Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 81


__ADS_3

"Aku masih di tempat kerja dan saat ini pengunjung masih sangat ramai, Mas. Tuan pemilik rumah makan ini pasti tidak akan mengizinkan aku pulang. Sebaiknya Mas jaga aja Azkia, sementara aku akan mencoba bicara kepada Tuan pemilik rumah makan ini. Jika nanti aku sudah mendapatkan izin dari beliau, maka aku akan segera menuju ke sana," ucap Anissa dengan setengah berbisik.


Anissa memperhatikan ke dalam kamar dan ia sedikit tenang setelah melihat Bram masih berbaring di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Anissa tidak ingin lelaki itu tahu bahwa dirinya sedang bicara bersama Dodi yang masih berstatus suaminya.


Sebenarnya Bram adalah lelaki pemilik rumah makan di mana Anissa bekerja. Dan Anissa sendiri mengaku berstatus janda kepada lelaki itu. Setelah berhasil menjadi wanita simpanan Bram, Anissa pun sudah tidak perlu lagi susah payah bekerja sama seperti karyawan lainnya di rumah makan tersebut.


Cukup dengan menuruti keinginan Bram, termasuk memuaskan hasratnya di atas tempat tidur, maka semua kebutuhan Anissa akan dipenuhi oleh lelaki itu.


Dodi semakin kesal mendengar jawaban Anissa. Gerahamnya bahkan terdengar bergeretak dan tangannya yang mengepal sempurna sempat meninju tiang penyangga bangunan Rumah Sakit.


"Tidak mungkin tuan pemilik rumah makan tersebut tidak mengizinkanmu pulang di saat genting seperti ini, Anissa. Apa lagi yang sedang sakit saat ini adalah anakmu! Darah dagingmu! Jika ia benar-benar menolak, itu artinya Bossmu itu biad*b! Tidak punya hati nurani sama sekali," kesal Dodi.


"Ish!" Anissa pun ikut kesal. "Mas tunggu saja sebentar lagi. Jika dalam satu jam aku tidak juga mendapatkan izin, Mas bisa jemput aku di Rumah Makan Idaman," ucap Anissa yang kemudian segera memutuskan panggilan dari Dodi saat itu.


"Sialan!" Dodi kembali meluncurkan kepalan tinjunya. Namun, kali ini hanya meluncur ke udara dan bukan ke tiang penyangga bangunan.

__ADS_1


Sementara Anissa kembali ke kamar. Ia menyunggingkan sebuah senyuman hangatnya ke arah Bram yang ternyata juga sedang menatapnya dengan tatapan nakal. Lelaki itu bahkan sampai menjulurkan lidahnya, menyapu air liur yang menetes saat menatap tubuh indah milik Anissa, seolah Anissa adalah makanan enak yang siap disantap.


"Cepatlah, Anissa! Mas sudah kebelet ini. Pokoknya hari ini kita main sampai kamu lemas dan tak berdaya. Karena Mas sudah minum obat kuat, sekuat kuda jantan! Bisa tahan hingga beberapa ronde. Kalau perlu 24 jam full non stop, bagaimana?" ucap Bram sambil menyeringai menatap Anissa yang kini menghampirinya sambil melepaskan kimono yang tadi menutupi tubuh polosnya.


"Ehm, boleh saja. Sampai aku lemes ya, Sayang! Jangan bohong, loh." Anissa membalas kerlingan nakal Bram dan ikut menjulurkan lidahnya, sama seperti yang dilakukan oleh lelaki tua itu.


"Gila! Dasar bandot tua sialan! Bisa-bisa Miss-ku lecet kalau diubek terus olehnya," gerutu Anissa dalam hati. "Semoga saja dia lemes duluan agar aku bisa cepat pulang! Kalau tidak, Mas Dodi akan semakin marah kepadaku!" lanjutnya, masih bergumam dalam hati.


Walaupun Anissa kesal, tetapi demi tuntunan hidupnya, apapun akan dilakukan oleh wanita itu. Termasuk menjadi pemuas hasrat lelaki tua tersebut.


"Kamu lihat 'kan, Sayang. Ade Mas itu selalu On dan siap menggoyang punyamu hingga lemas!" bisik nya di samping telinga Anissa. Bram menuntun tangan Anissa agar menggerakkan tangannya secara turun dan naik. Memberikan pemanasan kepada juniornya.


"Tentu saja 'On' terus, lah dia 'kan sengaja dikasih penguat! Coba kalau tidak, aku bahkan tidak percaya bahwa benda kecil dan pendek ini bisa aktif," batin Anissa.


Anissa yang memang sudah sangat berpengalaman, segera melakukan apa yang diinginkan oleh lelaki itu. Menaik-turunkan tangannya dan sesekali memperlakukannya layaknya es krim.

__ADS_1


Terdengar suara lenguhan dan dessahan dari lelaki tua berperut buncit tersebut. Ia begitu menikmati permainan yang diciptakan oleh Anissa kepada juniornya.


Kembali ke Rumah Sakit.


Baru saja Dodi menyimpan kembali benda pipih tersebut ke dalam saku kemejanya, tiba-tiba seorang Dokter bersama beberapa orang perawat masuk ke dalam ruangan Azkia. Dodi pun segera menyusul dan ingin tahu penjelasan Dokter tentang penyakit yang di derita oleh Azkia saat ini.


Setelah masuk ke dalam ruangan tersebut, Dokter segera menghampiri Bu Nining dan Bu Ria yang masih duduk di samping tempat tidur Azkia.


"Ibu neneknya Dede bayi ini?" tanya Dokter kepada Bu Nining.


Bu Nining pun mengangguk dengan cepat dan wajahnya terlihat semakin memucat saja. "Ya, Dok. Saya neneknya Azkia Permana, bayi mungil ini. Memangnya ada apa, Dok?" tanya Bu Nining.


Dokter menghembuskan napas berat. "Dari hasil tes darah yang kami lakukan, ternyata bayi Azkia mengidap penyakit Demam Berdarah Dengue atau DBD. Dan saat ini Bayi Azkia membutuhkan transfusi darah."


"Apa! DBD, Dok?" pekik Dodi yang sejak tadi sudah berdiri di belakang Dokter. "Ehm, Dok. Saya bersedia menjadi pendonor untuk anak saya," lanjut Dodi kemudian.

__ADS_1


***


__ADS_2