
Akhirnya Tia tiba di rumahnya dengan menggunakan sebuah ojek online berseragam warna hijau yang ia pesan lewat ponsel. Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan orang pertama yang ingin ia temui adalah gadis kesayangannya, Putri.
"Put! Putri, kamu di mana, Nak?" panggil Tia dengan setengah berteriak.
"Mommy!"
Tiba-tiba Putri muncul dari arah kamar dengan berlari cepat. Wajahnya tampak ketakutan dan ia segera memeluk tubuh Tia.
"Loh! Kamu kenapa, Put?" pekik Tia yang kemudian berjongkok menatap wajah Putri yang ketakutan.
"Mom, Daddy --"
Belum sempat Putri menjawab, tiba-tiba Toni melewati mereka dengan wajah memerah. Jangankan menyapa, melirik pun tidak. Lelaki itu terus melangkah keluar dari rumah kemudian menuju mobilnya.
"Mas! Mas Toni!" Tia berlari kecil menyusul Toni yang kini sudah berada di halaman depan rumahnya. Sama seperti sebelumnya, Toni lagi-lagi tidak menggubris Tia dan terus masuk ke dalam mobil.
Tia terdiam di teras sembari memperlihatkan mobil Toni yang kini melaju, meninggalkan kediaman mereka.
"Mas Toni kenapa lagi, sih? Kenapa aku selalu saja salah di matanya?" gumam Tia sambil meremass-remass kedua tangannya secara bergantian.
Setelah Toni menghilang dari pandangannya, Tia pun kembali masuk dan menemui Putri yang sedang duduk di sofa ruang televisi. Anak perempuan itu masih terlihat ketakutan. Tubuhnya bergetar dan wajahnya pun memucat.
Tia duduk di samping Putri kemudian memeluknya. "Kamu kenapa, Nak? Daddy memarahimu, ya?"
__ADS_1
Putri mengangguk. "Daddy mengamuk, Mom. Kamar Mommy dan Daddy pun diberantakin. Coba deh Mommy lihat sendiri."
Tia melerai pelukannya bersama Putri. "Benarkah? Memangnya apa yang dilakukan oleh Daddy hingga kamar Mommy diberantakin?"
Putri menggelengkan kepala. "Putri tidak tahu, Mom."
Tia bergegas bangkit dan di susul oleh Putri. Mereka berjalan beriringan menuju kamar utama, kamar milik Tia dan Toni. Setibanya di kamar tersebut, ternyata benar. Kamar itu berantakan sekali dan membuat Tia begitu syok melihatnya.
"Oh, ya, ampun! Sebenarnya apa yang dicari oleh Mas Toni? Kenapa kamar ini diberantakin lagi?"
Mau tidak mau, Tia pun terpaksa membereskan kekacauan itu dengan dibantu seorang pelayan.
Beberapa hari kemudian.
Bukan hanya itu, bahkan uang simpanan di bank pun habis tak bersisa. Sekarang Toni malah menghilang tanpa jejak. Nomor ponsel lelaki itu sama sekali tidak aktif setelah pertemuan terakhir mereka beberapa hari yang lalu.
"Mas Toni. Kamu di mana, Mas?" lirih Tia dengan mata berkaca-kaca.
Di tengah kegalauannya, tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi dan membuyarkan lamunan Tia. Wanita itu bergegas bangkit kemudian berjalan menuju pintu depan.
"Ya, sebentar!" ucap Tia dengan setengah berteriak.
Perlahan Tia membuka pintu dan kini tampaklah siapa tamunya. Beberapa orang laki-laki dengan berperawakan tinggi besar berdiri tepat di hadapan Tia. Wajah mereka yang sangar dan menakutkan, membuat Tia ketakutan.
__ADS_1
"Ma-maaf, kalian siapa, ya? Dan mau apa?"
Salah satu dari lelaki sangar itu mengeluarkan selembar kertas kemudian menyerahkannya kepada Tia.
"Kami ditugaskan untuk mengosongkan rumah ini. Tanah, rumah beserta isinya sudah menjadi hak milik juragan kami, juragan Kasim. Sebaiknya Anda dan yang lainnya segera keluar dengan tangan kosong, tanpa membawa apa pun yang ada di rumah ini."
Tubuh Tia bergetar hebat. Apalagi setelah membaca isi dari selembar kertas yang diserahkan oleh lelaki sangar itu kepadanya. Mendadak buliran bening itu pun mengalir begitu saja dari kedua pipinya. Ia tidak pernah menyangka bahwa ternyata Toni tega menjual satu-satunya harta milik Tia yang tersisa.
"Ka-kalian pasti sedang berbohong, bukan? Tidak mungkin Mas Toni menjual rumah ini tanpa sepengetahuanku," lirih Tia.
"Apakah Anda sudah buta hingga tidak bisa melihat tanda tangan suami Anda di sini?"
Lelaki sangar itu menunjuk ke arah tanda tangan milik Toni yang menyatakan bahwa tanah, rumah, serta isinya sudah dijual dsn berpindah tangan ke tangan juragan Kasim. Sang rentenir paling terkenal di tempat itu.
Lelaki sangar yang saat ini berdiri tepat di hadapan Tia memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke dalam rumah tersebut dan mengeluarkan semua penghuninya. Mereka pun bergegas masuk dan tidak butuh waktu lama, tampak Putri dan seorang pelayan digiring oleh para lelaki sangar tersebut.
"Mommy," pekik Putri yang ketakutan.
Ia menghambur ke dalam pelukan Tia lalu menangis di sana. "Mom, Putri takut."
"Tidak apa, Nak. Tidak apa," sahut Tia mencoba menenangkan Putri.
Setelah memastikan bahwa rumah itu sudah kosong, para lelaki sangar itu pun segera mengunci rumah tersebut sekaligus mengusir Tia dan Putri dari tempat itu.
__ADS_1
...***...