
Sore pun menjelang, kini saatnya Arini dan seluruh karyawan butik tersebut pulang ke kediaman masing-masing. Suci yang sudah terlebih dahulu berkemas, melambaikan tangannya kepada Arini. Sahabat baru Arini tersebut pulang dengan jalan kaki menuju rumah kontrakannya yang terletak tak jauh dari butik milik Nyonya Arniz.
Sementara Arini masih berdiri di depan butik sambil menunggu angkot yang mungkin saja lewat di sana. "Ah, semoga saja masih ada angkot atau ojek yang lewat," gumam Arini.
Tidak berselang lama sebuah mobil mewah memasuki halaman butik dan melewati Arini yang masih terdiam di tempat itu. Arini memperhatikan mobil mewah tersebut dengan seksama dan tidak lama setelah mobil itu terparkir dengan rapi, seseorang keluar dari mobil.
Seorang lelaki tampan nan rupawan mengenakan lol setelan jas lengkap serta rambut hitam yang tersisir dengan sangat rapi. Sosok lelaki itu tersenyum hangat sembari menghampiri Nyonya Arniz yang baru saja keluar dari butiknya.
"Sayang!" pekik Nyonya Arniz yang kemudian tanpa sungkan memeluk kemudian mencium kedua belah pipi lelaki, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tuan Malik Abraham, di depan umum.
Arini yang sejak tadi memperhatikan kemesraan pasangan itu, tersenyum-senyum sendiri. Ia begitu senang melihat kemesraan pasangan itu. Walaupun usia mereka sudah bisa dibilang tidak muda lagi, 40 (Malik) dan 45 tahun (Arniz), tetapi usia matang mereka tidak mengurangi rasa cinta dan kasih keduanya.
"Mari kita pulang," ajak Tuan Malik sembari membuka pintu mobil mewahnya untuk Nyonya Arniz.
"Baiklah," jawab Nyonya Arniz sembari masuk ke dalam mobilnya.
Nyonya Arniz sempat mengedarkan pandangannya dan kini tatapan wanita itu tertuju pada Arini yang berdiri tak jauh dari mobilnya yang terparkir.
"Arini! Jangan lupa apa yang aku katakan tadi siang, ya! Esok pagi-pagi sekali aku akan menjemputmu," ucap Nyonya Arniz dengan setengah berteriak kepada Arini.
Arini mengangguk pelan. Ia tidak menyangka bahwa Nyonya Arniz masih saja mengingatkan soal masalah itu kepadanya. "Baik, Nyonya."
__ADS_1
Nyonya Arniz tersenyum puas sembari melambaikan tangannya kepada Arini dan kemudian menutup kaca mobil sebelum Tuan Malik melajukan mobilnya.
"Ya Tuhan, Sayang. Jangan bilang kamu lagi-lagi ikut campur dengan urusan pribadi wanita muda itu?" ucap Tuan Malik sambil sesekali melirik sang istri.
"Kenapa? Aku baik loh, Sayang. Aku hanya ingin membantu Arini bangkit dari keterpurukannya. Kasihan dia, selama ini dia sudah cukup menderita," sahut Nyonya Arniz.
"Tapi, Sayang. Apa kamu tidak takut kepada pihak suaminya? Bagaimana jika suaminya tidak terima dan akhirnya kamu sendiri 'kan yang kena imbasnya," kata Tuan Malik lagi.
"Ah, jangan begitu, Sayang. Jangan menakutiku seperti itu. Lagi pula tidak mungkin itu terjadi, kok," jawab Nyonya Arniz mantap.
"Aku tidak menakutimu, tapi ya sudahlah. Semoga saja kebaikanmu dibalas oleh Tuhan dengan beribu kebaikan pula," ucap Tuan Malik sambil tersenyum tipis menatap Nyonya Arniz.
"Aamiin."
"Astaga! Harus berapa lama lagi aku berdiri di sini? Apa sebaiknya aku jalan kaki saja ya, sembari mencari tumpangan?" gumam Arini sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
Akhirnya Arini memutuskan untuk kembali melangkahkan kakinya menelusuri jalan dan baru beberapa meter dari butik milik Nyonya Arniz, tiba-tiba sebuah mobil menghampirinya. Kaca pintu mobil tersebut terbuka dan tampaklah sosok lelaki yang begitu Arini kenali.
"Hai, Arini, butuh tumpangan?" ucapnya sambil tersenyum hangat.
"Astaga, Mas Hendra! Jangan bilang Mas Hendra sengaja ke sini untuk menjemputku, ya," sahut Arini sambil tersipu malu.
__ADS_1
Hendra terkekeh pelan. "Kalau boleh jujur, sebenarnya, ya. Aku sengaja ke sini untuk menjemputmu," jawab Hendra sembari membuka pintu mobilnya untuk wanita itu.
"Aduh, Mas Hendra. Aku jadi tidak enak. Aku takut merepotkanmu," ucap Arini sambil tersenyum kecut.
"Tidak lah, 'kan aku sendiri yang mau. Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan, sebaiknya cepat masuk, biar aku antar sampai rumah," jawab Hendra kemudian.
Mau tidak mau, Arini pun akhirnya masuk ke dalam mobil tersebut dan Hendra segera memacu mobilnya menuju komplek perumahan mereka.
Di perjalanan.
"Hmm, Mas Hendra. Terima kasih atas kebaikan Mas Hendra dan Bu Ria selama ini padaku. Aku tidak tahu akan seperti apa jadinya padaku, jika tidak ada orang-orang seperti Mas Hendra dan Bu Ria yang selalu bersedia membantuku di saat aku benar-benar membutuhkan bantuan," lirih Arini.
Hendra menautkan kedua alisnya. Ia bingung kenapa Arini tiba-tiba saja berkata seperti itu. "Loh, Arini, kenapa kamu bicara seperti itu? Itu sudah menjadi kewajiban kami, Arini. Bukan kah selama ini kita bertetangga dan sebagai tetangga yang baik, aku tidak akan pernah membiarkan kamu berada dalam kesusahan," tutur Hendra.
Arini tersenyum getir. Ia tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan terima kasih sekaligus berpamitan kepada lelaki itu. Ya, mungkin hari ini adalah hari terakhir Arini berada di komplek perumahan tersebut dan terakhir kalinya pula ia numpang pulang bersama Hendra.
Tidak berselang lama mobil yang dikemudikan oleh Hendra pun tiba di depan komplek perumahan. Untuk menghindari gosip-gosip yang tidak mengenakkan, Arini terpaksa meminta Hendra untuk membiarkannya turun di depan komplek.
"Mas Hendra, aku berhenti di sini saja. Aku bisa jalan kaki hingga rumah. Ehm, terima kasih sekali lagi ya, Mas. Dan aku juga ingin minta maaf jika selama ini aku pernah membuat Mas Hendra tersinggung dan kecewa kepadaku," tutur Arini sambil tersenyum tipis menatap Hendra.
"Ya, sama-sama. Aku pun minta maaf jika selama ini aku pernah membuat kesalahan kepadamu," jawab Hendra sambil menatap lekat wajah Arini yang tampak murung.
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal itu, Arini pun segera melangkahkan kakinya menuju kediamannya bersama Dodi. Sementara Hendra masih terdiam di depan komplek sambil menatap Arini yang semakin menjauh dari pandangannya.
...***...