Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 74


__ADS_3

Arini baru saja pulang bekerja dan ketika ia membuka kunci pintu kontrakannya, tiba-tiba ia mendengar suara Suci menyapanya dari belakang.


"Arini, bagaimana tadi di butik? Semua baik-baik saja, 'kan?"


Arini pun berbalik dan ternyata benar, di belakangnya berdiri sosok sahabatnya itu sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuknya.


Saat itu Suci baru saja selesai berbelanja di warung dekat kontrakan Arini. Terlihat dari kantong kresek transparan yang berisi beberapa sachet shampoo kemasan dan beberapa peralatan mandi lainnya seperti sabun dan pasta gigi.


"Eh, kamu, Suci. Ya, semua baik-baik saja. Oh ya, Nyonya Arniz begitu mengkhawatirkan keadaanmu. Beliau takut mantan suamimu akan berulah lagi. Ngomong-ngomong soal mantan suamimu, dia tidak menemuimu lagi, 'kan?" tanya Arini kemudian.


Suci menggelengkan kepalanya perlahan. "Ya, aku sangat bersyukur karena lelaki itu tidak menemuiku hari ini dan semoga saja dia tidak mempunyai keinginan untuk menemuiku lagi."


"Aamiin." Arini pun tersenyum. "Mari masuk, Suci. Kita minum-minum dulu," ajak Arini kemudian.


"Ehm, terima kasih, Arini. Mungkin nanti, soalnya aku belum mandi, badanku sudah penuh dengan keringat. Ternyata membereskan rumah yang seperti kapal pecah benar-benar membutuhkan tenaga ekstra," jawab Suci sambil tersenyum kecut.


"Baiklah, tapi lain kali kamu tidak boleh menolak, ya!"


"Ya, aku janji!" Suci melambaikan tangannya kemudian kembali melenggang menuju kontrakannya. Begitu pula Arini, ia pun bergegas masuk ke dalam rumahnya.


Setibanya di kontrakannya, Suci bergegas mandi. Karena saat itu ia benar-benar merasa gerah setelah seharian berjibaku merapikan rumahnya yang seperti kapal pecah akibat perbuatan mantan suaminya.

__ADS_1


Di saat Suci tengah menikmati ritual mandinya, ia tidak sadar bahwa ada seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Lelaki itu mengintip ke dalam rumah Suci melalui kaca yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu.


Tok tok tok!


Lelaki itu menggedor-gedor pintu rumah Suci dengan sangat keras. Dan bukan hanya itu, lelaki itu juga berteriak-teriak memanggil namanya.


"Suci, buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam! Aku bilang buka, buka!" teriaknya dengan lantang.


Deg!


"Mas Angga!" gumam Suci dengan mata membulat sempurna. Teriakkan mantan suaminya itu terdengar hingga ke telinga Suci yang sedang berada di kamar mandi.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku takut," gumamnya lagi sembari meraih sebuah handuk yang menggantung di pintu kamar mandinya. Dengan tangan yang bergetar, Suci melilitkan handuk tersebut ke tubuhnya.


Suci yang kini berdiri di ruang depan, ingin sekali mencoba mengacuhkan ancaman lelaki tersebut. Namun, jika ia teringat akan pengrusakan yang dilakukan oleh lelaki itu tadi malam, ia pun mengurungkan niatnya.


Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih menakutkan lagi dengan kontrakan yang ia tempati tersebut. Bisa-bisa ia akan mengganti kerugian yang sangat besar nantinya.


"Ba-baik, Mas. Tu-tunggu sebentar," sahut Suci dengan gemetar.


Suci pun dengan terpaksa menghampiri pintu tersebut kemudian membuka kuncinya. Wanita itu semakin ketakutan saat ia harus bertatap mata dengan lelaki yang selama ini selalu ia hindari.

__ADS_1


Apa lagi saat itu Angga menyeringai menatapnya dari ujung rambut ke ujung kaki. Tubuh polos Suci yang hanya tertutup handuk membuat pikiran kotor Angga berkelana ke mana-mana. Lelaki itu bahkan sampai menelan salivanya dengan susah payah.


"Ma-mau apa lagi Mas menemuiku?" Suci memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki itu.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Suci, Angga menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Bahkan lelaki itu sempat menabrak tubuh kecilnya hingga terhuyung beberapa centi ke belakang.


"Saat ini aku butuh uang, Suci. Aku berjanji akan mengembalikannya nanti jika aku sudah mendapatkan pekerjaan," jawabnya sambil menjatuhkan diri ke sebuah sofa yang ada di ruang depan.


"Maaf, Mas! Tapi aku sudah tidak bisa meminjamkan uang untuk Mas Angga lagi. Apa Mas sudah lupa? Mas sudah sering meminjam uang kepadaku dan bahkan jumlahnya sudah tidak terhitung. Namun, sampai sekarang Mas tidak pernah membayarnya barang satu rupiah pun!" kesal Suci.


Ekspresi wajah Angga berubah setelah mendengar ucapan Suci barusan. Ia melirik ke arah Suci dengan tatapan tajam dan seolah ingin menerkamnya hidup-hidup.


"Oh ... bagus, ya! Sekarang kamu sudah punya nyali melawanku?"


Angga bangkit dari posisi duduknya kemudian berjalan menghampiri Suci yang masih berdiri mematung di ruangan itu, dengan wajah pucat pasi akibat ketakutan yang ia rasakan.


"Coba kamu katakan sekali lagi! Aku ingin dengar lebih jelas lagi, Suci!" tegas Angga yang kini sudah berdiri di hadapannya.


Karena ketakutan yang amat sangat, Suci pun menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak, Mas. Maafkan aku," sahut Suci.


"Bagus! Sekarang berikan aku uangmu! Aku sangat butuh uang sekarang ini," ucap Angga lagi dengan penuh penekanan.

__ADS_1


***


__ADS_2