Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 47


__ADS_3

"Sudahlah, Sayang. Mungkin memang bukan rejeki kita. Kamu tenang saja, nanti aku belikan yang baru."


Wanita itu menghembuskan napas lega setelah mendengar penuturan Sang Suami. Walaupun terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa ia masih tidak bisa mengikhlaskan gelang pemberian suaminya itu hilang.


"Baiklah, Sayang. Aku mencintaimu," ucapnya sebelum ia mengakhiri panggilannya bersama Sang Suami. Setelah panggilan mereka berakhir, wanita itu pun bergegas keluar dari ruangan pribadinya.


"Nah, itu Nyonya!" seru salah satu karyawannya.


Ia bingung saat melihat beberapa orang karyawannya malah berkumpul di salah satu sudut ruangan itu. "Kenapa kalian malah berkumpul di sini? Bukankah tadi aku minta kalian untuk mencari gelangku yang hilang?"


"Kami sudah menemukan gelang Anda, Nyonya. Gelang Anda bukannya hilang tetapi sudah dicuri oleh wanita ini!" sahut salah satu karyawannya.


"Benarkah? Siapa yang sudah mencurinya?"


"Ya, Tuhan! Kenapa kalian masih tidak percaya! Aku tidak mencurinya, gelang ini jatuh dari tubuh seorang wanita dan aku berniat mengembalikannya," elak Arini.


Wanita pemilik gelang cantik itu bergegas menghampiri kerumunan tersebut dan ia begitu terkejut setelah tahu siapa yang mereka tuduh sebagai pencuri gelangnya.


"Arini!" pekik wanita cantik berusia 45 tahun tersebut dengan mata membulat sempurna.


"Nyonya Arniz?!" Ternyata Arini pun mengenali wanita pemilik gelang tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah wanita yang kemarin menabraknya.

__ADS_1


"Oh, Arini! Maafkan karyawanku. Kemarilah," ucap Nyonya Arniz seraya meraih tubuh Arini kemudian memeluknya dengan erat.


"Tidak apa-apa, Nyonya." Dengan malu-malu Arini membalas pelukan Nyonya Arniz. Bagaimana tidak, ia baru saja berpanas-panasan dan sekarang malah dipeluk oleh orang lain.


"Sudah sana, kalian bubar!" titah Nyonya Arniz kepada beberapa karyawannya yang masih berkerumun di tempat itu.


Setelah mendapatkan titah dari Nyonya Arniz, mereka pun segera bubar dan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Sementara Nyonya Arniz mengajak Arini masuk ke dalam ruangan pribadinya. Ia ingin berbincang banyak dengan wanita itu.


"Bagaimana kabarmu, Arini? Jujur aku masih mengkhawatirkan keadaanmu," ucap wanita itu sambil menatap lekat wajah lelah Arini.


"Sudah mulai membaik, Nyonya. Ehm, aku benar-benar tidak menyangka bahwa kita bisa bertemu lagi di sini," sahut Arini sembari menyerahkan kembali gelang itu kepada Nyonya Arniz.


"Ya, aku juga. Aku menunggu panggilan darimu, ternyata sampai sekarang kamu tidak juga menghubungiku. Ehm, ngomong-ngomong soal gelang ini, terima kasih banyak, Arini. Aku sempat frustrasi setelah tahu gelang ini menghilang. Apa kamu tahu, gelang ini sangat istimewa bagiku. Ini adalah hadiah ulang tahun dari suamiku beberapa tahun yang lalu," tutur Nyonya Arniz.


Arini hanya bisa tersenyum mendengar penuturan wanita itu. Yang ada di pikiran Arini hanya satu, begitu beruntungnya Nyonya Arniz menemukan sosok suami seperti Tuan Malik. Selain memiliki wajah yang begitu tampan rupawan, Tuan malik juga setia dan itu lah yang paling penting dari segalanya.


Sekarang ia kembali mengingat akan nasibnya yang kurang beruntung. Selama ini, jangankan mendapatkan hadiah perhiasan mahal seperti itu, Dodi bahkan tidak pernah ingat akan hari lahirnya. Namun, bukan hanya itu. Ternyata selama ini Dodi pun senang bermain api di belakangnya bahkan hingga tercipta sosok mahluk mungil tak berdosa itu, Azkia.


"Arini, apa kamu baik-baik saja?" tanya Nyonya Arniz ketika Arini hanya diam dan sekarang malah menatapnya dengan tatapan kosong menerawang.


Panggilan Nyonya Arniz saat itu membuyarkan lamunannya. Arini tersadar kemudian kembali menyunggingkan senyumnya untuk wanita itu.

__ADS_1


"Ah, iya, Nyonya. Aku baik-baik saja, maafkan aku."


Nyonya Arniz kembali memperhatikan wajah kusut Arini dan ia tahu bahwa wanita muda itu sedang menghadapi masalah berat. Ia ingin sekali mencari tahu apa yang membuat Arini tampak kacau, dan itu bukan hanya hari ini, tetapi sejak pertama mereka bertemu, ekspresi wajah Arini masih sama seperti itu.


"Arini, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Katakanlah padaku, siapa tahu aku bisa membantumu. Aku tahu saat ini kamu pasti punya masalah berat dan itu, map apa yang sedang kamu bawa itu?" tanya Nyonya Arniz sambil memperhatikan amplop berwarna coklat yang masih dipeluk oleh Arini.


Arini menghembuskan napas berat. "Ya, Nyonya, Anda benar. Saat ini aku memang punya masalah yang sangat-sangat berat. Tapi aku malu menceritakannya. Dan soal ini ...." Arini kembali menyunggingkan senyumnya sembari memperlihatkan map berwarna coklat tersebut kepada Nyonya Arniz. "Ini surat lamaran kerja," lanjutnya.


"Loh, kenapa harus malu, Arini. Ceritakan lah! Siapa tahu dengan berbagi cerita, kamu bisa lebih tenang dan aku bisa membantumu mencari jalan keluar dari permasalahanmu itu."


Nyonya Arniz menepuk pelan pundak Arini kemudian meraih map berwarna coklat yang sejak tadi dipegang oleh Arini. "Sini, boleh aku lihat?"


"Tentu saja, Nyonya."


Nyonya Arniz membuka map tersebut dan melihat berkas-berkas surat lamaran milik Arini. Wanita itu mengerutkan keningnya saat tahu bahwa Arini hanya lulusan SMP. Setelah puas memperhatikan berkas-berkas tersebut, Nyonya Arniz pun kembali tersenyum kepada Arini.


"Kemana saja kamu sudah menyerahkan surat-surat ini?" tanya Nyonya Arniz.


Arini menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang bersedia menerimaku, Nyonya. Karena aku hanya lulusan SMP. Sedangkan mereka membutuhkan lulusan SMA paling rendah," jawab Arini sambil tersenyum kecut.


...***...

__ADS_1


__ADS_2