
"Aku pamit dulu ya, Bu. Doakan semuanya berjalan lancar," ucap Hendra kepada Bu Ria yang sedang menggendong Azkia.
"Iya, Ibu selalu mendoakan yang terbaik buat kamu, Nak."
Setelah berpamitan kepada Bu Ria dan mencium tangan wanita itu, Hendra pun segera masuk ke dalam mobilnya. "Bu, aku terlihat tampan, 'kan?" tanya Hendra lagi, sebelum ia melaju dengan mobilnya tersebut.
"Ish, Hendra!" Bu Ria terkekeh pelan. "Tenang saja, kamu itu selalu keren! Sudah, sana berangkat."
"Terima kasih, Bu." Hendra pun segera melaju dan kini kepercayaan dirinya semakin meningkat setelah Bu Ria mengatakan bahwa dirinya terlihat keren.
"Arini, tunggu aku!" gumam Hendra sembari fokus pada kemudinya.
Sementara itu di kediaman Arini.
"Cieee, cantik bener. Mau kemana, sih?" sapa Suci ketika berkunjung ke kontrakan Arini dan melihat Arini yang terlihat cantik dengan dress selutut berwarna cream.
Arini tersenyum. "Entahlah. Tiba-tiba Mas Hendra mengajakku makan siang bareng. Katanya ada yang ingin ia bicarakan dan ini penting. Sekalian aku pengen berkunjung ke kediamannya untuk menemui Azkia dan Bu Ria juga," jawab Arini.
"Oh, begitu." Suci terdiam sejenak. Di dalam hatinya yang paling dalam, ia masih sangat penasaran dengan sikap dingin Tuan Malik jika tidak sengaja bertemu dengannya.
"Kenapa kamu diam, Ci? Ada yang salah?" Arini menautkan kedua keningnya.
"Ehm, aku masih penasaran soal Tuan Malik, Rin. Entah kenapa setiap kali ia menatapku, ia selalu memasang wajah masam. Apa cuma perasaanku aja, ya?"
Arini menghembuskan napas berat. Ia menyentuh pundak Suci kemudian tersenyum kecut. "Sepertinya aku tahu kenapa Tuan Malik bersikap seperti itu."
"Benarkah? Kenapa? Bisa kamu ceritakan?" tanya Suci yang mulai penasaran.
"Apa kamu tahu siapa yang tega melakukan perampokan terhadap Nyonya Arniz?"
__ADS_1
Suci menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak tahu."
"Angga, Ci. Mantan suami kamu."
"Apa?!" pekik Suci dengan mata membulat. Ia tidak percaya bahwa ternyata itu adalah perbuatan mantan suaminya. "Ya, Tuhan! Trus, apa Mas Angga sudah diamankan?"
"Polisi sedang melakukan pencarian dan semoga saja cepat ketemu," jawab Arini.
"Ya, kalau perlu hukum mati saja sekalian! Sebab dia sudah membuat Nyonya Arniz meninggal!" kesal Suci. "Ya, Tuhan!" pekiknya kemudian.
Mata Suci membesar. Sekarang ia paham kenapa Tuan Malik terlihat kesal kepadanya. "Ja-jadi, Tuan Malik kesal padaku karena Angga sudah merenggut nyawa istrinya. Benar 'kan?"
Arini mengangguk pelan.
"Astaga! Apakah aku harus memohon maaf kepada Tuan Malik agar ia tidak membenciku?"
"Mungkin bisa kamu coba. Nanti aku bantu bicara dengannya dan semoga saja Tuan Malik bisa mengerti," ucap Arini.
"Ya, sepertinya begitu."
Ruangan itu mendadak hening. Baik Arini maupun Suci sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti tepat di depan kontrakan Arini.
"Sepertinya itu Mas Hendra," ucap Arini.
"Oh, ya. Kalau begitu aku pulang dulu. Selamat bersenang-senang," sahut Suci.
Arini dan Suci bergegas menuju teras dan ternyata benar, Hendra sudah tiba di kontrakan Arini dan siap menjemputnya.
"Wah, kamu tampan sekali, Mas," goda Suci sambil memperhatikan penampilan Hendra.
__ADS_1
"Ah, kamu bisa aja. Tapi, terima kasih," jawab Hendra tampak malu-malu.
"Ya, sudah. Aku pamit. Dah!" Suci pun kembali ke kontrakannya sambil melambaikan tangan kepada Arini dan Hendra.
Setelah mengunci pintu rumahnya, Arini pun segera masuk ke dalam mobil milik Hendra. "Nanti aku ikut ke rumahmu ya, Mas. Aku kangen sama Azkia, sama Bu Ria juga."
"Ok, sipp! Kalo Bu Nining?"
"Bu Nining juga. Aku mau kasih sedikit rejeki buat Bu Nining." Arini pun tersenyum.
Hendra menatap bangga kepada Arini. Ya, walaupun antara dirinya dan Bu Nining sudah tidak punya hubungan apapun lagi, tetapi wanita itu tidak pernah absen memberikan sedikit rejekinya untuk mantan Ibu mertuanya itu.
"Kamu memang yang terbaik, Arini."
Arini terkekeh pelan. "Apaan, sih?"
Tidak berselang lama, Hendra menghentikan mobilnya tepatnya di depan sebuah restoran mewah. Arini tampak terkejut karena ini pertama kalinya ia menjejakkan kakinya si tempat mahal seperti itu.
"Loh, Mas tidak salah tempat ini?" tanya Arini heran.
"Tidak. Ini benar, kok." Hendra tersenyum kemudian mempersilakan Arini untuk melangkah di sampingnya.
"Mas, sekali kita makan di sini, kita bisa makan berkali-kali di rumah makan yang biasanya kita kunjungi," ucap Arini dengan setengah berbisik kepada lelaki itu.
"Tidak apa, sekali-sekali. Lagi pula ini adalah hari yang spesial buatku."
"Benarkah? Apa hari ini ulang tahunmu, Mas?" tanya Arini heran.
Hendra hanya tersenyum, tetapi lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Arini dan terus menuntunnya hingga duduk di sebuah meja kosong yang memang sudah ia pesan sebelumya.
__ADS_1
...***...