungkan niatnya menghampiri wanita itu dan malah mundur beberapa langkah ke belakang. "Jangan macam-macam, Anissa!"


Sementara wanita itu menyeringai sembari menghampiri Dodi yang terus mencoba menjauh darinya. Terlihat keringat dingin terus mengucur di kening lelaki itu. Menandakan bahwa jiwa Dodi sedang berperang melawan hasratnya terhadap wanita muda dengan tubuh polos, yang berada di hadapannya.


"Kenapa, Mas Dodi? Apakah kamu tidak ingin mengulang kisah manis kita dulu?" sambung Anissa.


Tubuh Dodi terjebak antara dinding kamar dan tubuh polos Anissa yang begitu menggairahkan. Wanita itu bahkan tidak segan-segan meraih tangan Dodi kemudian meletakkannya di buah kenyal tersebut sembari melabuhkan ciuman hangat di bibir lelaki itu.


Untuk sesaat, Dodi sempat terlena akan hangatnya ciuman Anissa, hingga akhirnya terlintas wajah cantik Arini di kepalanya. Dodi mendorong tubuh Anissa dengan kasar dan membuat wanita itu tersentak kaget.


"Maafkan aku, Anissa! Aku tidak bisa. Aku sangat mencintai Arini!" ucap Dodi sembari pergi dari kamar itu dengan langkah cepat meninggalkan Anissa.

__ADS_1


Tubuh Anissa jatuh ke lantai kamarnya dan wanita itu terisak di sana seorang diri. "Kenapa kamu tidak mengatakan hal itu ketika kamu mengambil kesucianku dan meninggalkan benih di rahimku, Mas Dodi!"


...***...


__ADS_2