Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 36


__ADS_3

Hiks ...


Dodi membuka matanya. Samar-samar ia mendengar suara isak tangis Arini yang terdengar sangat menyayat hati. Dodi memperhatikan tubuh Arini yang berbaring dengan posisi meringkuk membelakanginya. Tubuh wanita itu terlihat bergetar dan ya, wanita itu tengah terisak.


"Arini? Sayang, kamu kenapa?" Dodi melihat ke wajah Arini dan ternyata wanita itu masih dalam keadaan tidur. Entah apa yang ia mimpikan hingga ia sampai menangis seperti itu. Perlahan Dodi menggoyangkan tubuh Arini dan mencoba membangunkannya.


"Arini sayang, bangunlah."


"Oh, Tuhan! Untunglah hanya mimpi," ucap Arini sembari menyeka air matanya kemudian melirik jam yang menggantung di dinding kamar.


"Memangnya kamu mimpi apa? Kok, sampai menangis begitu?" tanya Dodi sambil menatap lekat wajah murung Arini.


"Bukan apa-apa, Mas. Kata orang dulu-dulu, kalau mimpi yang jelek-jelek itu tidak usah diceritakan. Takut menjadi kenyataan," jawab Arini.


Dodi terkekeh pelan. Tentu saja ia tidak percaya dengan yang seperti itu. Baginya yang hal itu hanyalah sebuah mitos yang menyesatkan. "Kamu ini ada-ada saja, Sayang. Ya, sudah. Bukankah hari ini ada acara syukuran di rumah Bu Ria? Sebaiknya kamu bersiap, lagi pula ini sudah pagi," ucap Dodi sambil mengacak pelan puncak kepala Arini.


Arini mengangguk pelan kemudian bangkit. Ia berjalan menuju kamar mandi dan segera melakukan ritual mandinya di ruangan itu. Sementara itu Dodi masih terdiam di dalam kamar sambil memperhatikan wajah Azkia yang tertidur nyenyak di atas tempat tidur mereka.


"Azkia, maafkan Ayah," lirih Dodi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Benar kata Anissa, aku tidak bisa menyembunyikan status Azkia yang sebenarnya kepada Arini. Lambat laun, semua itu pasti akan terbongkar dan Arini pasti akan segera mengetahuinya. Apakah aku harus mengaku sekarang? Tapi ... aku masih belum siap menghadapi kemarahan Arini. Aku tidak ingin kehilangan dia, aku tidak sanggup kalau harus berpisah dengannya," gumam Dodi dengan wajah kusut dan mata yang mulai berkaca-kaca.


Beberapa jam kemudian.


"Mas, aku ingin berangkat sekarang. Mas mau ikut?" ajak Arini kepada Dodi yang masih menatap bayangannya di cermin.


"Ya, kita barengan aja. Tunggu sebentar lagi," jawab Dodi.


Setelah beberapa saat, Dodi pun siap. Pasangan itu segera berangkat menuju kediaman Bu Ria. Di mana hari ini wanita itu mengadakan acara syukuran untuk Hendra yang akhirnya dipindah tugaskan.


Ternyata bukan hanya Dodi dan Arini, Bu Nining pun sudah bersiap menuju acara tersebut. Wanita paruh baya itu terlihat cantik dengan pakaian mahalnya. Sedangkan Arini masih mengenakan pakaian lamanya.


"Anissa, kamu gak ikut?" tanya Bu Nining kepada Anissa yang sedang menggendong Azkia di ruang depan sambil memperhatikan banyaknya tamu undangan yang mulai berdatangan ke kediaman Bu Ria.


Dodi tidak menjawab. Ia hanya diam kemudian menoleh ke arah Arini yang kini memasang wajah masam. Arini masih kesal dengan wanita itu dan ia tidak bisa memaafkannya begitu saja. Apa lagi tadi pagi ia sampai terisak karena kejadian itu terbawa hingga ke alam mimpinya.


"Baiklah kalau begitu. Kamu di sini saja, lagi pula acaranya tidak akan lama, kok," jawab Bu Nining.


"Ya, Bu." Anissa kembali menyunggingkan sebuah senyuman hangat kepada Bu Nining, Dodi dan Arini tanpa merasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


"Dah, Ayah! Dah, Ibu!" lanjut Anissa sambil melambaikan tangan mungil Azkia kepada Arini dan Dodi.


Dodi pun membalas lambaian tangan Azkia kecil sambil tersenyum hangat. "Dah, Azkia!"


Ketiga orang itu segera menuju kediaman Bu Ria yang berada di sebelah rumah mereka. Ternyata benar, tamu undangan Bu Ria sudah berdatangan dan mulai memenuhi rumahnya yang cukup luas itu. Ya, setidaknya rumah Bu Ria jauh lebih besar dari pada kediaman Dodi dan Arini.


"Selamat datang, Bu Nining. Terima kasih sudah datang. Mari, silakan nikmati hidangannya," ucap Bu Ria kepada Bu Nining.


"Ya, terima kasih." Bu Nining pun segera memilih hidangan yang berjejer di atas sebuah meja.


"Arini sayang, mana Azkia? Dia tidak ikut?" tanya Bu Ria kepada Arini. Sementara Dodi memilih menemui Hendra dan bergabung bersama para pria lainnya.


Arini menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Azkia bersama Anissa di rumah," lirih Arini.


Bu Ria memperhatikan wajah cantik Arini yang tampak murung. Tidak seperti biasanya yang selalu terlihat ceria. "Kamu kenapa, Rin? Ada masalah?" tanya Bu Ria sambil menautkan kedua alisnya.


"Ehm, tidak ada, Bu. Hari ini aku memang merasa sedikit kurang fit," jawab Arini.


Bu Ria masih terdiam. Ia yakin sekali bahwa Arini memang sedang ada masalah. Hanya saja wanita itu tidak mau mengakuinya.

__ADS_1


"Ya, sudah kalau begitu. Sebaiknya kamu makan dulu, ya!" Bu Ria menemani Arini memilih hidangan yang tersaji di atas meja. "Ambil yang banyak, tidak perlu sungkan-sungkan," lanjut Bu Ria sambil tersenyum hangat.


...***...


__ADS_2