
Baru saja Tuan Malik menginjakkan kaki di kediaman mewahnya, ternyata ia sudah kedatangan tamu. Tia bersama anak perempuannya, Putri yang baru berusia 4 tahun.
"Tia?"
"Ayah."
Tia bergegas menghampiri Tuan Malik kemudian bersalaman dengannya. Begitu pula si kecil Putri, ia meniru apapun yang dilakukan oleh Tia.
"Kamu semakin cantik saja, Put," ucap Tuan Malik sembari mengelus lembut puncak kepalanya.
"Terima kasih, Opa."
"Ayah, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Tia dengan wajah serius menatap Tuan Malik.
"Sebaiknya kita bicara di dalam saja."
Tuan Malik mengajak Tia dan Putri masuk ke dalam rumahnya kemudian mempersilakan mereka duduk di sofa ruang utama.
"Sebenarnya ada apa, Tia?" tanya Tuan Malik sembari menjatuhkan dirinya di sofa.
"Ayah. Aku dengar-dengar kamu akan menikah lagi dalam waktu dekat ini. Apakah itu benar?" tanya Tia dengan tatapan tajam tertuju pada Tuan Malik.
__ADS_1
Tuan Malik menghela napas panjang kemudian tersenyum kepada anak angkat mendiang istrinya itu. "Ya, Tia. Sebentar lagi aku akan menikah."
"Apa! Ja-jadi gosip itu benar?!" pekik Tia dengan terbata-bata. Matanya membulat, ia begitu syok mendengar pengakuan Ayah angkatnya barusan.
"Ya, itu benar."
"Ayah, aku tidak habis pikir, Ibu baru saja meninggal dan bahkan makan Ibu saja belum kering. Namun, di sini Ayah sudah merencanakan pernikahan bersama wanita lain. Apa Ayah tidak memikirkan apa yang akan dikatakan oleh orang-orang, Yah!" protes Tia.
Tia mendengus kesal kemudian kembali melanjutkan pertanyaannya. "Siapa wanita itu?"
"Tia, sebenarnya ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Pernikahan ini--" Belum selesai Tuan Malik bicara, Tia sudah menyela ucapannya.
"Aku tanya, siapa wanita itu?" tegas Tia sambil menatap wajah Tuan Malik dengan serius.
"Ya, Tuhan!" Tia mengusap kepalanya dengan kasar. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata calon istri baru Ayah angkatnya itu adalah salah satu karyawan yang bekerja di butik.
"Entah kenapa, tiba-tiba saja terpikir olehku bahwa Ayah dan wanita itu sudah menjalin hubungan sebelum Ibu meninggal dunia," celetuk Tia dengan rasa penasaran yang amat sangat.
"Ya Tuhan. Tia, cukup!" tegas Tuan Malik. Ini pertama kalinya lelaki itu berdebat dengan anak angkat mendiang istrinya itu.
"Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak tentangku dan juga Arini. Kamu tidak tahu bagaimana cerita yang sebenarnya di balik pernikahan ini. Aku dan Arini terpaksa menyetujuinya karena ini adalah permintaan terakhir dari mendiang Ibumu sendiri, Tia."
__ADS_1
Tuan Malik mencoba meyakinkan Tia. Namun, sepertinya hal itu hanya sia-sia saja. Wanita itu tampaknya tidak percaya dengan penjelasan yang keluar dari bibir Tuan Malik. Ia tetap yakin bahwa antara Tuan Malik dan Arini memang terjalin hubungan yang spesial, bahkan sebelum mendiang Nyonya Arniz meninggal dunia.
"Maafkan aku, Ayah. Tapi aku tidak percaya," tegas Tia, tidak mau kalah.
Tuan Malik menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya kembali. "Percaya atau tidak percaya, aku rasa itu bukan urusanku. Yang penting aku sudah menceritakan yang sebenarnya kepadamu," ucap Tuan Malik.
"Ayah, aku minta maaf jika menurutmu aku begitu lancang. Tapi, jika Ayah tetap bersikeras menikah dalam waktu dekat, aku minta butik Zhanita Collection biar aku yang pegang. Aku tidak ingin usaha yang sudah dirintis oleh Ibu sejak dari nol malah jatuh ke tangan orang lain," tegas Tia dengan wajah serius menatap Tuan Malik.
Tuan Malik menghembuskan napas berat sambil memijit kepalanya. Ia mengerti apa maksud dari ucapan Tia barusan. Tia tidak ingin usaha yang dirintis oleh Nyonya Arniz sejak masih single, harus jatuh ke tangan Arini yang notabenenya bukan siapa-siapa. Sementara Tia memiliki hubungan darah dengan Nyonya Arniz.
"Baiklah kalau itu maumu, Tia. Lagi pula aku tidak punya hak atas butik itu. Sebab butik itu sepenuhnya milik mendiang Arniz."
Setelah mendengar jawaban dari Tuan Malik, Tia pun merasa lebih tenang. Ia bangkit dari posisi duduknya kemudian menarik pelan tangan Putri, anak perempuannya yang sejak tadi duduk di sampingnya sambil bermain ponsel.
"Sebaiknya kita pulang, Putri. Lagi pula kita tidak bisa berlama-lama karena Oma sudah tidak ada di sini.," ucap Tia kepada Putri.
"Kenapa Mommy bilang begitu? Kan masih ada Opa di sini. Benar 'kan, Opa?" protes si kecil Putri sembari tersenyum kepada Tuan Malik.
"Ya, kamu benar, Sayang. Kamu bisa mengunjungi Opa di sini, kapanpun kamu mau," sahut Tuan Malik seraya membalas senyuman Putri.
"Ayo, kita pulang!" ajak Tia yang kemudian menuntun Putri bersamanya, keluar dari rumah mewah itu. Sementara Tuan Malik hanya bisa memperhatikan mereka yang berjalan menjauhinya. Tuan Malik melambaikan tangan ke arah Putri yang sejak tadi tersenyum kepadanya.
__ADS_1
...****************...