
Beberapa minggu kemudian, di kediaman Dodi dan Bu Nining.
"Anissa!" panggil Bu Nining kepada Anissa yang kini melenggang menuju halaman depan. Wanita itu sudah siap pergi bekerja, sama seperti pagi-pagi sebelumnya.
Ck! Anissa menghentikan langkahnya sambil berdecak sebal. Ia berbalik dan kini berdiri di hadapan Bu Nining yang sedang menggendong Azkia.
"Apa lagi sih, Bu?" kesalnya sambil menyilangkan tangan ke dada.
"Tidak bisakah kamu libur barang sehari? Azkia sedang tidak enak badan, Nis. Coba kamu sentuh keningnya, dia demam," tutur Bu Nining dengan wajah cemas.
Lagi-lagi Anissa memutarkan bola matanya dengan malas setelah mendengar ucapan Bu Nining. Wanita itu merogoh ke dalam tas kecil yang selalu ia tenteng ke mana-mana kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dengan berbagai macam warna.
"Nih, ambil. Bawa saja Azkia ke Puskesmas atau beli obat penurun panas di apotik. Dan maaf, aku tidak bisa libur. Kalau aku libur, itu artinya uang gajiku pun akan dipotong juga dan aku tidak mau itu," ketus Anissa kemudian sembari menyerahkan uang itu ke tangan Bu Nining.
Setelah menyerahkan uang itu, Anissa pun kembali meneruskan langkahnya, meninggalkan Bu Nining dan Azkia di ruangan tersebut. Bu Nining hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil mengelus lembut puncak kepala Azkia.
"Dasar wanita tidak tahu diri!" kesal Bu Nining. "Dia memang tidak pantas dipanggil Ibu, tidak seperti Arini. Ia bahkan begitu tulus merawat Azkia padahal Azkia bukanlah anak kandungnya, tetapi kamu!"
__ADS_1
Ketika Bu Nining masih menggerutu, Dodi yang baru saja keluar dari kamarnya, segera menghampiri dan berdiri di samping Bu Nining. "Ada apa lagi sih, Bu?"
"Coba lihat kelakuan istri mudamu! Ia bahkan tidak peduli pada Azkia yang sedang sakit," kesal Bu Nining sambil memperhatikan Anissa dari kejauhan.
Dodi pun ikut melihat ke arah Anissa. Ia memperhatikan penampilan Anissa yang semakin hari, semakin terbuka. Dodi sudah sering memperingatkan Anissa soal pakaiannya tersebut. Namun, Anissa tidak pernah sekali pun menggubris perkataannya dan sekarang Dodi sudah mulai putus asa dan membiarkan wanita itu melakukan apapun yang ia inginkan.
Kini tatapan Dodi kembali ke Azkia. Ia menyentuh kening anak perempuannya itu dengan perlahan agar bayi mungil itu tidak terbangun. Dan ternyata apa yang dikatakan oleh Bu Nining benar. Saat itu Azkia sedang demam dan suhu tubuhnya terasa hangat.
"Sejak kapan Azkia demam, Bu?" tanya Dodi kepada Bu Nining yang masih terlihat kesal kepada menantunya itu.
"Beberapa hari yang lalu Azkia juga demam, Dod. Setelah dikasih obat penurun demam, suhu tubuhnya kembali normal. Tapi sekarang kembali lagi dan entah kenapa Ibu merasa cemas, takut terjadi sesuatu kepada Azkia," tutur Bu Nining.
Walaupun hati Bu Nining masih ragu, tetapi ia mencoba percaya dengan apa yang diucapkan oleh Dodi barusan. "Ya, sudah kalau begitu."
Bu Nining dan Dodi pun tiba di dapur kemudian memulai sarapan mereka. Setelah sarapan pagi mereka selesai, Dodi pun segera pamit dan berangkat ke kantornya dengan menggunakan motor matic.
Sepeninggal Dodi, kondisi Azkia bukannya membaik, suhu tubuh bayi mungil itu malah semakin meningkat. Azkia semakin rewel dan membuat Bu Nining jadi kewalahan. Di saat seperti itu, ia kembali teringat akan Arini. Dulu saat Azkia sakit, Arini pun panik sama seperti dirinya saat ini.
__ADS_1
Bu Nining juga ingat bagaimana dirinya menolak membantu Arini yang saat itu tengah kebingungan. "Ya, Tuhan! Karma benar-benar sudah berbalik kepadaku. Dulu Arini datang dan mengiba kepadaku. Bukannya kasihan, aku malah menghardiknya dengan kasar. Namun, sekarang aku merasakan bagaimana berada di posisinya," gumam Bu Nining dengan wajah panik.
Karena sudah merasa kewalahan, Bu Nining pun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk meminta bantuan kepada Bu Ria. Dengan langkah cepat, Bu Nining menuju kediaman wanita tersebut. Setibanya di depan rumah Bu Ria, Bu Nining pun segera mengetuk pintunya.
"Bu! Bu Ria?" panggil Bu Nining dengan wajah yang semakin panik karena Azkia sudah terlihat melemah.
Mendengar suara panggilan Bu Nining dari luar, Bu Ria pun bergegas membukakan pintu untuk wanita tersebut.
"Bu Nining? Ada apa ya, Bu?" tanya Bu Ria dengan wajah heran setelah melihat ekspresi Bu Nining saat itu.
"Tolong bantu saya, Bu Ria. Azkia sakit dan tubuhnya semakin melemah saja," pekik Bu Nining sambil menitikkan air matanya.
Bu Ria memperhatikan si kecil Azkia yang sedang berada di gendongan Bu Nining dan apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya tersebut ternyata benar. Azkia tampak lemah dan wajahnya pun memucat.
"Sebaiknya bawa ke Rumah Sakit saja, Bu. Mari, biar saya temani!" sahut Bu Ria.
Bu Ria meminta tetangganya yang lain untuk membantu Bu Nining dan membawa mereka ke Rumah sakit. Beruntung tetangga sebelah rumah Bu Ria baik dan bersedia membantu mereka.
__ADS_1
...***...